"Bisa-bisanya udah sebulan tapi nggak berhasil juga dapatin si perek kecil itu," keluh Jovan menghisap rokoknya karena kesal.
Pemburuannya tak membuahkan hasil. Si perek kecil itu susah sekali ditemukan. Ayden yang bersama rombongan memilih diam karena ia yang selalu menyelamatkan gadis itu dari rencana busuk Jovan dan kawan-kawan.
Apa Ayden tulus? Kita lihat saja nanti.
Cowok itu memilih pura-pura menggigit roti. Selama ini Jovan dan kawan-kawan tak tahu jika ia sengaja tak berkumpul atau pura-pura izin karena ingin terus bersama Delisha. Bersama gadis itu seperti menjadi candunya.
Saat melihat tatapan polos, dia tahu gadis polos tapi sangat cantik itu menyimpan banyak luka di dalam. Ayden bisa melihatnya, bukan berarti ia cenayang atau seorang psikolog handal, Ayden hanya bisa melihat melalui mata itu, mata itu mengatakan segalanya.
Ayden merenggangkan jari-jarinya, diam-diam dia merindukan gadis itu. Dia senang saat melihat bagaimana Delisha melotot padanya, bagaimana ekspresi Delisha yang membuatnya selalu gemas. Masih kecil, tapi kecantikannya bikin geleng-geleng. Bukan mau lebay, terkadang Ayden merasa Delisha seperti bidadari, bukan manusia sungguhan.
Ah, sulit untuk diungkapkan. Dia bukan orang yang sembarangan untuk memuji orang lain, tapi seluruh dunia akan setuju jika Delisha adalah salah satu makhluk bumi tercantik yang pernah ada.
Cowok itu menyesap minumannya dan tak fokus pada temannya yang mulai mengatur rencana, walau dia punya rencana sendiri.
"Lo punya ide nggak? Jebak dia," pungkas Jovan membuang puntung rokok miliknya dan menginjaknya.
"Hm?" tanya Ayden pura-pura tak tahu karena tahu urusannya akan ribet jika mencoba mengikuti ide gila Jovan.
Temannya memang nekat, dan juga tidak akan menyerah.
"Cara lain?"
"Ngikut aja, Bro. Kalian yang lebih banyak ide. Gue ikut aja permainan," jelas Ayden sok berpikir keras.
Cowok tampan itu menyugar rambutnya. Otaknya harus lebih cepat dari teman-temannya jika tidak perkataan Jovan dan teman-temannya benar dilaksanakan.
Ayden tahu temannya ini nekat, dan ya bisa saja gadis polos naif itu jatuh di tangan orang yang salah. Lebih baik dia membuat ide gila yang terdengar konyol atau mungkin tak masuk akal.
Okay! Sepertinya langkah diam-diam tidak akan berhasil, dia akan pura-pura terlibat dalam rencana teman-temannya dan mengeksekusi dengan caranya sendiri.
Diam-diam cowok itu mengulum senyumannya. Dia harus selangkah lebih maju dibanding teman-temannya jika tak mau Delisha berada dalam pelukan Jovan.
"Kita buat taruhan. Siapa yang berhasil ambil perawannya, maka dia jadi pacarnya. Jadi, yang lain nggak boleh ganggu lagi," usul Ayden.
Sontak ke empat manusia yang duduk dalam meja bundar menatap tak percaya pada Ayden yang bisa punya ide segila itu. Otak Ayden lebih jahat dari mereka.
"Anjing, bisa-bisanya lo mikir kayak gitu," maki Rian geleng-geleng.
Ayden mengedihkan bahunya cuek.
Lagian ini cara yang ampuh agar Jovan tak lagi menganggu Delisha.
"Berapa lama tengang waktunya?" tanya Jovan tak sabaran. Tentu saja dia juga punya strategi lain agar rencananya berhasil. Harga diri di atas segalanya, jadi dia tidak akan pernah kalah!
Bendera perang mulai dikibarkan.
Varda, Rian, Ayden anggota geng Abstrak langsung menoleh tak percaya pada si ketua geng yang setuju ide konyol ini. Ini adalah ide yang sudah umum terjadi di dalam novel-novel dan rasanya seperti mustahil untuk dilaksanakan Ayden tahu dirinya pasti berhasil.
KAMU SEDANG MEMBACA
DELISHA (END+LENGKAP)
Teen Fiction"Lo hamil!" ucap Ayden, kekasih Delisha. "A-apa?" tanya Delisha polos. "Lo hamil!" tegas Ayden lagi. "T-tapi." "Kita sering melakukannya, dan kita main tanpa pengaman." "J-jadi?" "Gue mau putus! Terserah mau diapakan anak itu, umur gue masih 1...
