51. Perjalanan cinta penuh liku. (END)

4.1K 149 4
                                        

Sore ini Mona dan Aksa datang kepemakaman Chindy. Mona ingin melihat tempat peristirahatan terakhir mantan kekasih pacarnya.

Sepertinya ada yang baru saja datang kepemakaman ini, karena diatas tanah pusar milik Chindy terdapat bunga mawar dan melati yang masih segar.

"Pak..." Panggil Aksa, kepada penjaga kuburan yang baru saja selesai bersih-bersih.

"Iya, mas?" Tukang bersih-bersih itu jelas mengenal Aksa, karena Aksa dulu sering sekali kesini untuk menjenguk Chindy.

"Tadi ada yang datang kepemakaman Chindy? Kok diatas pusaran tanahnya ada bunga yang masih segar?" Tanya Aksa, penasaran. Kalau orang tua Chindy, itu tidak mungkin. Mereka sudah pindah ke New York setelah Chindy meninggal. Dan mereka akan datang kepemakaman Chindy minimal 3 bulan sekali. Tentunya setelah akhir bulan. Aksa tahu, bahkan dia sangat hafal kebiasaan orang tua Chindy saat datang kepemakaman anaknya. Mereka selalu membawa bunga Lily, bukan bunga mawar ataupun melati.

"Iya, mas. Tadi mas Bima kesini. Baru saja dia pergi." Jawab bapak paruh baya yang sedang memegang ganggang sapu dan tempat sampah.

"Sendiri?" Tanya Aksa, penasaran.

"Iya, Mas. Kalau gitu saya permisi dulu." Aksa mengangguk, dia menghampiri Mona yang berdiri tidak jauh darinya.

"Memang kenapa kalau Bima datang kesini sendiri?" Tanya Mona, penasaran.

"Gak apa-apa, sedih aja ngelihat dia. Rasa cinta Bima ke Chindy sangat besar, sehingga dia belum bisa menemukan perempuan pengganti Chindy." Mona mengangguk, dia memahami apa yang terjadi. Susah memang jika kita di suruh melupakan orang yang benar-benar kita cintai. Butuh waktu lama untuk memendam rasa dan kenangan bersama orang tersebut.

"Yasudah, sini aku kenalin kamu ke Chindy." Aksa dan Mona berjongkok disisi kanan makam Chindy.

"Assalamualaikum, Chindy." Sapa Aksa, Mona yang sedang berjongkok di samping Aksa menjawab lirih. "Waalaikumsalam."

"Kamu lihat aku disini? Aku kesini bersama Mona. Dia pacar aku, dia orang yang menggantikan kamu untuk menemaniku. Aku sudah bisa melupakanmu, entah dengan Bima? Aku harap dia bisa segera mencari pengganti dirimu yang sudah tenang di surga sana." Tangan kanan Aksa terurur untuk menyentuh batu nisan yang bertulis nama Chindy. Sedangkan tangan kirinya menyentuh pergelangan tangan Mona.

Aksa menatap kedua iris mata Mona, dalam. Mona mengangguk, dia tahu apa maksud dari tatapan Aksa.

"Assalamualaikum, Chindy." Sapa Mona, lembut.

"Waalaikumsalam." Jawab Aksa, lirih.

Mona tersenyum, dia menyentuh gundukan tanah yang di tumbuhi rerumputan hijau di depannya.

"Terimakasih sudah menemani Kak Aksa dulu. Menghibur dikala dia sedih, dan menjadikan hidupnya lebih berwarna. Sekarang ijinkan aku untuk membuatnya bahagia, membuatnya tidak lagi kehilanganmu, dan membuat hidupnya kembali berwarna setelah kepergianmu." Mona meneteskan air matanya. Perjuangan cinta antara Aksa, Bima, dan Chindy memang penuh drama. Mereka berjuang, saling rebut, dan saling mempertahankan, hingga nyawa menjadi taruhannya.

"Aku tidak tahu betul tentang kehidupan Kak Aksa dulu. Mungkin kenangan indah bersamamu yang sulit dia lupakan menjadi alasannya terpuruk. Pertama kali aku melihat dia, dia sangat hancur, berantakan, dan tidak tersentuh. Mungkin itu semua karenamu, karena kepergianmu." Mona melirik Aksa yang terus menatapnya.

"Tapi aku tahu, Kak Aksa seperti itu karena dia sangat mencintaimu. Dia belum siap kehilangan dirimu. Dan mungkin waktu itu kamu juga belum siap kehilangan Kak Aksa." Jemari Mona menggegam tangan Aksa, erat.

AKSA ( Complite)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang