7 month

3.9K 209 3
                                        

2 hari berada di rumah sakit membuat ku menjadi puas saat sudah keluar dan pulang kerumah ku. Ya dari yang kalian tau rumah sakit itu memang tak menyenangkan, bau obat, bertemu dengan suster dan dokter, mungkin bagi sebagian orang dirumah sakit dan bertemu petugas medis itu menyenangkan. Jika petugasnya tampan/cantik hehe.

"mas ga ngantor? Dari kemarin dirumah sakit jagain aku" ucap ku pada suami ku yang kini tengah fokus menyetir mengantarkan ku kerumah papa dan mama.

"setelah antar kamu kerumah papa mama nanti mas langsung ke kantor. Sengaja mas kemarin ambil cuti buat jagain kamu.." sahutnya.

"seragamnya?"

"tuh di gantung di belakang..."

Aku mengintip kebelakang lewat spion yang terletak di atap tengah mobil ini. Benar saja di bagasi memang ada beberapa seragam Mas Adi yang tergantung rapi. Ada ada saja dia.

15 menit perjalanan aku sampai dirumah papa dan mama. Saat itu aku langsung disambut hangat oleh ponakan ponakan ku yang sangatt lucu. Rencananya aku akan tinggal beberapa hari dirumah mama untuk memulihkan kondisi ku juga.

Setelahnya aku masuk kedalam kamar ku yang memang sudah jarang di tempati oleh siapapun. Mungkin hanya ponakan ponakan ku saja. Mas Adi membantu ku membawa tas kami, ya dia juga ikut disini pastinya walaupun jarak tempatnya dinas dan rumah mama itu lumayan jauh.

"Mas langsung berangkat ya.. Kamu beresin baju baju Mas sendirian gapapa kan?" sebuah pertanyaan yang jarang sekali aku dengar karna Mas Adi pasti membantu ku.

"ganti baju sekalian mas.."

"mas ambil seragamnya dulu"

Aku mengangguk mengiyakan ucapan suami ku yang kini melesat keluar kamar mengambil seragamnya di mobil tadi. Aku juga menyambi membereskan beberapa pakaian yang ku bawa, rencana nya aku akan tinggal disini satu minggu.

*****

"nanti kemungkinan mas pulang malam karna ada pelatihan taruna taruni AAL di pelabuhan, jangan tunggu mas ya.. Istirahat" ucap Mas Adi setelah seragamnya telah siap rapi.

"jangan lama lama baby girl kangen nanti.."

"baby girl atau bundanya.. Hm?" tangannya lembut mengelus perutku yang besarnya.

"maybe dua duanya"

"iya iyaa nanti ayah cepat pulang"

Aku melihat Mas Adi keluar kamar tanpa menggunakan sepatu Pantofelnya. Padahal sepatunya tadi aku taruh di rak sepatu milikku yang berada di dekat kamar mandi kamar ku.

Aku membuntutinya keluar kamar hingga iya terdiam menatap kedua kakinya.

"sepatunya di kamar ayah.. Masa udah ganteng gapake sepatu" ucap ku di belakang nya sambil menahan tawa.

Mas Adi membalik badannya menatap ku yang cekikikan. Dia hanya menutupi wajahku sekilas dengan telapak tangannya yang cukup besar.

Niat ku kebawah mengambilkan air putih hangat untuknya karna sejak tadi dia belum minum air. Pasti dia haus.

Sesaat aku kembali ke kamar dan Mas Adi sudah siap sedang merapikan tali sepatunya.

"loh ko udahan" ucap ku melihat Mas Adi sudah akan keluar kamar

"udah siang Bunda nanti Ayah kesiangan dimarahin pak Jendral.. Berangkat dulu.. Assalamualaikum"

"wa... Ini airnya? Alaikumsalam"

Batin ku berkata untuk aku meminum airnya sendiri. Huft Suami diambilkan minuman malah pergi.

Eitssss. Mas Adi balik lagi masuk kedalam ku setelah aku menelan beberapa teguk air yang ku bawa.

"kamu udah minum airnya?" tanya nya

Aku mengangguk dan akan menghapus sisa air yang ada di bibirku.

"jangan di usap"

Mas Adi mendekat dan agak membungkuk di hadapan ku. Dia memegang dagu ku dan /Cup kecupan yang cukup lama bahkan Mas Adi sedikit melumatnya.

Aku hanya terdiam tanpa berbuat. Menahan gelas agar tidak tumpah membasahi seragam seseorang yang saat ini sedang merebut bibirku secara tiba tiba.

"manis" ucapnya setelah menarik bibirnya dari bibirku

"ko gitu kan kaget" ujar ku menunduk.

"aku ga haus.. Kasian istriku udah ambilin aku air tapi aku ga minum, jadi ak-"

"ga gitu juga"

"ngambek ni?"

"nanti kalo tiba tiba mau lagi gimana?"

'eh sumpah ngomong apa aku.. Ya kali gagagagaga arghh' batin ku yang memberontak akan perkataan ku tadi.

"nanti pulang dari pelabuhan.. Berangkat dulu ya, baik baik anak anak ayah"

Mas Adi pergi dari kamar setelah aku mencium punggung tanganya. Ku fikir fikir dalam ilmu kedokteran, ucapan ku tadi wajar wajar saja. Tapi ya tetap aku tak bisa melakukan yang lebih dari itu karna khawatir janin ku.

***

"kak 7 bulanan nanti mau seperti apa?" tanya mama saat aku bersantai di ruang tv.

"ikut adat nya mama aja kakak gapapa.. Mas Adi juga pasti setuju kalo ikutin adat mama" sahut ku

"yaudah tinggal cari hari aja sama simbah nanti biar papa yang telfon simbah deh"

"rujakan 2 bakul ma? Kan anak laki laki dan perempuan"

"iya dua baskom besar aja cukup.."

Aku mengangguk sebagai jawaban untuk mama. Dan mama kembali ke dapur karna tadi mama sehabis belanja stok makanan.

"anak kakak laki laki dan perempuan, harapan kakak siapa anak pertamanya?" tanya mama dari dapur yang terdengar sampai ruang tv.

"harapan kakak anak laki laki dulu ma.. Karna dia bisa menjaga adik perempuannya dan bisa jadi pemimpin juga. Kalopun harus anak laki laki juga bisa jadi penerus ayahnya"

"kalo sekiranya dua duanya jadi penerus ayahnya?"

"ummm tergantung ayahnya"

Keheningan dikala itu pecah ketika David berpamitan akan pergi kuliah. Dan setelahnya kembali hening sampai anak anak Mas Davin pulang sekolah.

"anteuuu!!!!." ya tak ada setengah jam, jagoan yang ditunggu datang bersama mami tercintanya.

"Bang Daffa udah pulang?" sapa ku pada ponakan lucu ku yang saat ini sedang menempuh sekolah PAUD.

"udah anteu.. Abang di jemput mami tadi pagi papi yang antelin abang ke sekolah" ucapnya.

"abang mau dianterin sama Om Adi ga?" penasaran dengan jawaban dari pertanyaan ku itu. Karna jujur Daffa takut dengan Mas Adi.

"ndak! Om galak" jawabnya yang masih manja

"siapa bilang.. Nih di perut anteu ada anak anaknya om, ga galak ko anak anak om aja bisa besar nih" ujarku menunjukkan perut ku.

"kata mami Tentala itu galak anteu jadi abang ndak boleh nakal nakal sama tentala" aku tertawa mendengar jawabannya itu. "anteuu nanti kalo dede bayi nya kelual.. Abang pengen pelempuan kalena- abang pengen punya adik pelempuan bial bisa abang ajak main bonekaan"

"masa laki laki main boneka bang"

"nanti abang jadi tentala tlus dede bayi jadi istli abang"

"abang.. Diajarin siapa begitu hm?" tanya Mbak Stella yang turun dari kamar.

"Oom" sahutnya. Oom adalah panggilan David dari Daffa

"ooh oom yang ngajarin? Biarin nanti oma marahin oom nya"

"jangan oma.. Nanti oom nangis oma ndak punya balon buat oom"

Seisi ruangan ini hanya tergelak mendengar semua pengakuan dari sosok Daffa Attala yang sangat menggemaskan itu.




Siang dan selamat sore!

Maaf baru up karna kemarin knock 😭



Perwira Pelautku {Extra Part}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang