Kenapa malam selalu menakutkan? Kenapa malam selalu gelap? Kenapa malam selalu dingin? Kenapa malam selalu sunyi? Dan kenapa Ananta dulu menyukai malam? Yang baginya sangat mengerikan ini?
Katanya, malam adalah emasnya. Waktunya untuk bisa beristirahat, melepas segala beban dipundaknya. Pun waktu untuknya mengeluh pada bulan dan bintang, yang Ananta bilang itu ayah dan ibunya. Dan waktunya menghela napas senang karna tuhan masih memberinya waktu sampai detik itu. Sesederhana itu si kecil merangkai harinya menjadi lebih bersemangat untuk esok harinya.
Ananta, si anak malang yang selalu ternistakan. Namun, ukiran senyum di wajahnya tak pernah absen barang sebentar. Membekas begitu dalam di mata orang-orang yang menyanyanginya. Menganggapnya ada dan menjaganya. Meski terkadang lelehan air mata menjadi penghias dalam hidupnya.
Dia tidak kuat, namun tidak juga lemah. Dia tidak pandai, namun tidak juga bodoh. Yang selalu ia kedepankan adalah kebahagiaan orang lain. Kebahagiaannya? Itu bisa kapan-kapan. Waktunya masih banyak, katanya.
Sosoknya tak pernah lekang oleh waktu. Dia bilang, dialah pemenang segalanya. Meski tak ada tanda bukti seperti piala atau piagam, misalnya. Ya, dia memang pemenangnya. Dia mampu meluluh lantahkan kerasnya hati Hendra yang setara seperti batu hanya dengan kepergiaanya. Dia mampu membuat mendung langit di bulan Maret. Menciptakan gerimis dan gemuruh yang menggelegar dalam benak hati Hendra.
Dari dulu—dari awal dia membawa anak itu pergi bersamanya, diam-diam Hendra sudah menyayangi sosok kecil itu. Meski Ananta adalah sebab istri dan anaknya meninggal dunia, namun Ananta ia anggap sebagai ganti dari keduanya. Bahkan sebelumnya, saat semuanya masih terasa hangat seperti keluarga. Dimana Ananta masih memanggilnya 'Papa'.
Terlambat. Kata yang tepat untuk menggambarkan rasa sesal dalam diri pria paruh baya itu. Meski waktu itu sudah berjalan lebih dari 2 bulan lamanya. Namun, bekasnya masih sangat segar dalam ingatannya.
Harusnya ia bisa membawa anak itu kembali padanya dengan kasih sayang tulus yang ada, bukan malah mengandalkan Galang yang tidak tahunya malah mengancam Ananta supaya kembali. Bodoh memang, pantaskah sekarang ia disebut sebagai seorang bapak?
Ah, mengingat panggilan itu membuat rindunya makin membara. Mungkin dimata semua orang, Hendra tetaplah orang yang jahat. Namun, di depan pusara si kecilnya, ia tidak lebih baik dari sebuah sampah. Hendra benar-benar buruk menjadi seorang bapak untuk Ananta.
Dengan bersimpuh di atas tanah, Hendra luruh, memeluk gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rerumputan liar. Baunya selalu segar. Mungkin karna masih seringnya orang yang mengunjungi makam tersebut. Samuel, Olive, Galang dan mungkin Athalla. Ia selalu menjadi lemah di depan nisan itu. Tempat peristirahatan terakhir hal yang paling berharga baginya.
"Ananta. Kamu tahu, kenapa dulu Bapak kasih nama itu ke kamu?" tanya Hendra sembari tangannya mengusap nisan bernama itu. Air matanya sudah lolos dengan tidak elitnya, membuat diri Hendra benar-benar buruk sekarang.
"Kamu tahu apa arti namamu?" Hendra menjeda kalimatnya. Seolah berharap nisan itu menjawab setiap kalimat yang ia lontarkan.
"Tanpa batas. Itu artinya. Bapak harap kamu tidak akan pernah berhenti dengan kehidupanmu, sekeras apapun itu. Dan kamu membuktikannya sama Bapak. Kamu selalu menjadi hal yang paling berharga untuk semua orang. Meski kita semua egois."
Hendra mengusap airmatanya kasar. Kembali menengadahkan kepala, menetralisir pening yang tiba-tiba menyerangnya. Sepertinya ia terlalu lama menangis. "Apa kamu bahagia sekarang? Ketemu Mama, Adik bayi, Ayah sama Bundamu? Apa Bapak boleh ikut?"
Tangisnya melebur jadi satu dengan gerimis yang benar-benar turun malam itu. Tidak memperdulikan kotor juga basah kuyup dirinya sendiri. Hendra terus memeluk gundukan tanah tersebut. Mengudarakan sesal yang sudah tak memiliki tempat singgah.
Dilain tempat, dengan duka yang sama namun cara yang berbeda, Athalla duduk tertegun duduk di atas tempat tidur. Kesukaannya selama 2 bulan terakhir ini, mengayunkan kedua kaki ditepian kasur tempat tidur Ananta dulu.
Ia selalu menoleh ke samping, tersenyum lebar dengan airmata luruh tanpa komando. Entah kenapa, ini seperti bahagia yang terlalu berlebihan namun juga sakit dalam waktu bersamaan. Ponsel keluaran terbaru yang baru saja ia beli untuk sang adik, belum lama terpakai dan memang Ananta tidak sering memakainya. Alasannya karna memang belum terbiasa padahal di jaman sekarang barang tersebut menjadi hal yang harus ada jika berpergian selain dompet.
Dari kecil Ananta alias Gian adiknya memang sosok yang berbeda. Dia istimewa. Dia luar biasa. Berbanding terbalik dengan postur tubuhnya yang kecil. Bahkan lebih kecil dibanding dengan Galang.
"Abang, makan malamnya udah siap. Ayo."
Athalla menoleh, mengangguk singkat kemudian baru menghapus airmatanya. Tidak perlu bersembunyi lagi, karna memang kehilangan sang adik lebih sakit dari tertimpa beton dari lantai paling tinggi.
Galang menutup pintu kamar tersebut, bersandar sebentar di balik pintu. Nyatanya, meski ada dirinya di rumah itu tetap tidak akan mengembalikan senyum Athalla yang hilang semenjak kematian sahabatnya. Andai ia bisa menukar nyawanya dengan semuanya, Galang memilih mati demi Ananta dibanding harus tetap hidup di tengah mendungnya kehidupan.
Bukan hanya Athalla yang menjadi sangat sulit ia jangkau semenjak hari itu, Hendra juga. Sosok yang selalu Ananta agungkan itu kini bahkan pergi entah kemana. Meninggalkannya sendiri tanpa pamit. Sama seperti Ananta dulu.
Hening, selalu seperti itu. Entah itu pagi, siang, sore atau malam, meja makan tersebut akan selalu sepi. Tidak ada yang berniat memulai percakapan. Keduanya makan dalam diam.
"Sampek kapan Abang bakal kayak gini terus? Bahkan ini sudah hampir 2 bulan semenjak Ananta pergi," ucap Galang membuncah keheningan.
Athalla menghentikan kegiatannya. Menahan sendok berisi makanan yang beberapa senti lagi masuk ke dalam mulutnya. Namun, detik berikutnya ia menghiraukan suara itu dengan meninggalkan senyum miring sebelumnya.
"Apa adanya aku di sini enggak cukup buat Abang lupain Ananta?"
Athalla meremas sendok di tangannya. Kemudian membantingnya keras sampai suara peraduannya dengan piring membuat Galang yang semulanya menunduk lesu terkesiap kaget.
"Namanya Gian. Bukan Ananta atau siapapun. Dan sampai kapanpun gak akan ada yang bisa gantiin posisi dia termasuk kamu!" Athalla menekan kata terakhirnya. Bangkit dari duduk kemudian melenggang pergi. Tujuannya, tentu saja kamar sang adik, lagi.
Galang merutuki dirinya. Mulutnya itu memang butuh saringan tahu supaya bisa memfilter kalimat yang akan ia ucap terlebih lagi di depan Athalla. Ia menjabak rambutnya, frustasi. Kenapa dari dulu ia selalu menebar duri dimanapun dia berada?
Alhasil, untuk kesekian kalinya, setelah berulang kali ia salah bicara di depan Athalla, Galang menghampiri Athalla lagi. Masuk ke dalam kamar itu tanpa permisi. Memeluk Athalla dari belakang yang selalu dan setiap malam meringkuk di sana. Sembari memeluk bingkai foto adik kesayangannya.
"Maafin aku, Bang. Aku janji gak akan ninggalin Abang lagi," bisiknya tepat di telinga Athalla. Membuat isak tangis Athalla semakin mengisi sendu kamar Ananta dulu. Kalimat penenang sekaligus kalimat menyakitkan yang selalu sukses membuat Athalla berfikir, "Jangan pergi Galang. Jangan tinggalin Abang sama seperti Ananta."
The End!
02 Juni 2020
Awww, suckit harus berpisah sama kalian kenapa aku nulis ini sambil nangis?
Mungkin aku bakalan rindu sama bacotan kalian di sini. Yang ngumpat Galang, Athalla, Hendra bahkan ada juga yang ngumpat Ananta
Rasanya aku gak mau pindah lapak. Udah terlanjur sayang sama Ananta, tp emang harus ending di sini, kasian Ananta, lama-lama aku siksa :)
Btw siapa nih cast Ananta, Galang, Athalla, Hendra dll nya versi kalian? *Mode kepo
Soo sampai ketemu diceritaku yang lainnya semuaaaaaaaaaaaaa. Biar gak ketinggalan update terbaruku nanti jangan lupa *follow me*
Salam sayang dari aku, Calon Masa Depannya Jimin
Guud byeee!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Parashit!
Teen FictionUp ulang - SELESAI 😍😍 "Kapan aku bahagia?" "Setelah kamu mati. Kebahagiaanmu menanti diujung sana." ®Sugarcofeee
