Ameera ²¹

1.6K 136 2
                                        

Keadaan ruang keluarga sangat ramai. Bukan karena para orangtua melainkan para pemuda yang kemarin malam menginap di rumah besar ini.

Hari minggu membuat mereka bebas melakukan apapun.

Shiva dan Julian hanya bisa tersenyum, jarang-jarang rumahnya ramai seperti ini.

Luna baru saja turun dari kamarnya, "Bun" panggil Luna.

"Kenapa?"

"Tangan Luna sakit"

Shiva memeriksa tangannya, "Kenapa? Siku kamu juga lecet"

Luna menunjuk ke arah tangannya yang terasa sakit, "Luna dijeburin ke laut, kurang ajarkan"

Shiva mengurutnya dengan pelan, "Di sini?"

"Bukan. Ini di sini Bunda, bukan. Di sini."

"Di mana?!" Kesal Shiva.

"Ah bunda ga asik! Biar abang aja!"

Shiva berdecak menatap putrinya kesal, dia sangat bersyukur memiliki putri seperti Luna.

Luna duduk di samping William yang lagi santai meminum sodanya, lelaki ini sangat suka soda.

"Abang tangan Luna sakit."

William meliriknya, "Abang bukan tukang urut."

Luna berdecak kesal lalu berdiri menjauhi abangnya, William menahan tangannya.

"Mau kemana?"

"Tukang urut."

Luna berjalan keluar sendirian dengan kesal, Shiva hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Luna!" Panggil William yang diabaikan Luna.

Luna duduk diayunan besi depan rumahnya, mengusap tangannya yang terasa sakit. Entah kenapa padahal waktu malam dia tidak merasakan apapun.

Luna memijatnya sendiri meskipun itu tidak berasa. Luna kembali memeriksanya saat selesai dipijat.

"Sakit!" Raung Luna kesal.

"Biar aku liat"

Luna terkejut menengok ke belakang tubuhnya, "Riko"

Riko hanya berwajah datar menarik tangan Luna yang sakit, Luna langsung menariknya menjauh.

"Gue gapapa"

Riko tidak mendengarkan dan kembali menarik tangan Luna.

"Awh!" Teriak Luna saat Riko berhasil mengurut ditempat yang benar.

Riko menatap Luna yang meringis sakit, tangannya mengacak rambut Luna dan pergi begitu saja.

Luna yang masih meringis menatap kepergian Riko lalu menghilang, "Orang itu bener-bener penguntit"

Luna mencoba menggerakannya lagi dan tidak sakit.

"Tukang urut handal dia" gumam Luna lalu kembali bersantai di atas ayunan.

Luna kembali menegakkan tubuhnya melihat seseorang datang membawa bingkisan makanan.

"Pengantar makanan? Ga mungkin lah masa ibu-ibu"

"Tunggu. Kayaknya gue pernah liat. Nenek!" Seru Luna kencang hingga wanita itu menatap kearahnya.

Luna berjalan mendekat, dia nakal tapi sopan, kecuali sama pak Nono.

Wanita itu tersenyum melihat kearah cucunya.

"Siapa namamu?"

"Luna." Mata Luna tidak bisa untuk tidak kepo apa yang dibawanya.

BABY MONSTERCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang