.
Ziva baru saja turun dari mobil Gabriel. Setelah mereka berpencar ke kelas masing-masing, seseorang memberitahu Ziva kalau ada yang menunggunya di gerbang sekolah. Saat Ziva bertanya siapa, temannya itu menjawab tidak tahu.
Ziva fikir itu adalah Zanna yang mau mengantar seragam olahraga miliknya yang kebetulan tertinggal. Tapi kenapa temannya tidak mengenal? Padahal kakaknya lumayan terkenal waktu SMA dulu.
"Padahal gue udah nyiapin alasan pura-pura sakit biar ga ikut olahraga"
Namun saat ia sampai didepan gerbang, ia tak melihat siapapun disana. Kemudian Ziva bertanya pada satpam, tapi satpam bilang kalau tidak ada yang mencarinya.
Pak Slamet menyuruh Ziva untuk mengeceknya sendiri kedepan sekolah, siapa tau orang itu menunggunya disana. Mendengar saran Pak Slamet, Ziva pun melangkahkan kakinya keluar area sekolah.
Tidak ada siapapun disana, hanya orang yang berlalu lalang menggunakan kendaraan mereka.
Tapi,
Tak lama setelah itu
Semua gelap.
----
Pagi ini Ziva sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, Zava pun dengan sigap mengantar wanita dan keluarganya itu kembali kerumah.
Sampai dikediamannya, ia melihat Zanna dan Nadin ada disana.
Kedua perempuan itu menyambut kehadiran Ziva dengan senyum yang lebar, ekspresi lega terpancar jelas dari mereka berdua.
"Gimana kondisi Lo Ziv?"Tanya Nadin pada Ziva yang baru saja duduk di sofa.
"Lumayan membaik"jawab Ziva.
Matanya terus melihat pintu, berharap seseorang yang ia tunggu sedari kemarin datang.
Namun nihil, tidak ada siapapun disana.
"Lo ga pengen tidur?" Zava yang baru saja masuk kedalam rumah setelah memarkirkan mobilnya.
Ziva menggeleng pelan.
"Lo nyari siapa sih?"Tanya Zanna mengikuti arah pandang Ziva.
"Bang Zero"Jawab Ziva sedikit berbohong.
Dia memang mencari Zero, tapi bukan hanya Zero.
tiada yang berani menjawab keberadaan Zero karena mendapat tatapan tajam dari Zava.
"Istirahatlah"Suruh Zava lagi pada Ziva.
Tanpa menjawab Zava, perempuan itu langsung berjalan masuk kedalam kamarnya.
Kecewa? Iya. Rasa itu memenuhi dadanya, bagaimana bisa Gabriel tidak datang untuk sekedar bertanya tentang kondisinya.
Ziva mengunci pintu kamarnya rapat-rapat , ia duduk ditepi ranjang sembari terus melamun.
Memikirkan kenapa pria itu tega membiarkan ia melewati semuanya sendiri, bahkan Gabriel juga tidak ada dirumah sakit, yang berarti ia tak ikut mencarinya.
Seharusnya ketidakhadiran Gabriel bukan menjadi hal penting baginya, tapi kenapa dia merasa pria itu begitu brengsek kalau meninggalkannya dimasa sulit. Kenapa dia ingin Gabriel datang untuknya?!
Ingatan nya kembali kepada pria yang sudah menculiknya, pria itu berulang kali mengucapkan nama Gabriel dan Huston.
Ziva mengembuskan nafas kasar, apakah semua ini ada hubungannya dengan Gabriel atau keluarga Huston?! Ia tak tau, Ia butuh jawaban!
"Ziv.."panggil Zanna dari luar kamar.
Ziva bergerak membukakan pintu kamarnya dan mempersilahkan Zanna untuk masuk.
Mereka berdua sama-sama duduk ditepian ranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTIL TOMORROW [END]
Teen FictionCOMPLETED (belum revisi) Sampai kapanpun kita hanya sampai besok. Hanya keberanian yang aku miliki. Keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa aku menyukaimu dengan segala konsekuensinya. -Gabriel Novel ini tidak untuk menyinggung siapapun! Semua b...
![UNTIL TOMORROW [END]](https://img.wattpad.com/cover/218644948-64-k755837.jpg)