D.1

1K 75 29
                                        


Gabriel menguatkan hatinya. Menoleh kebelakang terus menerus tak akan membuat semuanya membaik. Harapan itu sudah benar-benar musnah, memang lebih baik ia meninggalkan sejuta perasaan yang sudah ia tanam pada Ziva selama ini.

"Kabari aku kalau kau sudah sampai"

"Hmm"dengan Gabriel menjawab kakaknya.

Gabriel kembali melangkah ke depan meninggalkan kakek dan Zero yang menatap kepergian Gabriel dengan nanar.

Pria itu menarik koper seiring dengan langkahnya.


"BIEL!!!!"

.
.
.

Suara itu, suara yang tidak asing lagi ditelinga Gabriel.
Gabriel tidak menolehkan kepalanya sama sekali, ia masih terdiam sambil menatap sayu kedepan.

Perempuannya datang!

Sejenak Ia berfikir untuk berbalik arah, berlari menuju gadis itu dan memeluknya erat sembari bertanya "bagaimana keadaanmu?"

Tapi tidak, Gabriel tidak boleh berhenti. Dia harus tetap pergi demi keselamatan wanitanya, apa yang terjadi kemarin tidak boleh terulang lagi.

"BIELL!!! Perempuan itu kembali meneriaki namanya.

Ziva berlari kencang kearah Gabriel yang sudah dekat darinya.
Beberapa kali ia berteriak nama Gabriel namun pria itu tetap saja tidak berbalik arah.

Dengan nafas yang terengah-engah, dicampur air mata yang sudah membentuk aliran sungai dipipi, Ziva berhasil berdiri tepat dibelakang Gabriel.

"Biel..."lirihnya saat Gabriel terus saja menjauh.

"Satu langkah lagi kamu berjalan, aku akan memelukmu" bahu Ziva sudah naik turun terisak. Ia menepis air matanya kasar, berusaha kuat dan kembali membujuk Gabriel agar mau berbalik badan.

Namun sia-sia, Gabriel tetap terus melanjutkan langkahnya.

Gabriel ingin sekali berbalik badan, menepis air yang meluncur deras dari kedua mata Ziva.
Gabriel tahu betul betapa terguncangnya Ziva saat itu, dia bisa mendengar nada penuh lara keluar dari bibirnya.

Ziva berlari dan memeluk pria itu dari belakang.

"Biel.."lirihnya terus memeluk erat punggung Gabriel.

Gabriel tetap tak bergeming.

Ziva melepas pelukannya, dia menyerah.

Semua harapannya pupus, pria itu tak mau lagi berjuang untuknya. Gabriel sudah menyerah disaat Ziva mulai mengumpulkan keberaniannya.

Hiks hiks

Isak Ziva semakin kencang.

Mendengar itu, Gabriel langsung menoleh. Tak mampu rasanya untuk mendengar isakan Ziva yang begitu pilu.

Melihat Gabriel yang menatap kearahnya, Ziva mendongakkan kepalanya membalas tatapan Gabriel.
Mata sembab Ziva memperlihatkan adanya sedikit harapan.
Sekejap kemudian, Ia kembali memeluk tubuh Gabriel dengan lebih erat.

Namun berbeda dengan Gabriel yang terus diam tanpa membalas pelukan itu.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

"Aku mencintaimu"

Deg

Dunia seakan berhenti sejenak, mendengar pengakuan seorang wanita yang telah lama Ia tunggu-tunggu.

"Ziv.."lirih Gabriel

Ziva semakin terisak.

"Kumohon.."

UNTIL TOMORROW [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang