Mas Adi bersalaman dan memeluk Ayahnya itu, aku melihat bahagianya dia ketika bertemu sang Ayah.
Ternyata dia juga keturunan Abdi Negara, yaitu seorang masinis. Mungkin Om Hadi lulusan dari STPI (Sekolah Tinggi Perkereta apian Indonesia) makannya dia jadi Masinis.
"siapa ini nak?" tanya Om Hadi pada Mas Adi
"pacar Adi, Yah..yang Adi ceritakan bertemu di kapal"
"pacar?! Dia bilang gue pacarnya? Apa jangan jangan dia beneran serius sama gue?" batin ku lagi lagi berharap
"Damira Om" aku menyalami Om Hadi
*****
Kita pun menuju kerumah Mas Adi, karna ternyata dia punya rumah disini tapi jarang di tempati semenjak ibu mas adi pulang ke wonosobo.
Dijalan, Aku dan Mas Adi mengobrol banyak dengan Om Hadi.
"Ra nanti Kamu masak ya" ucap Mas Adi melirik ku menantang
"masak?" ucap ku
"oohhh mau nantang nih? Dipikir gabisa masak? Yeehhh unjuk kebolehan nih" batin ku menyeringai membalas
"mau di masakin apa?" jawab ku
"semalam Mas udah isi kulkas jadi nanti kamu pilih aja"
"oh yaudah"
*****
Akhirnya kita sampai di rumah Om Hadi. Rumah yang megah, besar dengan nuansa classic ini membuat ku nyaman sekali memandang.
Ada kolam renang dan taman kecil di belakang rumah ini, serta kolam ikan dan taman kecil didepan rumah ini. Garasi yang cukup luas dengan 1 unit motor klx dan sepeda gunung mendiami garasi itu.
Masuk kedalam rumah, disambut oleh sebuah vigura foto keluarga terpajang sangat besar. Hampir memenuhi sebagian dinding ruang keluarga ini.
Foto itu adalah foto keluarga Mas Adi, ada Ayah dan Ibunya, Mas Adi serta kedua adiknya.
"Ayah ke kamar dulu ya mau mandi..di nanti tolong pakian Ayah di bawa ke laundy ya" ucap Om Hadi membawa kopernya
"iya Yah" ucap Mas Adi
Om Hadi menaiki tangga menuju ke kamar, lalu aku meletakkan tas selempang ku di meja ruang keluarga dan bersiap untuk masak.
Tapi, Mas Adi justru menarik tangan ku dan membiarkan ku duduk disamping nya. Sangat dekat hingga saat aku duduk, posisi hidung nya menempel di hidung ku.
Aku menatap benar benar jatuh dalam tatapannya.
"Mas.." aku mendorong dadanya agar menjauh
"eeehh ehh gaboleh?" ucapnya kembali mendekat kearah ku
"boleh tapi tunggu Papa mau jadi wali nikah oke, aku mau masak"
Aku beranjak bangun dari duduk ku dan menuju ke dapur.
Aku menuju kedapur yang lumayan megah, mengambil celemek yang menggantung dan memakainya. Aku mengikat rambut ku terlebih dulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perwira Pelautku {Extra Part}
Fanfic"Jika kalian memandang menjadi istri seorang prajurit adalah suatu kesenangan karna terjamin, kalian salah karna suka duka hidup bersama prajurit itu berat" "Perwira bukan hanya mencintai wanita tapi dia mencintai negaranya, dia rela berkorban nyaw...
