Bertemu lagi. ²⁰

1.8K 159 5
                                        

Rambutnya berkibar terkena angin sore. Wajahnya datar menatap tajam ke depan. Dia tidak marah atau kesal dengan suatu hal. Itu adalah salah satu ekspresinya ketika tamunya datang.

Angga dan Justin yang melihatnya hanya bisa menghela nafas, semua mata melirik kearah Luna namun segera teralihkan karena wajah gadis ini sungguh menyeramkan.

"Bisa lo ubah ekspresi lo Lun? Muak gue liatnya" ujar Angga.

Luna menengok, "Muka gue kenapa? Dari dulu udah cantik kali"

"Muka lo jangan galak-galak"

Luna menghela nafasnya, "Gue ga bisa ganti muka gue jadi baik. Mending galak biar ditakutin."

Ketiga orang itu mengunjungi cafe dekat laut sebagai tempat tongkrongan.

Luna selalu menatap matahari tenggelem, sangat terpukau dengan pemandangan itu. Isi galerinya pun hanya pemandangan laut itu.

"Gue ke sana dulu" pamit Luna menuju ke arah laut.

"Jangan jauh-jauh"

"Iya"

Ini hari sabtu, kebiasaan mereka pergi bertiga untuk hari ini.

Luna meninggalkan sepatunya dan berjalan dengan telanjang kaki diatas pasir putih.

Luna tersenyum melihat gulungan ombak yang terlihat menyeramkan namun tenang.

Luna menyukai ombak seperti itu karena ombak itu mewakili dirinya. Tenang namun bisa menghanyutkan.

Luna berjalan menunduk memperhatikan kakinya melangkah berjalan di atas pasir. Sudah lama dia tidak bermain di laut ini.

Dia menghentikan langkahnya melihat kedua kaki berdiri di depannya lalu mendongak.

Luna menghela nafasnya lelah, "Kenapa cowo tinggi-tinggi?" Gerutunya menunduk singkat dan kembali mendongak.

"Apa?"

"Lo emang selalu nguntit gue" ujar Luna melanjutkan jalannya mengabaikan lelaki itu yang sudah mengikuti langkahnya.

Luna berhenti menghadap kearah matahari, sebentar lagi terbenam.

Lelaki itu membalik tubuh Luna dan memakaikan kacamata hitam kepadanya lalu kembali memposisikan Luna seperti semula.

Luna mengernyit menengok kearah lelaki ini yang ikut menyaksikan terbenamnya matahari.

"Lo aneh."

"Kamu pernah tenggelam di laut ini."

Luna menengok mendengarnya, "Tenggelam?"

Dia mengangguk, "Beruntung aku narik rambut kamu yang panjang jadi kamu ga jadi tenggelam"

Lelaki itu membalas tatapan Luna, "Itu alasan mereka ga mau kamu potong rambut, salah satunya."

Luna sedikit menurunkan kacamatanya agar melihat lelaki ini dengan jelas.

"Lo Riko kan?"

Riko mengangguk, "Lo emang temen abang gue?"

Riko terdiam melihat ke depan tidak menjawab, "Kamu masih enam tahun dan kamu berusaha ikut aku dan abangmu berenang di tengah laut."

Riko kembali menatap Luna yang masih menyimak ceritanya, "Kita pake ban pelampung karena kamu juga ikut."

"Saat itu air lautnya lagi tinggi dan kita maksain diri berenang. Kamu duduk di atas ban pelampung dengan posisi kaki di tengah ban dan saat ombak menghantamnya kamu merosot dari ban dan jatuh ke air. Aku langsung tarik rambut kamu dan gendong kamu"

BABY MONSTERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang