"kemarin saya lihat Gabriel menemui Tuan Keano"Ujar seseorang dengan pakaian serba hitam kepada atasannya.
Brakk
Pria itu menggebrak meja kerjanya dengan keras.
"Gabriel"Desisnya tajam, dengan mata kelam disertai rahang yang mengeras.
"Masih ada info lagi tuan"
"Katakan!"
"-------"
"Pergilah!"
Para ajudan keluar, pria itu menunjukkan smirk nya. Seolah ajudannya baru memberitahu sebuah hal yang membuatnya menyusun rencana dengan lebih mulus.
"Huston.."
Lirih namun penuh penekanan.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Gabriel menghentikan mobilnya di sebuah alamat yang baru saja Zero tunjukkan padanya.
"Ini rumah siapa Biel?"Tanya Ziva setelah keduanya turun.
"Rumah gue sih, cuma ga ada yang nempatin"Jawab Gabriel.
"Rumah siapa nih?"Zava dan Nadin yang baru bergabung menanyakan hal sama.
"Udah yuk masuk"Ajak Gabriel tanpa menjawab.
Sore itu mereka hendak merayakan keberhasilan dalam menjalani ujian kenegaraan seminggu lalu.
Seharusnya party kecil itu dilakukan sejak lama, namun tersendat karena Gabriel masih di Belanda dan harus mengikuti ujian susulan.
"Udah siap aja"
Setelah mereka masuk, didalam sudah ada Zero dan Zanna yang siap dengan segalanya. Makanan, minuman, semuanya ada disana.
"Agak macet ya?" Zanna bertanya karena menunggu mereka yang sedikit lama.
Gabriel mengangguk lalu duduk disebelah Ziva yang sibuk dengan ponselnya.
"Harusnya ga masuk aja tadi ngikut Lo bolos zer"Sambung Nadin.
"Ini rumah siapa lagi dah?" Zava masih penasaran dengan rumah yang tidak pernah Ia datangi sebelumnya
"Rumah kosong, kalau Jey sama Tio pengen, kadang ditinggali mereka"sahut Arkila sembari mengaduk minumannya.
"Oiya gue lupa, Jey minta nikah"
Mendengar nama Jey, Gabriel jadi teringat pesanan pria itu kalau ingin meminta izin pada Zero agar menyetujui dirinya menikah.
Sedetik kemudian Zero malah tertawa terbahak-bahak.
"Serius gue!"Gabriel melempar bantal sofa pada Zero.
"Kalau ada calonnya ya gue setuju" Zero mencoba meredakan tawanya.
"Tau tuh, ajudan Lo!"Desis Gabriel.
"Jey belum nikah?"Tanya Ziva mendongakkan kepalanya menatap Gabriel.
Gabriel menggeleng, Ziva pun ikut menggelengkan kepalanya.
"Jey kerja dikalian sejak kapan sih?"
"Gue masih bayi"Jawab Zero.
"Kok jadi ngomongin Jey"potong Nadin.
"Gue ga terima kalian udah lulus"Titah Arkila sambil menopang dagu dengan telapak tangan kanannya.
Semua langsung mengarahkan pandangannya pada Arkila, wajah gadis itu terlihat masam dan kusut.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTIL TOMORROW [END]
Teen FictionCOMPLETED (belum revisi) Sampai kapanpun kita hanya sampai besok. Hanya keberanian yang aku miliki. Keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa aku menyukaimu dengan segala konsekuensinya. -Gabriel Novel ini tidak untuk menyinggung siapapun! Semua b...
![UNTIL TOMORROW [END]](https://img.wattpad.com/cover/218644948-64-k755837.jpg)