Pak Anton, satpam keluarga Leonald kaget bukan kepalang dikala melihat anak kedua majikannya tidur di depan gerbang. Dia merasa bersalah tidak membukakan tuan mudanya gerbang masuk.
"Den, aden. Den Aksa, bangun den. Udah pagi." Pak Anton menepuk pundak Aksa, dia membuat mata yang tadinya terpejam perlahan terbuka.
"Enggg..." Aksa meregangkan otot-otot tangannya yang kaku. Dia meraba-raba samping kanan dan kirinya, matanya yang masih sedikit mengantuk, tidak bisa untuk di buat melihat dengan jelas.
"Aden nyari tongkat aden? Ini den," Pak Anton memberikan tongkat yang berada di depannya kepada Aksa.
"Terimakasih." Aksa berjalan masuk kedalam rumahnya. Suasana rumah sangat ramai dengan candaan kedua orang tua dan abangnya.
"Bisa pulang juga kamu, Sa? Kirain gak bisa." Sinis Intan, dia melirik putra keduanya dengan tatapan menyebalkan. Aksa hanya diam dengan kaki yang terus mencoba menaiki anak tangga satu-persatu.
"Telinga kamu tuli? Diajak mamanya bicara tapi malah melenggang pergi begitu saja." Sindir Danil, Aksa tidak perduli. Dia masuk kedalam kamarnya, setelah membersihkan diri dan memakai seragam sekolahnya, Aksa berjalan menuruni tangga. Dia melewati Arga yang sedang berpamitan kepada kedua orang tuanya begitu saja. Tatapan sendu jelas Pak Anton dan Arga tunjukkan kepada Aksa.
"Malang sekali nasibmu, Nak. Padahal kamu memiliki kedua orang tua yang sangat kaya raya, tapi kehidupan yang kamu jalani sekarang ini sangat menyedihkan." Pak Anton membuka pintu lebar-lebar untuk mobil Arga. Aksa duduk di halte, dia terlihat santai menunggu Bus, hingga...
Tit..., Tit...
"Woy bro, ayo naik! Ngapain bengong di situ?" Karel mengklakson Aksa menggunakan klakson mobilnya. Lelaki yang sedang melepas kaca mata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya menghampiri Aksa dengan tersenyum lebar.
"Tumben lo bawa mobil?" Wajar jika Aksa heran dengan Karel yang tiba-tiba membawa mobil saat dia pergi ke sekolah. Biasanya Karel jika pergi ke sekolah lebih suka membawa motor. Karena bagi dirinya, jika dia membawa mobil, pasti dia akan terkena mancet jalanan ibu kota.
"Gue kan pengertian. Gue tahu lo pasti sedang nunggu Bus di sini. Jika gue bawa motor ke sekolah, terus lo gimana? Kaki lo kan sakit." Aksa menonjok pelan pundak Karel. sahabatnya ini memang yang terbaik.
"Haaa...., ada-ada aja lo." Aksa berjalan tertatih menuju mobil Karel. Tidak jauh dari tempat Karel dan Aksa berdiri, Arga melihat interaksi keduanya. Dia bersyukur karena adiknya mempunyai sahabat sebaik Karel dan Raka.
Mobil Karel mau pun Arga melaju kencang menembus ramainya kota jakarta.
Sedikit lagi gerbang sekolah akan di tutup, Karel dan Arga memacu gas mobilnya, Hingga....
Plok..., Plok...
Suara riuh tepuk tangan terdengar menggelegar. Sedangkan satpam sekolah mereka sudah hampir mati jantungan karena terkejut dengan kedatang keduanya yang melaju kencang menggunakan mobilnya.
"Dasar semprul!!" Maki satpam sekolah mereka, sambil mengusap dadanya.
🔹🔹🔹
Mona sedang duduk gusar ketika mendengar cerita antuasis dari Iren yang kemarin malam bertemu dengan Aksa di galery lukis kakaknya.
"Yaampun Mon, gue sampai kagum dengan lukisan dia. Pokoknga the best deh." Iren senyam-senyum sendiri ketika dia membayangkan tengah duduk di depan Aksa, dan Aksa melukis wajahnya yang tengah tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSA ( Complite)
Teen FictionAKSA LEONALD!! Cowok itu memiliki arti sebuah mata. Seperti artinya yang sangat indah, Aksa Leonald adalah cowok tampan yang memiliki sejuta pesona. Aksa memiliki kegemaran yang tidak semua orang tahu, yaitu melukis. "Kata orang cinta itu indah, tap...
