Epilog

2.2K 172 71
                                        

Waktu yang paling ia sukai adalah malam hari. Saat dunia menjadi gelap, dingin, dan sunyi. Presensi dari sosok dirinya yang tidak banyak orang ketahui. Katanya, malam adalah emasnya. Waktunya untuk bisa beristirahat, melepas segala beban dipundaknya. Pun waktu untuknya mengeluh pada bulan dan bintang, yang Ananta bilang itu ayah dan ibunya. Dan waktunya menghela napas senang karna tuhan masih memberinya waktu sampai detik itu. Sesederhana itu si kecil merangkai harinya menjadi lebih bersemangat untuk esok harinya.

Ananta, si anak malang yang selalu menyedihkan. Namun, ukiran senyum di wajahnya tak pernah absen barang sebentar. Membekas begitu dalam di mata orang-orang yang menyanyanginya. Menganggapnya ada dan menjaganya. Meski terkadang lelehan air mata menjadi penghias dalam harinya.

Dia tidak kuat, namun tidak juga lemah. Dia tidak pandai, namun tidak juga bodoh. Yang selalu ia kedepankan adalah kebahagiaan orang lain. Kebahagiaannya? Itu bisa kapan-kapan. Waktunya masih banyak, katanya.

Sosoknya penuh dengan kebohongan Dia bilang, dialah pemenang segalanya. Meski tak ada tanda bukti seperti piala atau piagam, misalnya. Ya, dia memang pemenangnya. Dia mampu meluluh lantahkan kerasnya hati Hendra yang setara seperti batu hanya dengan kepergiaanya. Dia mampu membuat mendung langit di bulan Maret. Menciptakan gerimis dan gemuruh yang menggelegar dalam benak hati Hendra.

Dari dulu—dari awal dia membawa anak itu pergi bersamanya, diam-diam Hendra sudah menyayangi sosok kecil itu. Meski Ananta adalah sebab istri dan anaknya meninggal dunia, namun Ananta ia anggap sebagai ganti dari keduanya. Bahkan sebelumnya, saat semuanya masih terasa hangat seperti keluarga. Dimana Ananta masih memanggilnya dengan panggilan 'Papa'.

Terlambat. Kata yang tepat untuk menggambarkan rasa sesal dalam diri pria paruh baya itu. Meski waktu itu sudah berjalan lebih dari 2 tahun lamanya. Namun, bekasnya masih sangat segar dalam ingatan Hendra. Harusnya ia bisa membawa anak itu kembali padanya dengan kasih sayang tulus yang ia miliki, bukan malah mengandalkan Galang yang tidak tahunya malah mengancam Ananta supaya kembali. Bodoh memang, pantaskah sekarang ia disebut sebagai seorang Bapak?

Ah, mengingat panggilan itu membuat rindunya makin membara. Mungkin dimata semua orang, Hendra tetaplah orang yang jahat. Namun, di depan pusara si kecilnya, ia tidak lebih baik dari sebuah sampah. Hendra benar-benar buruk menjadi seorang ayah untuk Ananta.

Dengan bersimpuh di atas tanah, Hendra luruh, memeluk gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rerumputan liar. Baunya selalu segar. Mungkin karna masih seringnya orang yang mengunjungi makam tersebut. Samuel, Olive, Galang dan mungkin Athalla. Ia selalu menjadi lemah di depan nisan itu. Tempat peristirahatan terakhir hal yang paling berharga baginya.

"Ananta. Kamu tahu, kenapa dulu Bapak kasih nama itu ke kamu?" tanya Hendra sembari tangannya mengusap nisan bernama itu. Air matanya sudah lolos dengan tidak elitnya, membuat diri Hendra benar-benar buruk sekarang.

"Kamu tahu apa arti namamu?" Hendra menjeda kalimatnya. Seolah berharap nisan itu menjawab setiap kalimat yang ia lontarkan.

"Tanpa batas. Itu artinya. Bapak harap kamu tidak akan pernah berhenti dengan kehidupanmu, sekeras apapun itu. Dan kamu membuktikannya sama Bapak. Kamu selalu menjadi hal yang paling berharga untuk semua orang. Meski kita semua egois."

Hendra mengusap airmatanya kasar. Kembali menengadahkan kepala, menetralisir pening yang tiba-tiba menyerangnya. Sepertinya ia terlalu lama menangis. "Apa kamu bahagia sekarang? Ketemu Mama, Adik bayi, Ayah sama Bundamu? Apa Bapak boleh ikut?"

Tangisnya melebur jadi satu dengan gerimis yang benar-benar turun malam itu. Tidak memperdulikan kotor juga basah kuyup dirinya sendiri. Hendra terus memeluk gundukan tanah tersebut. Mengudarakan sesal yang sudah tak memiliki tempat singgah.

Dilain tempat, dengan duka yang sama, namun cara yang berbeda, Athalla duduk tertegun duduk di atas tempat tidur. Kesukaannya selama 2 tahub terakhir ini, mengayunkan kedua kaki ditepian kasur tempat tidur Ananta dulu.

Ia selalu menoleh ke samping, tersenyum lebar dengan airmata luruh tanpa komando. Entah kenapa, ini seperti bahagia yang terlalu berlebihan, tapi juga sakit dalam waktu bersamaan. Ponsel keluaran terbaru yang baru saja ia beli untuk sang adik, belum lama terpakai dan memang Ananta tidak sering memakainya. Alasannya karna memang belum terbiasa padahal di jaman sekarang barang tersebut menjadi hal yang harus ada jika berpergian selain dompet.

Dari kecil Ananta alias Gian adiknya memang sosok yang berbeda. Dia istimewa. Dia luar biasa. Berbanding terbalik dengan postur tubuhnya yang kecil. Bahkan lebih kecil dibanding dengan Galang.

"Abang, makan malamnya udah siap. Ayo."

Athalla menoleh, mengangguk singkat kemudian baru menghapus airmatanya. Tidak perlu bersembunyi lagi, karna memang kehilangan sang adik lebih sakit dari tertimpa beton dari lantai paling tinggi.

Galang menutup pintu kamar tersebut, bersandar sebentar di balik pintu. Nyatanya, meski ada dirinya di rumah itu tetap tidak akan mengembalikan senyum Athalla yang hilang semenjak kematian Ananta. Andai ia bisa menukar nyawanya dengan semuanya, Galang memilih mati demi Ananta dibanding harus tetap hidup di tengah mendungnya kehidupan.

Bukan hanya Athalla yang menjadi sangat sulit ia jangkau semenjak hari itu, Hendra juga. Sosok yang selalu Ananta agungkan itu kini bahkan pergi entah kemana. Meninggalkannya sendiri tanpa pamit. Sama seperti Ananta dulu.

Hening, selalu seperti itu. Entah itu pagi, siang, sore atau malam, meja makan tersebut akan selalu sepi. Tidak ada yang berniat memulai percakapan. Keduanya makan dalam diam.

"Sampek kapan Abang bakal kayak gini terus? Bahkan ini sudah hampir 2 bulan semenjak Ananta pergi," ucap Galang membuncah keheningan.

Athalla menghentikan kegiatannya. Menahan sendok berisi makanan yang beberapa senti lagi masuk ke dalam mulutnya. Namun, detik berikutnya ia menghiraukan suara itu dengan meninggalkan senyum miring sebelumnya.

"Apa adanya aku di sini enggak cukup buat Abang lupain Ananta?"

Athalla meremas sendok di tangannya. Kemudian membantingnya keras sampai suara peraduannya dengan piring membuat Galang yang semulanya menunduk lesu terkesiap kaget.

"Namanya Gian. Bukan Ananta. Dan sampai kapanpun gak akan ada yang bisa gantiin posisi dia. Termasuk kamu!" Athalla menekan kata terakhirnya. Bangkit dari duduk kemudian melenggang pergi. Tujuannya, tentu saja kamar sang adik, lagi.

Galang merutuki dirinya. Mulutnya itu memang butuh saringan tahu supaya bisa memfilter kalimat yang akan ia ucap terlebih lagi di depan Athalla. Ia menjabak rambutnya, frustasi. Kenapa dari dulu ia selalu menebar duri dimanapun dia berada?

Alhasil, untuk kesekian kalinya, setelah berulang kali ia salah bicara di depan Athalla, Galang menghampiri Athalla lagi. Masuk ke dalam kamar itu tanpa permisi. Memeluk Athalla dari belakang yang selalu dan setiap malam meringkuk di sana. Sembari memeluk bingkai foto adik kesayangannya.

"Maafin aku, Bang. Aku janji gak akan ninggalin Abang lagi," bisiknya tepat di telinga Athalla. Membuat isak tangis Athalla semakin mengisi sendu kamar Ananta dulu. Kalimat penenang sekaligus kalimat menyakitkan yang selalu sukses membuat Athalla berfikir, "Jangan pergi Galang. Jangan tinggalin Abang sama seperti Ananta."

The End!

Tombo kangen karena lama ga nulis. Kira2 ada yang nungguin cerita2 ku gak ya? Wkwkwk

Jujur aku tuh pingen mulai nulis lagi tp skrg aku tuh jadi irt + wanita karir lagi wkwkwk
Gak segabut dulu waktu masih gadis.
Apalagi udah ada 5th aku off dari per nulis2 an di wattpad gini. Butuh waktu lama lagi supaya bisa dapetin tulisan kayak gini lagi 😭😭
Jadi kalian jangan bosen2 ya nungguin aku up cerota baru lagi 😭😭🙏
Gak tau kapan tp yg jelas aku bakalan balik nulis lagi 😭
Karna emg masih secandu itu aku sama dua perwattpad an ini. Apalagi yg ceirtanya kayak genre2 ku ini 🥰🥰🥰

Jadi see you next time guysssss
Luvvv youuu 🥰🥰🥰🥰🥰🥰😘

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Parashit!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang