"Jey sudah disini tuan"
"Saya segera kesana"Pria itu membenahi setelan jasnya lalu keluar dari ruangan setelah mendapat kabar bahwa ajudannya memperoleh info yang ia cari sedari kemarin.
Suara derap langkah dari sepatu pantofel pria memenuhi ruangan.
Siapa lagi kalau bukan Zero, pria berkarisma itu seakan tengah menunjukkan diri yang sebenarnya.
Berbeda dengan Zero yang dikenal sebagai anak SMA yang ramah, ceria, dan petakilan. Disaat seperti ini, Zero mirip dengan sang ayah. Mulai dari wibawanya, cara bicaranya,tatapan legamnya, sikapnya yang dingin.
"Ini tuan"Jey menunjukkan sesuatu pada Zero saat mereka berpapasan ditengah jalan menuju lobby.
"Kita bicara diruangan"ajak Zero.
Mereka pun bergegas masuk lagi kedalam ruangan Zero yang ada dilantai satu gedung itu.
Setelah melepas jasnya dan duduk dikursi, Zero meminta beberapa bukti yang ia butuhkan yang sudah ada ditangan Jey.
Jey pun memberikannya sembari menjelaskan apa yang terjadi.
"Plat itu bernomor belakang persis seperti yang non Ziva berikan. Warna mobil juga sama tuan"ungkap Jey.
Zero mengamati benar foto yang Jey dapat.
"Apa ini cctv yang ada dijalan saat itu?"Tanya Zero memastikan.
"Iya tuan"
"Kau sudah mencari tau siapa pemilik mobilnya?"
"Ada banyak kemungkinan tuan"Jawab Jey.
"Antar saya ke bandara, kita pulang hari ini."Zero kemudian berdiri lalu mengambil jasnya dan menyampirkannya di lengan kanan.
"Baik tuan"Jey menurut dengan apa yang Zero katakan.
----
Ziva bergegas keluar kelas karena bel pulang sudah berbunyi. Nadin hari itu harus buru-buru untuk rapat OSISnya sehingga pulang terlebih dahulu.
"Jip!" Seseorang mengagetkan Ziva yang baru saja melangkahkan kaki keluar pintu.
"Kaget tau!"Umpat Ziva sembari mengelus dadanya kaget.
"Yuk pulang"Ajak pria itu.
"Hmm"
Mereka pun berjalan beriringan menuju tempat parkir.
Sampai disana Ziva tak sengaja memergoki Zav dan tengah membonceng Arkila pulang sekolah.
"Sejak kapan mereka kayak surat sama perangko gitu?"Tanya Ziva pada Gabriel yang ada disebelahnya baru saja membukakan pintu mobil untuknya.
"Sejak..."
"Alah palingan Lo juga gatau" Ziva menerobos tangan Gabriel lalu masuk kedalam mobil.
Mata Gabriel masih terfokus pada motor Zava yang sudah menjauh.
"Biel ayo" Ziva membuyarkan lamunannya, lalu Gabriel menutup pintu mobil dengan sedikit keras.
"Lo ga pengen jalan kemana gitu?"Tawar Gabriel pada gadis yang tidak mau mengajaknya bicara sepanjang mobil sudah dinyalakan.
"Enggak"
"Beneran?"
"Iya"
"Yaudah, kita pulang"Pungkas Gabriel kembali fokus menyetir.
Ziva melirik kearah Gabriel, tak percaya bahwa pira itu mudah menyerah. Berbeda dengan Gabriel yang sebelumnya.
"Beneran pulang?" tanya Ziva ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTIL TOMORROW [END]
Teen FictionCOMPLETED (belum revisi) Sampai kapanpun kita hanya sampai besok. Hanya keberanian yang aku miliki. Keberanian untuk menghadapi kenyataan bahwa aku menyukaimu dengan segala konsekuensinya. -Gabriel Novel ini tidak untuk menyinggung siapapun! Semua b...
![UNTIL TOMORROW [END]](https://img.wattpad.com/cover/218644948-64-k755837.jpg)