[ 4.6 ] Hujan

2.4K 214 13
                                        

Jaemin menemani Jeno yang tiba-tiba ingin pergi ke taman yang biasa mereka datangi.
Mereka sempat membeli roti untuk memberi makan angsa-angsa disana.
Sebelumnya Jeno meminta agar pergi berenang tapi Jaemin terlalu khawatir dan akhirnya menyarankan untuk pergi kesini.

Chaeyoon sudah mulai tenang tadi, tidak lagi menangis seperti kemarin.
"Kak, aku mau beli minum dulu ya? Kakak jangan kemana-mana"

Jaemin bangkit dari duduknya lalu berlari menuju toko. Ia mengambil sekaleng kopi dan susu kotak untuk Jeno.
Jaemin juga membeli beberapa cemilan untuk mereka.
Hujan mulai turun karena memang hari ini cuaca tengah mendung,
"Astaga kak Jeno!"Jaemin cepat-cepat membayar belanjaannya lalu hendak berlari untuk menarik Jeno untuk berteduh.

Ia urungkan niatnya saat melihat Jeno tengah bermain hujan, berputar sembari merentangkan tangannya.
Menikmati tetesan air dari langit yang membasahi tubuhnya, sesekali ia meloncat ke kubangan air hingga airnya menyiprat.
Jaemin senang sekaligus ingin menangis melihat kakaknya, orang-orang selalu menilainya sebagai anak autis tidak berguna dan membuat mereka mengganggu nya.

Dan baginya, Jeno adalah kakak yang paling sempurna untuknya walaupun kondisinya seperti itu.
Jeno bertepuk tangan sambil tertawa, kembali berlarian tak peduli suhu udara yang mulai dingin.
Jaemin juga sengaja membiarkan Jeno bermain hujan lalu dia akan mengajaknya pulang dan makan ramen dan Jeno akan meminta Jaemin untuk menukar mangkuknya dengan mangkuk milik Jeno.

"Kak! Ayo pulang! Kita makan ramen"

•••

"Kak.."

"Kalau ada yang mengganggu kakak..lawan saja. Tidak usah takut karena kakak tidak salah"
Jeno memiringkan kepalanya, ada yang aneh dengan Jaemin.
"Nanti kakak bakal tinggal sama orang lain, kakak jaga dia ya? Biar Jae gak khawatir"

"Tidak mau!"
Jeno meletakkan mangkuk yang sudah kosong itu kasar ke atas meja
"Tidak mau! Jae harus tinggal sama-sama!"

"Jae gak boleh pergi..."
Jaemin tersenyum tipis lalu mengusap pipinya kasar.
"Nanti kan kakak juga punya rumah sendiri, masa Jae haru ikut"

"Jahat!"

"Kak"Jaemin menatap pintu yang menelan Jeno masuk ke dalam kamar. Secara umum Jaemin tidak bisa tinggal bersama Jeno. Mereka akan punya kehidupan masing-masing nantinya.
"Kak, buka pintunya. Jae mau tidur juga"

Jaemin menghela nafasnya, Jeno mungkin sudah tidur sekarang.
Setelah mencuci mangkuk bekas ramen, Jaemin merebahkan tubuhnya di sofa, mencoba tertidur walaupun hanya ditemani jaketnya agar tidak kedinginan.
Jeno keluar dari kamar dengan membawa dua selimut dan bantal. Kakak dari Lee Jaemin itu menyelimuti sang adik lalu berbaring dilantai dan menyelimuti dirinya sendiri.

"Jae...jangan pergi.."

•••

Jaemin membuka matanya perlahan. Cukup terkejut melihat dirinya memakai selimut dan di dahinya ada handuk basah.
Seingatnya Jeno yang bermain hujan, tapi kenapa dirinyalah yang dikompres
"Jae udah bangun.."

"Benarkah? Masih demam gak?"Jeno menyingkirkan handuk di dahi Jaemin lalu menyentuhnya dengan telapak tangannya sendiri,
"Masih"

"Tiba-tiba sekali demam seperti itu. Kak Jeno makan dulu nih"Jaemin bangun dari tidurnya dengan tubuh yang pegal-pegal, menatap Chaeyoon yang tengah menyiapkan sarapan.
"Dokter Hyun Ji menelponmu, dia bertanya kemana kamu membawa Jeno. Seharusnya dia diperiksa lagi sekarang"

Hey BrotherTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang