H.2

769 63 14
                                        


Sementara dirumah sakit, Ziva belum juga sadar. Mirabeth dan Darwis hanya bisa menangis meratapi putrinya.

Dokter berkata kalau Ziva menderita luka dalam dibagian kepala, itu diakibatkan oleh hantaman keras dari mobil saat menabrak tiang listrik.

Bahkan kecelakaan Ziva dan Zava menyebabkan dua kecelakaan lain dari mobil ajudan Gabriel yang mengikuti mereka di belakang.

"Mana Zava?!"Teriak Irene histeris mencari keberadaan putranya.

Mirabeth langsung berdiri dan mencoba menenangkan Irene.

"Zava sedang mendapat penanganan, duduklah" Mirabeth mengelus pundak Irene.

Dia ingin mengatakan kondisi Zava yang sebenarnya, namun Mirabeth tidak tega. Apa yang terjadi pada Zava pasti akan menggores luka dihati Irene saat itu juga.

"Tante" sapa Nadin yang baru saja sampai didepan ruangan Ziva Zava dirawat.

"Nadin bagaimana keadaanmu dan Gabriel?"Tanya Mirabeth.

Nadin tidak menjawab, gadis itu malah menangis sesenggukan hingga tubuhnya jatuh kelantai memegang kaki Mirabeth.

Wanita itu beruntung, dirinya duduk di mobil bagian belakang saat ia pergi bersama Gabriel sehingga luka yang diamali Nadin tidak separah Gabriel.

"Nadin kamu kenapa sayang"Darwis mengangkat Nadin dari lantai.

Nadin tidak menjawab, gadis itu terus menangis.

"Mama, gimana Ziva?"Potong Zanna yang berlari kearah mereka.

Kakinya berhenti saat melihat semua orang menatap Nadin yang sudah sesenggukan.

"Lo kenapa? Mana Ziva? Mana Zava?!" Zanna mengguncang tubuh Nadin.

Nadin jatuh diperlukan Zanna, ia bahkan tidak sanggup untuk mengatakan apapun.

"Hancur Zan hancur"

"Apa yang terjadi? Jawab gue Din"Zanna kembali memegang kedua pundak Nadin.

"INI SEMUA KARENA JACK!!!!"teriak Nadin dengan keras dan penuh amarah.

Bahkan gadis itu memberontak dari pelukan Zanna.

"Jack?"Zanna mengernyitkan dahinya, sepertinya dia tau siapa itu Jack yang dimaksud oleh Nadin.

"Nadin apa maksud kamu?"giliran Mirabeth yang kini menghadap tubuh Nadin untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Flashback on

Nadin dan Gabriel sedang dalam satu mobil berdua untuk pertama kalinya.
Tentu Gabriel memanfaatkan momen itu membicarakan Ziva dengan Nadin.
Bertanya apapun yang ingin Gabriel ketahui darinya.

"Ziva ga punya temen beneran?"

"Huum, cuma gue sama Zava doang haha"

"Baguslah"

"Oiya Biel boleh gue nanya ke lo?"Tanya Nadin balik.

"Apa?"

"Kenapa Lo ga pernah menetap di satu negara?"

"Pertanyaan macam apa itu"Gabriel tertawa kecil.

"Namanya juga nanya"

"Bumi terlalu indah untuk menetap di satu tempat".

"Keadilan sosial untuk orang kaya bin good looking aja kalau itu"

UNTIL TOMORROW [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang