14. Marah Tanpa sebab.

2.6K 156 0
                                        

Rasanya Mona sangat malas hari ini. Dia berjalan lunglai menuju kelasnya. Sebebarnya dia tadi berpapasan dengan Aksa yang baru turun dari atas motor ninjanya, tapi Mona tidak perduli, masa bodo dengan semua itu.

"Baru datang, Mon?" Sapa Iren yang sedang senyam-senyum sendiri sambil menatap benda pipih di tangannya.

"Menurut lo?" Sinis Mona. Rasanya melihat wajah Aksa dan Iren hanya membuat hatinya sakit.

"Lo udah belajar sejarah indonesia? Gue nanti nyontek ya? Soalnya gue belum belajar. Gue...."

"Berisik!!" Sentak Mona, dia menutup telinganya dengan heandseat. Rasanya dirinya malas mendengar ocehan Iren.

"Menyebalkan! Merusak mood pagi gue aja." Desis Mona, tidak suka. Sedangkan Iren hanya menatap Mona dengan tatapan tidak mengerti.

"Gue salah apa?" Iren menatap Mona yang sedang sibuk membaca buku. Dirinya tidak merasa berbuat salah kepada Mona, tapi kenapa Mona seperti tidak suka kepadanya?

🔹🔹🔹

Aksa masih berada di parkiran. Biasanya Mona langsung heboh dikala melihat dirinya. Namun pagi ini berbeda, cewek itu melenggang pergi begitu saja dikala melihatnya. Malah dia seakan enggan menatapnya.

"Harusnya gue seneng dia gak gangguin gue lagi. Tapi kok rasanya beda disaat dia tidak lagi nyapa gue seperti dulu?" Aksa tidak habis fikir dengan dirinya sendiri. Kenapa ada rasa tidak suka ketika Mona mengacuhkan dirinya tadi?

"Gue tidak akan pernah suka sama dia." Aksa berjalan masuk kedalam sekolahnya. Dia berjalan menyusuri koridor sekolah dengan santai. Di dalam kelasnya sudah ramai, yang menjadi fokusnya adalah Arga, kakaknya sendiri. Arga sedang memegang gunting dengan tatapan dingin.

"Tuh Ga, adik lo sendiri ngelaranggar aturan sekolah. Seragam sekolah yang harusnya dia masukkan malah dia keluarin begitu." Alvaro menujuk seragam yang Aksa kenakan. Seragam putih itu sebagian keluar dari tempatnya.

"Sa, masukin seragam lo kecelana. Kalau gak, gue gunting." Ancam Arga, tegas. Di rumah mungkin mereka berdua adalah saudara, namun kalau di sekolah mereka berdua hanya sebatas teman.

"Gunting tinggal gunting, gitu aja susah." Sinis Aksa. Aksa duduk di samping Raka yang sedang bermain game sambil meletakkan kakinya di atas meja.


"Turunkan kaki lo, sopan sedikit bisa?!" bentak Alvaro hilang kesabaran. Kelas Xl IPS memang sering sekali membuat guru atau yang lainnya geleng-geleng kepala.

Pagi ini semua Anggota osis mengadakan razia. Banyak yang tertangkap. Mereka hanya akan bertindak jika seseorang itu sulit untuk di peringatkan.

Arga sedang berada di posisi yang sangat membingungkan. Dia harus berbuat apa? Apa dia harus menggunting baju adiknya? Atau membiarkan saja. Disini dirinya sebagai ketua osis, akan sangat tidak bijaksana jika dirinya berbuat curang.

"Alah, Arga mana berani motong baju adiknya sendiri." Celetuk cowok yang duduk di dekat tembok. Rambut cowok itu acak-acakkan gara-gara di potong oleh Arga hanya karena cowok itu mewarnai rambutnya warna merah.

"Harus adil dong, Ga." Timpal siswi yang berada di depan Arga.

"Jangan mentang-mentang adik sendiri, jadi tidak di apa-apain padahal jelas-jelas dia ngelanggar aturan." Kata-kata itu membuat telinga Aksa panas. Dia merebut gunting milik Arga, lalu dia menggungting bajunya sendiri.

AKSA ( Complite)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang