Berkat paksaan dari Samuel, akhirnya Gian mau makan juga di kantin rumah sakit. Tentunya dengan tetap diawasi oleh Samuel. Bocah itu nampak murung sepanjang hari. Samuel tahu dia khawatir dengan keadaan sang kakak saat ini tetapi jelas ada hal lainnya yang mengganggu pikirannya.
“Kak Sam tahu kamu bohong,” ucap Samuel membelah keheningan yang ia biarkan beberapa menit lalu.
Bocah dengan sorot sendu itu menoleh ke sumber suara. Sejenak menghentikan aktifitas mengunyah yang terlihat sangat malas.
“Maksud Kak Sam?”
Tepat di sisi nya, Samuel menyunggingkan senyum tipisnya. Membalas tatap polos Gian dengan begitu tajam. “Apa yang sebenarnya terjadi? Jelas dari mata kamu kalau kamu sedang berbohong sama Kak Sam,” tuntut Samuel.
Gian tak lekas menjawab. Mata sendu miliknya beralih pandang. Menunduk, menatap kosong pada kotak bekal milik Samuel. Mencoba mengikis pandang dengan Samuel agar kebohongannya tidak semakin terendus. Namun, sia-sia. Ingat kalau Samuel adalah psikolog. Mau selincah apapun Gian mengelak, Samuel tetap akan tahu kebenarannya. Walau itu hanya dari sorot matanya.
“Jawab, Gian. Apa yang sebenarnya terjadi? Athalla seperti ini bukan karna mau di rampok, 'kan? Bahkan harta berharganya masih ada di tempat yang sama, dimana Athalla meninggalkan mobilnya.”
Benar, dugaan Samuel tidak pernah meleset. Dirinya memang mudah sekali untuk ditebak.
“Gian! Jawab!” Samuel sedikit menaikkan intonasi suaranya.
Masih tidak menjawab. Tubuh itu malah semakin memberingsut takut dengan kepala menunduk. Samuel mendesah pasrah. Ia baru sadar kalau dirinya sudah kelepasan. Padahal dirinya tahu, memaksakan kehendak pada bocah di sampingnya saat ini bukanlah hal yang tepat.
“Maaf. Kak Sam enggak bermaksud ngebentak atau maksa kamu. Abang cuma mau kam—”
“... mereka mau aku pulang,” potong Gian cepat.
Kalimat tersebut tentu saja membuat kepala keduanya terangkat dan bersitemu tatap, namun, dengan sorot yang berbeda. Samuel menautkan dua alisnya bingung sedangkan Gian menatapnya dengan sorot kontras dengan rasa takut.
“Mereka? Maksud kamu ...” Samuel menggantung kalimatnya, menyebut nama lewat iris legamnya.
Dengan lemah kepala Gian mengangguk ragu. Sejujurnya ia akan menyembunyikan ini dari semua orang. Akan tetapi, Gian lupa kalau Samuel lebih pandai dari dirinya juga 1001 alibinya.
“Jadi, Galang yang udah lakuin ini semua, Kak. Malam kemarin dia bawa Abang pulang dengan kondisi udah babak belur dan bilang ke Gian buat pulang dan kembali ke bapak kalau aku masih mau lihat Abang baik-baik aja,” terang Gian disela isakannya. Membuat nasi dalam mulutnya tertahan sebentar.
Samuel buru-buru mengusap punggung kecil anak tersebut sembari berkata, “Telan dulu nasinya. Jangan takut, ada Kak Sam kok di sini.”
Tanpa dikunyah lembut-lembut, Gian menelan nasi dalam mulutnya lalu menyahut, “Mereka mau aku kembali, Kak. Kalau enggak Abang bakalan kenapa-napa.”
“Mereka cuma ngancam kamu tapi enggak akan benar-benar melakukan hal itu.”
“Kak Sam lupa? Bapak pernah ditahan karna kasus pembunuhan berencana 20 orang dan bukan tidak mungkin Galang dihasut Bapak supaya berani juga seperti Bapak. Apalagi saat ini Galang itu benci sama aku juga Bang Thalla.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Parashit!
Fiksi RemajaUp ulang - SELESAI 😍😍 "Kapan aku bahagia?" "Setelah kamu mati. Kebahagiaanmu menanti diujung sana." ®Sugarcofeee
