Empat puluh empat

2.6K 311 26
                                        

Dua minggu setelah persoalan pesan yg dikirimkan Max akan dirinya yg kembali, Tay, Off dan semua anggota timnya berupaya melakukan pencarian lebih lanjut.

Namun si Max itu seolah seperti hantu yg tidak bisa di ketahui keberadaannya. Gun sudah berusaha melacak jejaknya namun berakhir nihil.

Di tambah mereka juga masih harus mengerjakan kasus lainnya yg tidak kalah penting, menjadikan pencarian yg di lakukan beberapa kali mengalami hambatan.

Namun Tay dan semua anggota GIU tetap berusaha sebaik mungkin untuk cepat menemukan Max dan menyusun rencana menghadapi kemungkinan yg akan terjadi.

Pukul satu dini hari, Tay terbangun dari tidur lelapnya karena mendengar suara seperti pintu yg di dobrak paksa dan kaca yg pecah.

Langsung saja Tay membangunkan New dan mengambil pistol miliknya di dalam laci nakas yg berada di sebelah tempat tidurnya juga meraih ponselnya. Tay beranjak bangun dan berjalan ke pintu kamar, meminta New untuk jangan bersuara dan tetap di atas tempat tidur.

Tay mengirim pesan ke GIU untuk meminta bala bantuan, setelah itu dirinya menghubungi satu orang lainnya untuk dimintai bantuan juga.

Suara langkah kaki di ruang tv terdengar hingga kamar, Tay bisa memperkirakan ada sekitar dua orang yg memaksa masuk rumahnya itu.

Sebelum dirinya membuka pintu kamar, Tay jalan mendekat pada New dan berbisik menenangkannya. "Tenang... kamu akan baik-baik aja, mas janji."

"Sekarang dengerin mas, di saat mas buka pintu dan ngalihin perhatian orang-orang itu, kamu langsung lari lewat pintu belakang, akan ada seseorang yg jemput kamu nanti dan bawa kamu ke tempat aman."

"Tapi, aku ga mau ninggalin mas sendirian, kalau mereka nekat ngelakuin sesuatu ke mas gimana?"

"Ga akan, mas bisa ngelindungin diri sendiri. Mas janji jemput kamu setelah semuanya aman." Kemudian mereka sama-sama mendengar langkah kaki yg mulai mendekat kearah kamar.

"Tapi mas ak- " belum selesai New bicara Tay sudah memotongnya, "New! Dengerin saya sekali ini aja!" Tay tidak sengaja kelepasan membentak New dengan suara yg tertahan tentunya. Dirinya tidak mau dua orang itu mengetahui keberadaan mereka.

Hal ini lantas membuat hati New seperti mencelos, baru pernah dirinya mendengar Tay menaikkan nada suaranya seperti ini, entah kenapa rasanya begitu menyesakkan.

Tay buru-buru meminta maaf pada New saat melihat yg lebih muda seperti akan menitikkan air mata. "Maaf, mas ga maksud bentak kamu. Please, sekali ini aja ikutin apa yg mas bilang, janji?" tanyanya pelan.

New menganggukkan kepalanya pelan namun kedua matanya tidak melihat pada Tay melainkan arah lain. Tay pun mencoba menghiraukan hal itu, yg terpenting saat ini adalah mengamankan New dan meminta maaf lagi nanti.

Tay menarik lengan New untuk berdiri di belakangnya, "orang yg jemput kamu nanti, dengerin arahan orang itu baik-baik, dia akan jelasin semuanya."

"Inget, kalau mas bilang lari kamu langsung lari secepat mungkin, jangan berhenti." kemudian Tay membuka pintu kamarnya perlahan, beruntung sekali dua penjahat tadi sedang tidak berada di depan kamarnya.

Tay berjalan menyamping seperti kepiting dengan pelan, mengarahkan pistolnya ke depan dan ke samping. Dirinya tetap menempatkan New di belakangnya berjalan menuju dapur, saat sudah berada di ruang makan dan membuka pintu belakang, dua penjahat itu tiba-tiba muncul dari arah kamar tamu.

"Lari sekarang!" teriak Tay saat pintu belakang berhasil terbuka. Kedua orang penjahat itu masing-masing memiliki senjata tajam. Tay tidak sempat menembakkan pistolnya karena mereka langsung berlari menghampirinya dan terjadilah baku hantam dua lawan satu.

UNIT INVESTIGASI GMMCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang