"pelan-pelan bego"umpat Jaemin sembari menepis tangan Chaeyoon
Memang benar jika gadis itu tidak pantas jadi perawat, mengobati luka kecil saja kasar seperti ini apalagi operasi yang mungkin jahitannya jadi acak-acakan
"Lebay..masa gitu aja sakit"
"Udah ah, males kalau udah gitu"Jaemin berdiri dari duduknya, meninggalkan Chaeyoon yang menggerutu dengan kapas ditangannya
"Infeksi baru tau"
"Makin parah kalau lukanya kamu ngobatinnya kayak lagi nyuci baju"
"Enak aja, orang pelan kok ngobatinnya, kamu nya aja yang lebay"
Jika saja Chaeyoon itu cowok, mungkin Jaemin sudah melemparkan cup mie ditangannya sekarang
"Lagian kenapa bisa kena pukul coba..kamu maling jajanan sekolah?"
Tangannya terasa gatal untuk melemparkan kuah mie yang panas itu ke wajah Chaeyoon, enak saja bilang jika dia maling
Gitu-gitu juga Jaemin lebih memilih mungut makanan daripada maling yang jelas-jelas jadi dosa
"Omongan mu difilter"
"Ya lagian anak kayak kamu kena pukul, kalau berantem juga gak mungkin, kan kamu gak bisa mukul"
"Sini ku pukul!"Chaeyoon tertawa melihat Jaemin yang mungkin kesabarannya sudah diambang batas
"Bercanda, makanya cerita dong, jahat sama sahabat sendiri"
"Kakak kelasnya emang nyari masalah, kelakuannya gak pantes disebut murid teladan atau masuk sekolah bagus"
"Mereka gangguin kamu?"
"Prinsip kebanyakan murid kaya di sekolah bagus itu yang dibawah mereka ya mereka tindas, gak liat itu cowok atau cewek
Udah jadi korban, mereka juga diancam gak boleh ngadu ke guru, kalau ngadu juga gurunya tinggal disogok jadi"
Jelas Jaemin lalu memakan mie nya yang mulai dingin
"Kak!! Makan dulu!"seru Jaemin yang melihat Jeno tengah duduk dipinggir kolam
"Gak ada niatan buat ngelawan gitu?"
"Bukan gak ada niatan, tapi kalau ngelawan juga malah beasiswa ku yang kena imbasnya, bisa-bisa dikeluarkan dari sekolah"jawab Jaemin sembari menyuapi Jeno
"Tapi kalau gak dilawan mereka jadi makin sering ganggu kamu dong"
"Biarlah, selama gak ganggu beasiswa yang udah aku dapet dengan susah payah itu bukan masalah besar. Bawa minum gak?"Chaeyoon meraih tasnya dan mengambil botol air mineral yang ia bawa
"Gak ngadu ke guru?"
"Makin ribet nanti, gurunya jarang tindak cepat, apalagi kalau udah main sogokan"Chaeyoon menatap Jaemin sedang minum, mencoba mencari jalan keluarnya
"Kakak masih mau renang?"
"Sekali lagi ya?"
"Iya, tapi tunggu dulu, baru makan. Minumnya buat aku ya"Jaemin menaruh botol air mineral yang tinggal sisa setengahnya
"Gitulah, kayaknya tuh yang paling kaya yang paling keren itu jadi yang paling berkuasa disana"
"Susah kalau udah nyangkut ke sogokan gitu, laporin aja ke kepala sekolah"
"Kepala sekolah diandelin, sama-sama dibayar mereka itu, gila sama uang kali"Jaemin mengangkat bahunya dan menatap kakaknya uang sudah kembali berenang
"Tentang kak Jeno..gak coba dilatih aja? Kalau bisa menang lomba renang kan lumayan hadiahnya"
"Aku bisa aja gitu, tapi secara gak langsung aku manfaatin kak Jeno buat cari tambahan uang kalau gitu
Lagi pula bayar pelatihnya juga bukan pake uang sedikit"
"Iya sih, tapi sayang juga kalau bakat kak Jeno gak dikembangin , dia bisa jadi pelatih renang juga nanti nya"
Jaemin tersenyum melihat Jeno yang baru keluar dari kolam renang
"Itu sih terserah kak Jeno nya, Jae gak anterin ke kamar bilas gak papa kan?"
Kakaknya hanya mengangguk sembari menerima tas dimana baju nya ada didalam
"Hati-hati, nanti handuknya jatuh lagi ke lantai terus basah"
Jaemin menatap punggung Jeno sebelum mengambil tasnya
"Aku juga gak bisa maksa kemauan sendiri sama kak Jeno, dia juga harus bisa ngambil keputusan sendiri tanpa bantuan aku nantinya"
Chaeyoon mengangguk paham, mengambil ponselnya yang berdering
"Halo pah..kenapa?"
Jaemin menatap Chaeyoon yang sedang menerima telepon, ayahnya karena Chaeyoon menyebut 'pah' tadi
"Lagi sama Jaemin, kenapa?"
"Oke"Chaeyoon menaruh ponselnya didalam tas lagi setelah memastikan sang ayah sudah memutuskan panggilan nya
"Kenapa?"
"Gak, papah cuma nanya dimana, katanya kalau pulang jangan terlalu larut aja"
"Papah kamu gak marah sama aku? Soalnya kan kamu sering pergi cuma buat kerumah ku"
"Enggak kok, dia bilang kamu itu bisa dipercaya, waktu itu sempat nanya rumah kamu dimana. Aku jelasin aja kalau Jaemin itu gak mau banyak yang tau alamat rumahnya, cuma aku sama kak Winwin aja
Tapi papah oke-oke aja, katanya emang privasi kamu juga"
"Kak Winwin dateng kerumah malem-malem, bilang kalau ibu mau ketemu aku"
"Terus? Kamu mau ketemu?"
"Malas"jawab Jaemin singkat lalu berdiri ketika melihat Jeno sudah selesai mandi
"Jae kerja?"
"Enggak, Jae minta libur dua hari, kakak mau kemana sekarang?"
Jeno tampak berpikir, tanpa menatap Jaemin
"Es krim"
•••
"Kakak kalau mau makanan ambil ya?"Jaemin tersenyum lalu mulai memilih makanan yang ditata rapi di setiap rak nya
"Kamu itu emang gak bisa milih makanan atau gimana sih?"
"Bisa kok, itu kan emang merk yang sering aku beli"
"Liat gizi nya dong, kak Jeno bisa kekurangan gizi kalau gitu, pantesan kamu pendek terus karena kurang kalsium"
Jaemin menatap semua belanjaannya yang Chaeyoon kembalikan ke tempatnya
"Lagian beli mie instan terus, apa kabar usus mu itu"
Chaeyoon mendorong kereta belanjaan yang semula dipegang Jaemin
"Kemana heh?!"
Jaemin mendengus pelan, berlari agar bisa menyusul Chaeyoon
"Beli tuh sayur..makanan yang banyak gizinya, protein lah serat lah..jangan mie instan yang dibanyakin"
Jaemin yang kena omel hanya diam, sesekali mengejek ucapan Chaeyoon yang menyebalkan
"Pokonya hari ini biar aku yang milih makanannya, oh iya.."
Chaeyoon menatap Jaemin yang tidak mengerti
"Kak Jeno mana?!"
•••
"Adik kurang ajar, kakak sendiri ditinggalin"
"Sumpah deh, aku gak inget kalau kak Jeno ikut, kan biasanya aku belanja sendirian"
"Belajar jadi calon suami yang baik ya?"
Jaemin menarik nafasnya, menahan umpatan nya yang berada diujung lidahnya
"Aku berjanji akan memukuli mu, Song Chaeyoon"
"Hanya bercanda, begitu saja marah, benar tidak kak Jeno?"yang ditanya pun hanya mengangguk membuat Jaemin mendorong pelan bahu Jeno
"Kakak jahat"
Jeno hanya tertawa mendengar Jaemin begitupun Chaeyoon
"Kalian benar-benar.."
Jaemin menggembungkan pipinya, membuat Jeno mencubit pipi Jaemin keras
"Kakak Sakit!"
"Lagian itu pipi atau bapau?"
Jaemin memandangi Chaeyoon sengit sebelum mengambil kaleng sarden dari dalam kantung plastik dan hendak melemparkannya pada Chaeyoon
•••
"Ini dia.."Jaemin menaruh masakan yang masih panas diatas meja
Chaeyoon sudah pulang karena harus menyelesaikan sesuatu
"Ditiup dulu..panas"
Jaemin mengurungkan niatnya untuk makan ketika indera pendengarannya mendengar telepon rumahnya berbunyi
"Halo?"
Senyuman manis di bibir Jaemin memudar, mendengar suara dari seberang sana
Tbc.
Tom and Jerry yang nyata itu Jaemin sama Chaeyoon disini 😅
KAMU SEDANG MEMBACA
Hey Brother
Fanfiction"apapun alasannya, dia tetaplah kakakku dan jika kau berani menyentuhnya, bersiaplah untuk tidak bisa menggunakan anggota tubuhmu lagi" Lee Jaemin, salah satu remaja yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolah dan harus bekerja untuk menghidupi...
