11. Khawatir/Kasihan?

2.9K 174 4
                                        

Aksa berjalan tertatih, kakinya melangkah masuk kedalam Galery lukis David. Suasana di dalam sangat ramai, hingga tanpa sadar senyuman terbit di bibirnya.

"Selamat sore, Sa. Baru pulang?" Sapa David, lelaki itu berdiri tepat di samping Aksa.

"Gak bang, gue tadi ada urusan dulu, makanya jam segini baru datang." Jawab Aksa, menjelaskan. Yang dia katakan memang benar adanya, tadi dia ada urusan kelompok di apartemen Karel. Yang mengantar dirinya ke Galery lukis David juga Karel.

"Oh, gitu. Lukisan lo yang dua udah kejual tadi pagi. Yang satu baru kejual sore ini, lo mau bertemu dengan pembelinya?" Tawar David, yang di balas Aksa dengan anggukan kepala.

"Ayo ikut gue," Ajak David, berjalan di depan Aksa.

David berdiri di belakang perempuan yang memakai baju putih dan celana pendek berwarna coklat susu. Rambut perempuan itu tergerai indah, tubuhnya yang ramping serta tingginya yang pas, membuat siapa pun akan terpana jika melihatnya.

"Ahem..." Dehem David, perempuan itu berbalik, dia memasang senyum manis. Kedua lesung pipinya yang indah, membuat Aksa tidak berkedip ketika menatapnya.

"Mona?"

"Kak Aksa?"

Mereka berdua saling tatap. Mona tersenyum manis kearah Aksa yang hanya terdiam.

"Kalian saling kenal?" Tanya David, yang di balas anggukan kepala oleh Aksa dan Mona.

"Aksa, ini orang yang membeli lukisan kamu. Dan Mona, ini Aksa, pelukis lukisan yang kamu beli." Aksa dan Mona saling tatap mendengar penuturan David.

Aksa melihat lukisan yang berada di tangan Mona. Itu lukisan pertamanya, lukisan seorang pemuda yang sedang berjinjit untuk menggapai bintang yang berada jauh di atasnya.

Mona tersenyum canggung dikala melihat Aksa terus menatapnya. Dia benar-benar tidak tahu jika lukisan yang dia beli adalah buatan kakak kelasnya.

"Iya Bang, semoga lo suka." Aksa tersenyum tipis kepada Mona.

"Tampan." Kesan pertama yang Mona tangkap ketika melihat senyuman Aksa.

"Kalau begitu, ayo Sa ikut gue," Ajak David, dia berjalan ke ruangannya lebih dulu.

David mengambil amplop coklat tebal dari dalam laci meja kerjanya.

"Ini uang 8 juta hasil dari penjualan lukisan lo. Silahkan di hitung dulu," David menyerahkan amplop itu kepada Aksa.

"Tidak usah bang, gue percaya sama lo. Kalau begitu gue permisi." Pamit Aksa, yang di balas David dengan anggukan kepala.

Senja mulai terlihat. Aksa berjalan keluar dari Galery lukis David. Dia berdiri menunggu TAXI lewat. Tapi...

Tit..., Tit..

Suara klakson mobil menarik perhatiannya. Saat tahu siapa orang yang berada di depannya, kening Aksa berkerut.

"Kak Aksa, ayo naik," Mona keluar dari mobilnya. Dia menghampiri Aksa yang hanya berdiri dalam diam sambil menatap dirinya.

"Gak, lo duluan aja." Tolak Aksa, dia cukup sadar diri, Mona sudah membantu dirinya banyak.

"Ayolah kak, aku bela-belain ngehampiri kakak, masa kakak nolak pulang bareng aku sih?" Mona menundukkan kepalanya, sedih.

Tanpa banyak bicara, Aksa masuk kedalam mobil Mona. Sontak kelakuan Aksa membuat senyum Mona mengembang.

"Apa kakak lapar?" Tanya Mona ketika melewati restoran padang.

"Gak."

"Haus?"

AKSA ( Complite)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang