Pria itu mengenakan celemek masaknya. Tak lupa juga menggunakan sarung tangan dapur seperti halnya yang dilakukan Zanna.
Didepan mereka ada para pembantu yang nampak gusar melihat tuan mudanya memasak.
"Tuan nanti kalau ada apa apa panggil saya ya"ujar salah seorang juru masak dengan nada yang begitu khawatir.
"Aduh bibi jangan khawatir"Zero menenangkan lalu mengambil sebuah pisau untuk memotong.
"Bibi istirahat saja, ada saya yang bantu"ujar Zanna dengan sangat lembut.
Kemudian kedua pembantu itu pergi dan meninggalkan mereka berdua di dapur.
"ZER ya ampun" Zanna mengelus dada ketika Zero mengajukan pisau didepan wajahnya.
Laki-laki itu tertawa puas.
"Ya ga mungkin lah gue bunuh Lo, sama aja bunuh diri"Tutur Zero.
Tangan pria itu terlihat lihai dalam hal potong memotong.
"Lo kok jago masak?"Tanya Zanna tidak percaya bahwa Zero jago dalam urusan dapur.
"Ada perbedaan mendasar antara gue dan Gabriel. Gabriel bercita-cita menjadi pria tampan yang jago main gitar, sedangkan Zero menjadi pria tampan yang jago masak"Zero kemudian mencuci semua bahan sambil terus mengoceh lalu mengedipkan matanya tepat saat ia memajukan wajahnya dihadapan Zanna.
"baiklah tuan muda Huston" jawab Zanna.
"Jadi kau tidak perlu bejalar memasak"Zero menoel hidung Zanna dengan kelingkingnya.
"Justru gue harus pinter masak biar nanti kalo Lo punya istri lagi. Gue ga repot"tuturnya .
Zero langsung menghadap kearah wanita yang sedang melingkin lengan baju agar tidak terkena tepung.
"Yaudah yuk nikah"Ajak Zero dengan entengnya.
"Li pikir nikah enak"Zanna menyenggol bahu zero hingga pria itu terhuyung kesamping.
"Nikah tuh enak kalau si cewe ga minta ke salon, ga minta ditemenin ke emol, ga minta ditungguin belanja, ga minta---"
PLAK
Zanna menepuk bokong Zero dengan panci.
"Aw!!"ringis Zero kesakitan sambil mengelus bokongnya.
"Terus apa gunanya Lo punya istri kalo ga buat dibahagiain, ga tau perasaan seorang istri banget sih lo!"Zanna tidak terima.
"Ditaruh diruang tamu dijadiin pajangan"
PLAK!!
kali ini jauh lebih keras.
"Aw sakit Zan" Zero kembali mengelus bokongnya yang terkena panci dua kali.
"Lo ngomong lagi gue gampar pakek centong nasi Lo"Ancam Zanna sembari menodongkan sebuah pisau dapur didepan muka Zero.
"Padahal gue mau nawarin nikah sama gue"Tutur Zero melanjutkan kembali aktivitas nya yang tertunda.
"Hmm"Deham Zanna.
"Lo mau gak? Kalau Lo mau gua ayo ayo aja"Papar Zero.
Zanna menghentikan aktivitas memasaknya.
"Nikah ga sebercanda itu"tegas Zanna.
"Gue ga becanda"jawab Zero masih berkutat dengan berbagai tepung didepannya.
Zanna melihat laki-laki itu, Zero sama sekali tidak tertawa saat mengatakan tadi.
"Gue lulus, kita nikah"Tandas Zero.
"Ga lucu"jawab Zanna dengan suara sedikit serak. Sebenarnya jantungnya berdetak kencang.
"Lah seriusan gue."Zero lalu menatap perempuan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTIL TOMORROW [END]
Fiksi RemajaCOMPLETED (belum revisi) Sampai kapanpun kita hanya sampai besok. Hanya keberanian yang aku miliki. Keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa aku menyukaimu dengan segala konsekuensinya. -Gabriel Novel ini tidak untuk menyinggung siapapun! Semua b...
![UNTIL TOMORROW [END]](https://img.wattpad.com/cover/218644948-64-k755837.jpg)