Chp #47

1.3K 149 29
                                        

“Kamu tahu? Sampai kapanpun Abang gak akan biarin mereka ambil kamu lagi dari Abang.”

Suara itu mengalun begitu sendu. Bagai belati yang perlahan menggores luka pada kulit putih pasinya. Gian menggeleng ribut di tempatnya. Menatap sang kakak dengan binar menyipit sedang memohon. 

Yang bisa ia lakukan hanya bergumam lantaran mulutnya terbekap lakban. Siapa yang melakukannya? Tentu saja Athalla. 

Pemuda dewasa itu berubah menjadi menakutkan baginya. Trauma masa lalu kembali menguasai tubuh dan pikiran sang kakak. Membawa kembali kesakitan Gian yang sempat beberapa bulan menghilang.

“Jangan menangis. Di sini kamu aman. Gak akan ada yang tau kamu di sini. Siapapun gak akan ada yang bisa bawa pergi kamu lagi.”

Athalla mengusap lembut ekor mata sang adik. Menyeka kristal bening yang jatuh dengan telaten. Tapi meski suara itu terdengar lembut, batin Gian merasakan hal yang bertolak belakang. Binar tatap sang kakak seolah-olah siap memakannya hidup-hidup. 

Ini persis seperti dulu. Dimana Athalla mengikat kedua tangannya simpul dan mengurungnya di sebuah kamar. Membuat sesak juga ketakutan yang tak menemukan ujung.

Tolong. Lepas,” mohonnya dalam batin. 

“Abang bilang jangan nangis.”

Athalla membawa tubuh sang adik dengan tangan terikat itu ke dalam pelukannya. Mengusap punggung kecil Gian, mencoba menenangkan. Akan tetapi, bagaimana bisa tenang apabila seperti ini? Gian makin terisak takut, memohon, merintih dengan cara bergumam lirih. 

Brughh!

“Abang bilang jangan nangis! Kamu denger gak?!” murka Athalla. 

Athalla membanting kasar tubuh sang adik ke belakang. Membentur dinding dingin dalam gudang pengap itu. Tubuh kecil itu seketika luruh ke samping kala punggungnya merasa panas juga sedikit perih. Gian meraung di atas lantai. Memejam erat, menikmati sakit yang makin bertambah. 

Panik. Athalla memaksa tubuh itu bangkit lagi, membawanya lagi ke dalam pelukannya. “Apa itu sakit? Maafin, Abang,” sesal Athalla. 

Gian dibuat bingung. Seperti orang yang tidak waras, sang kakak berubah-ubah menjadi dua sisi orang yang berbeda dalam waktu yang singkat. Mudah marah, tapi mudah luluh juga kala pias wajahnya tercetak jelas. 

“Hmppttt ... Hah!” 

Srekk!!

“Maafin, Abang.”

Lakban hitam telah lepas dari mulutnya. Membuat kedua belah bibir membirunya menganga meraup oksigen banyak-banyak. 

“Lep—as. Tolong ... Hhhh!”

Athalla menggeleng kuat. Makin mendekap tubuh sang adik sampai rasanya sulit untuk Gian bernapas. 

“Enggak akan. Kamu enggak boleh pergi,” kata Athalla. Suara persis rengekan anak kecil yang takut kehilangan barang mainannya. 

“Ekkhhhh ... Ngghhh, B—Bang ... Nghh!” 

Gian meronta dalam pelukan. Berusaha melonggarkan erat tangan sang kakak yang sepertinya tak mau melepaskannya barang sedikit. 

Parashit!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang