"A"

3.1K 114 1
                                        

Akhirnya mereka menyelesaikan mm ziva tepat waktu.
Bel pelajaran kedua pun berdering.
"Zav makasih, lo ganteng banget hari ini sumpah, ga boong gue"puji ziva pada zava dengan memberi senyum terbaiknya hari ini.

"Ya"

"Kalau gini sih jelek"lanjut ziva mengetahui zava kembali menjadi laki-laki dingin.

"Yaudah pokoknya gue makasih, gue harus duluan ya zav. Lo hati hati sama cewe cewe alay itu."bisik ziva ditelinga zava namun terdengar keras oleh kerumunan wanita yang katanya adalah "Fans zava garis keras"

"Ya"

"Bye zava , nanti pulang anterin gue"

"Ya"

Ziva pun melenggangkan kakinya pergi, zava yang masih membenahi tali sepatu nya di perpustakaan pun menjadi tontonan para wanita.

"Zav ke kelas bareng yuk" seorang perempuan menghampiri zava hendak pergi.

"Gue masih ada urusan" jawab zava ketus dan dingin .

Ya, zava memang hanya mencair dan ramah pada Ziva, perempuan itu benar-benar terlihat istimewa dari perlakuan zava padanya..

Itulah yang membuat semua wanita iri dengan ziva. Bagaimana tidak? Ziva sangat dekat dengan laki-laki yang sangat tampan dan idaman para wanita. Namun itu membuat ziva tidak memiliki teman perempuan karena banyak yang tidak suka padanya.
Namun saat zava bertanya kenapa ziva masih mau berteman dengannya, ziva hanya menjawab 'gue bisa dapet 1000 temen cewe, tapi gue ga butuh banyak-banyak. kalau ujungnya bertengkar , ya percuma. Gue cuma butuh satu, Lo zav. Lagian lo juga lebih cewe dari 1000 cewe itu hahaha.'

"Yaudah gue ikut Lo" perempuan itu masih saja keukuh untuk dekat dengan zava.

Tanpa menjawab zava pun melenggang pergi .

"Ihhhh"perempuan itu menghentak hentakan kakinya ke lantai .

---

"Din!!!!! Sebel gue sebel!"

"Ziv! Seneng gue seneng"

"Lo dengerin gue dulu napa" ziva memiringkan kursinya kearah teman perempuan satu-satunya yang baru saja dekat dengannya berkat persahabatan ayah Nadin dan ziva dalam berbisnis.

"Oke oke, abis ini Lo juga harus dengerin gue."

"Oke impas."
Lalu ziva pun menceritakan apa yang ia alami tadi di perpustakaan, bertemu dengan laki-laki yang sangat asing dengannya.

"GILAK TUH COWO BELOM KETEMU ZAVA KALI YA, SOK CAKEP BANGET"

"YA GAUSAH NGEGAS DIN!"

"Lo juga ngegas ziv"

"Sumpah kalau gue ketemu pengen gue tonjok mukanya"ziva mengepalkan tangannya mengarah pada wajah Nadin.

"Kalau ternyata dia ganteng gimana ziv"

"Cowo ganteng itu terkenal cool ga kayak dia, jijik bet gue"

"Ngomong-ngomong soal ganteng, gue tadi ketemu cowo ganteng ya ampun, lebih ganteng dari zava"
Ziva langsung mendelik kan matanya, menatap Nadin dengan sungguh-sungguh, jarang jarang Nadin membicarakan soal cowok ganteng. Ziva mau berteman dengan Nadin juga karena Nadin ga ngejar-ngejar zava layaknya kebanyakan perempuan.

"Tunggu-tunggu apa Lo bilang? Ada cowo ganteng yang lebih ganteng dari zava?"tanya ziva lagi.

"Huuh"jawab Nadin dengan wajah yang berbinar-binar.

"Serius sumpah demi apa Lo, ga mungkin deh" ziva masih tidak percaya dengan perkataan Nadin.

"Seriusan, Lo kalau ketemu dia juga paling lupa sama zava haha."

Ziva memutar kursinya kearah depan.

"Dia pinter mm ga ya" batin ziva.

"Din, kira kira dia pinter mm ga ya?" Tanya ziva pada Nadin sambil mengarahkan pandangan kosong ke depan.

"Kenapa emang?"

"Pengen gue gebet, buat bantu ngerjain mm hehe"ziva meringiskan giginya.

Nadin pun berdecak,.

"Andai gue cowok, Lo gue blacklist dari tipe gue"

"Lah kenapa"

"Memanfaatkan lelaki"

"Loh itu bukan memanfaatkan. Dari yang beralasan menjadi tak beralasan. Itulah cinta yang bukan cinta buta! Cewe itu jangan cuma makan tampang doang!"

"Ya kalo nanti cowoknya baper terus Lo nya ogah gimana, kan kesian"

"Anjir ya ga mungkin lah cowo seganteng dia baper sama gue. Tau diri juga gue din" ziva menjedotkan tangannya di jidat Nadin. Nadinpun hanya meringis.

"Lah zava aja mau sama Lo"

"Itu beda."

UNTIL TOMORROW [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang