30% Kenapa Harus Aku?

57 15 16
                                        

Hexa menatap tak suka ke arah Rahma. Kemudian ia berdiri dan berjalan keluar, menghindari perdebatan yang tidak berfaedah. Para siswa sudah banyak yang masuk ke dalam kelas. Rahma mendesis kesal, dengan hati-hati ia memasukan kalung emas berhuruf RM miliknya ke dalam tas Hexa. Itu rencananya

"Woy! Lagi ngapain?" Salsha yang mausk langsung mengagetkan Rahma. Ia sedikit terkejut, sebisa mungkin membuat mimik wajahnya biasa-biasa saja. "Gak apa, aku cuman nge-cek," bohongnya. Dengan cepat ia menepuk rok dan kembali duduk di kursinya. Salsha merasa ada sesuatu yang tak beres dengan Rahma. Tapi, ia menepis semua pikiran buruk itu.

Diambang pintu Hexa melihat Tiara berjalan masuk dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. Hexa tersenyum dan menyapanya.

"Hai Tiara!" Sapa Hexa sambil  berjalan mengikuti Tiara ke bangku.

"Hai, Xa. Udah dari tadi?" Tara Tiara

"Tiara, aku mau tanya dong. Menurut kamu, kak Alex itu seperti apa?"

"Seperti manusia,"

"Yang lain?"

"Seperti cowok,"

"Yang lain lagi?"

"Seperti kakak yang baik,"

"Yang lain?"

"..."

Hexa cemberut, kali ini Tiara tak membuka suaranya. Hexa memposisikan duduknya dari menghadap Tiara ke arah papan tulis berada. Hari senin jam pelajaran memang lebih lambat di mulai, guru melalukan brifing dulu sebelum mengajar. Lalu, ia memasangkan earphonenya. Menyetel lagu kesukaannya 'Ruang Rindu'. Ia menyukai suara khas sang penyanyi, merdu dan menyentuh hati. Menurutnya.

"Xa, lo gak mau liat jadwal UAS minggu depan?" Tanya Laura, teman yang sebangku dengan Rahma. Hexa tak mendengar itu, ia masih asik menghayati alunan bait lagu tadi.

"Woy!" Bentaknya. Hexa menengokkan kepalanya ke arah Laura, lantas ia langsung melepaskan satu earphone kirinya.

"Kenapa Laura?"

"Lo gak mau lihat jadwal UAS di mading?"

"Eh jadwal? Hexa kok gak tahu?"

"Ah lo mah pasti keluar duluan pas upacara tadi, padahal ada pengumuman tambahan soal ujian akan dilaksanakan minggu depan. Noh jadwalnya juga udah di tempel pake lem takol,"

Pantas saja mereka telat datang ke kelas, rupanya melihat dulu jadwal ujian. Batin Hexa, "terus jadwalnya apa aja Ra?"

"Gue kirim WA ya,"

"Oke,"

Tring.... nada sebuah pesan masuk. Ia langsung mengunduh file berbentuk JPEG tersebut. Sederet jam pelaksanaan, mata pelajaran sampai pengawas terpampang jelas di sana.

"Eh..eh tunggu deh. Kita bakal sekelas sama kelas XII IPA 1?" Tanya Hexa yang langsung di jawab anggukan oleh Laura.

"Di sana kita di bagi dua ruangan. No. Absen 1-18 ada di ruangan 1, nah yang No. Absen 19-36 di ruangan dua," papar Laura. Mata Hexa berbinar, ia jadi tak sabar ingin segera hari H UAS. Takdir tak akan lupa di mana tempat asalnya bermuara.

***

Bosan. Sungguh bosan, tidak ada yang dipahami dari pelajaran didepannya. Hexa beberapa kali menguap. Matanya terus melirik jam yang melekat ditangannya. Masih lama. Ditambah sekarang ada cowok yang membuatnya sebal. Dari tadi, gulungan kertas terus dilempar padanya. Meski berulang kali Hexa juga membalas lemparannya, tak membuat cowok menyebalkan itu jengah. Siapa lagi jika bukan Adelio yang sekarang sekelas dengannya. Hexa harus menerima kenyataan menyedihkan bersama cowok alien yang sering mengganggunya.

"Bu, kalung saya hilang. Tadi waktu nyimpen tas buat upacara masih ada, tapi setelah saya masuk dan barusan di cek. Kalungnya hilang." Kata Rahma dengan tampang terkejut.

Seisi kelas menjadi berbisik, guru yang mengajar  berdehem. "Apa kamu tidak lupa menyimpannya?" Tanya sang guru.

"Enggak bu. Kalau upacara, saya jarang pakai kalung. Tapi, waktu ke kelas, aku lihat Hexa udah di sini duluan." Katanya. Hexa terkejut namanya disebut. Kini Hexa menjadi tatapan delik seisi kelas.

"Kok ke aku?" Tanya Hexa heran.

"Kan tadi kamu yang ke sini duluan." Sergah Rahma

"Cek aja bu, tasnya." Usul Putri.

Guru tersebut berjalan ke arah Hexa yang memindahkan tasnya ke atas bangku. Ngapain juga aku maling kalungnya dia. Gak ada kerjaan banget. Batin Hexa dongkol. Guru tersebut membuka resleting paling atas dan mulai merogohnya, tidak ditemukan. Kemudian ke bagian kedua, tidak ditemukan. Dan terakhir saat memeriksa sisi tas, guru tersebut terekejut mendapati sebuah kalung emas.

"Rahma, bagaimana bentuk kalung itu?" Tanya sang guru.

"Kalungnya emas, ada huruf RM."

Hexa membelalak melihat sebuah kalung di dalam tasnya.

"Xa, kok ada kalung?" Tanya Tiara yang ikut terkejut.

"Wah ada maling di kelas kita nih. Gak aman banget."

"Maling ya. Gak punya biaya buat bayar SPP bulanan?"

"Kelas kita gak aman!"

"Bu, pindahin kelas aja dia, buat kerusuhan mulu. Kemarin aja pernah dikeluarin gara-gara tidur dikelas,"

Hati Hexa merasa di remas, ia tidak pernah melakukan hal yang buruk seperti itu. Air matanya tidak bisa ditahan, Hexa menangis. Kenapa ia di benci seperti itu oleh teman-temannya.

"Hexa dan Rahma. Nanti istirahat ke ruangan saya! Baik. Pelajaran kali ini ibu sudahi. Selamat siang." Katanya.

Seisi kelas langsung mengerumuni bangku Hexa dan Tiara.

"Tiara, lo keluar sono. Cepet keluar!" Paksa cewek dan membuat Tiara terhempas ke lantai.

Hexa kini menundukkan wajah sambil terisak.

"Heh, lo itu kenapa buat masalah mulu sih di kelas. Jadinya kelas kita di cap kelas gak bener sama guru yang ngajar."

"Lo itu emang pantes di giniin. Cewek ganjen, yang bisanya cuman ngegoda kakak kelas. Gak tahu malu."

"Makanya kalau gak punya duit. Jangan sekolah di sini."

"Woy! Kalian ngapain? Kagak ada kerjaan banget.  Sono bubar!" Kata Adelio.

"Eh lo murid baru, jangan so soan jadi pahlawan deh. Lo kena dukunnya cewek ini?" Tanya Rahma

"Gue berhak buat bantu temen. Salah?"

"Udah deh, dari pada lo kena sialnya ni cewek, mending jauh-jauh sono."

"Heh Xa!" Rahma menjambak rambut Hexa keras. Membuat Hexa menjerit sakit. "Akhh! Rahma lepasin!" Ronta Hexa.

"Ini pelajaran buat lo yang udah maling barang gue. Dan udah rebut Alex dari gue."

"Akh! Hiks... Hiks.. Hiks.." Hexa menangis sesegukan. Ditambah tawa menggelegar dari teman-teman ceweknya. Dari 11 cowok, mungkin hanya Adelio yang mau membelanya.

"Rahma! Lepasin tangan lo." Adelio mencengkeram tangan Rahma kuat. Membuat Rahma meringis sakit. Adelio membawa Hexa yang menangis keluar dari kelas.

"Alex siapa? Lo ada hubungannya sama nama cowok itu?" Tanya Adelio Khawatir. Hexa mengangguk.

"Hiks.. kenapa Hexa di benci banget sama temen Hexa sendiri. Padahal Hexa gak pernah nyakitin mereka."

"Xa, kamu enggak apa-apa?" Tanya Tiara merasa cemas. Hexa berusaha tersenyum dan menggeleng. "Enggak kok Tiara. Maaf ya, udah buat kamu gak nyaman sebangku sama aku." Kata

___________________________________________

Akhirnya bisa update lagi. Kasihan Hexa ya:(

Go 100%

Thanks

Honey

Hai, Kak Alex!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang