Kemarin Aksa ketiduran di danau hingga larut malam. Seperti biasa, sampai di rumah dia langsung di sambut ocehan kedua orang tuanya.
Pagi ini Aksa berangkat menggunakan motornya, motor yang sama dengan motor milik Arga. Motor ini hadiah dari mendiang kakeknya ketika 2 tahun lalu.
Sebelum kakeknya meninggal, dia sempat menghadiri acara ulang tahun Arga dan Aksa. Tapi lebih tempatnya ulang tahun Arga. Aksa hanya sebagai pelengkap keluarga disana.
Singkat cerita. Sekarang ini adalah jam istirahat sekolah. Aksa, Karel, Raka, dan lainnya sedang makan di kantin. Hal yang bikin Raka bingung adalah Aksa dan Karel. Mereka tidak saling bicara sedari tadi. Walau memang kebiasaannya begitu, hanya Raka yang cerewet, tapi hari ini berbeda.
Raka menatap Kedua temannya bergantian. Mereka memakan makanannya dalam diam.
"Stop ngelihatin gue kayak gitu." Karel angkat bicara. Membuat Raka salah tingkah.
"He..., sorry Bro. Lo sama Aksa kenapa? Kok tumben diam?" Raka mencoba mengutarakan kebingungannya kepada kedua temannya.
"Gak kenapa-napa. Biasanya gimana?" Sahut Aksa, dia menelan makanannya dengan malas.
"Emang lo bacotan terus." Tambah Karel. Sebenarnya Karel juga bingung, kenapa Aksa hari ini seperti menghindarinya?
"Biasanya kalian ngomongin soal geng motor, basket, atau..."
"Aksa...." Mona datang-datang langsung memeluk Aksa. Membuat semua penjuru mata menatapnya.
"Singkirin tangan lo dari leher gue." Suruh Aksa, tanpa bergerak.
"Tapi..."
"Lo tuli?! Singkirin tangan lo dari leher gue bodoh!!" Aksa berdiri dan langsung manatap Mona tepat di kedua iris mata cewek itu.
"Lo tahu?" Aksa menyondongkan badannya di depan Mona. Bibirnya tertarik keatas ketika melihat Mona menggelengkan kepalanya, lemah.
"Di mata gue lo itu hanya bahan pelampiasan gue di saat kekasih gue pergi. Dan perlu lo tahu tentang diri gue," Aksa menarik tubuhnya, tangannya menyugar rambutnya kebelakang.
"Gue hanya mencintai satu perempuan selama gue hidup di dunia ini. Yaitu Chindy Lard." Aksa berbisik di telinga Mona ketika dia menyebut nama sang kekasih.
"Lo itu tidak ada apa-apanya dari dia. Lo..."
"Bacot!! Dasar bajingan lo, Sa." Karel memukul wajah dan perut Aksa membabi buta. Namun sama sekali Aksa tidak membalas untuk memukul Karel.
"Gue memang brengsek, gue bajingan, gue iblis. Tapi satu, gue tidak penghianat!!" Aksa menekan kata penghianat. Membuat Karel semakin naik pintam.
"Apa maksud lo, Hah?!" Karel kembali memukul wajah Aksa. Hingga darah segar menetes begitu saja lewat sudut bibir Aksa.
"Gue memang brengsek, tapi gue belum pernah nikung pacar teman sendiri. Dan perlu lo ingat, Anjing tidak akan memakan daging temannya sendiri." Karel hendak kembali memukul wajah Aksa, tapi Raka segera menangkisnya.
"Ingat Rel, Sa, kita pernah susah senang bareng." Raka berada di tengah-tengah keduanya.
"Maksud kamu ngomong kayak gitu apa?" Mona terisak di pelukan Iren. Dia benar-benar terpukul ketika Aksa berkata bahwa dia hanya sebagai bahan pelampiasan cowok itu saja.
"Kamu? Haa.. , jangan pernah mimpi menjalin hubungan bersama gue. Karena cewek murahan seperti lo, pantas bersanding dengan penghianat seperti dia" Aksa menujuk Mona terlebih dahulu, kemudian dia menunjuk tepat di dada Karel.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSA ( Complite)
Genç KurguAKSA LEONALD!! Cowok itu memiliki arti sebuah mata. Seperti artinya yang sangat indah, Aksa Leonald adalah cowok tampan yang memiliki sejuta pesona. Aksa memiliki kegemaran yang tidak semua orang tahu, yaitu melukis. "Kata orang cinta itu indah, tap...
