Chp #43

1.8K 245 57
                                        

Malam ini semesta nampak sedang tidak bersahabat. Langit malam terlihat begitu menggelap. Tak ada cahaya bulan ataupun bintang-bintang indah seperti biasanya. Sepertinya langit hendak menangis setelah hampir sepekan ini tanah mengering tanpa asupan.


Angin kencang menjadi pelengkap, seolah-olah sedang menggiring gumpalan-gumpalan awan hitam berisi air untuk menyatu sebelum waktunya dijatuhkan. Namun, situasi itu tidak sedikitpun menyurutkan tekad seorang pemuda.

Dengan berbalut jaket hitam tebal juga topi hitam kebanggaannya, pemuda itu menyusuri jalan yang gelap. Membelah pekatnya malam dengan niat yang sudah ia pupuk setinggi gunung. Di ujung jalan sana beberapa orang bertubuh besar tengah menantinya. Siap menerima uang juga perintah dari dirinya.

"Lakukan sesuai mau saya," katanya seraya melempar amplop coklat berisikan uang.

Orang-orang besar dan bertato itu tersenyum miring. Dengan senang menarik lembaran-lembaran merah dari dalam amplop tadi.

"Baiklah. Tapi ingat uang tambahannya jika berhasil," sahut salah satu dari ketiga orang itu.

"Lakukan dulu perintah saya. Untuk sesudahnya itu bisa diatur."

Ketiga orang tersebut langsung berlalu. Memakai topeng masing-masing lalu bergerak menuju tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Sedang pemuda tadi mengekor dan mengawasi dari jauh.

❤️❤️❤️

Malam yang gelap membuat Athalla terbuai untuk segera mengistirahatkan tubuh lelahnya. Tugas kantor yang ia abaikan pada akhirnya mengikat Athalla untuk menetap di kantor lebih lama dari biasanya. 

Baru tepat pukul sebelas malam Athalla keluar dari gedung kantornya dengan penampilan yang sudah berantakan. Tidak peduli. Toh, tujuannya setelah ini adalah rumah. Bukan berkencan dengan seorang wanita. 

Dengan langkah gontai sebab kelelahan, Athalla berjalan menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir. Sepanjang perjalanan satu yang mengambil penuh isi dalam otaknya, yakni sosok sang adik yang pasti sekarang tengah menungguinya pulang. Kebiasaan Gian akhir-akhir ini. Padahal sudah berulang kali juga Athalla bilang untuk tidur terlebih dulu.

Tak berselang lama suara dering dari ponselnya mengambil alih atensinya. Dengan layar menyala begitu terang dapat Athalla lihat siapa si penelphon itu. Nama sang adik muncul di layar ponselnya.

Dengan masih mengemudi, Athalla meraih ponselnya lalu menjawab panggilan tersebut. "Hallo."

"Abang belum mau pulang?"

Pemuda kusut itu mengulum senyum manis. Entah sejak kapan suara itu selalu memukaunya.

"Ini lagi di jalan. Kan udah Abang bilang tidur dulu aja. Udara malam enggak baik buat kesehatan kamu. Nanti sampai di rumah Abang ke kamar kamu, kita tidur berdua," jawab Athalla.

"Enggak. Gian mau tunggu Abang sampai di rumah. Kita tidur sama-sama," sanggah sang adik kuat.

Entah, semenjak memiliki ponsel Gian jadi cerewet dan overprotective terhadapnya. Tapi itu sama sekali bukan masalah. Justru Athalla menyukai kebiasaan baru sang adik. Itu artinya sudah tidak ada lagi trauma masa lalu.

"Ya udah, oke. Tunggu, sebentar lagi Abang sampai. Ok?"

"Iya, Bang  Hati-hati."

"Iya, yaudah Abang tutup dulu ya teleponnya."

Dan setelah mengucap salam panggilan mereka terputus. Tuhan, kenapa jalan ke rumahnya menjadi sangat jauh. Hidup Athalla benar-benar kembali sempurna. Di rumahnya kini ada yang menanti kepulangannya dengan gelisah, membuat opsi yang ia pilih biasanya-menghabiskan malam dan tidur di kantor-menjadi urung dan hilang.

Namun, ditengah perjalanannya Athalla merasakan ada yang aneh dengan mobilnya. Sepertinya Athalla harus mengeceknya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan mobilnya.

Sesaat setelah turun dari mobilnya Athalla mengecek ke empat ban mobilnya dan benar saja, ban belakang sebelah kirinya bocor. Sial, kenapa harus malam-malam begini? Terlebih lagi rintik hujan mulai turun ke bumi.

"Sial. Pake bocor segala. Jam segini mana ada bengkel buka?" gerutunya seorang diri. 

"Pake bocor di jalanan sepi lagi."

Pandangannya meliar. Siapa tahu ada seseorang yang mau menolongnya. Namun, apa mungkin? Jalanan ini memang sepi seperti biasanya. Athalla sering lewat sini. Jadi jam tengah malam seperti ini tentu saja sepi yang mendominasi.

Athalla bergegas kembali ke kursi kemudinya. Meraih ponsel hendak menghubungi seseorang. Pak Gino sepertinya bisa menolongnya. Menjemputnya menggunakan sepeda motor.

Namun, belum juga sempat menyalakan ponselnya, seseorang dari belakang memukul punggung cukup keras sampai tubuhnya ambruk di atas aspal jalanan.

"Argghh!" pekik keras Athalla.

Dua orang memaksa dirinya bangkit, menahan bahunya lalu menghujani Athalla dengan beberapa pukulan keras di area perutnya.

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Setelah dirasa puas, orang tersebut membiarkan tubuh itu tergeletak diatas aspal. Mungkin setelah ini mobilnya dan barang berharganya akan raib. Sial sekali memang, kenapa tiba-tiba ia di rampok?

Dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Athalla mencoba bangkit. Mengerjap berulang kali guna melihat siapa orang yang baru saja menyerangnya. Bukan dua orang, ternyata ada tiga orang berbadan besar dengan topeng menutupi wajah mereka dan tengah berjalan mendekati mobilnya.

Meski sudah pasrah dirampok, tetap saja Athalla tidak mengizinkan orang-orang tersebut mengambil yang masih miliknya. Kemudian dengan begitu cepat Athalla bangkit dan memukul salah satu diantara ketiga orang itu sampai tubuh besar itu tersungkur.

Namun, tentu saja dua temannya tidak akan terima. Mereka mendekat lalu dengan brutal lagi memukul Athalla. Beruntungnya kekuatan di tubuhnya kembali dan langsung menghalau dengan tangkas pukulan mereka. Pada akhirnya perkelahian tak dapat terelakkan.

Tentu saja bisa ditebak sebelumnya. Athalla akan kalah, karna dari segi jumlah saja Athalla kalah banding. Hingga pada akhirnya dia lah yang tersungkur di atas aspal lagi. Lebam di sana-sini sampai penampilannya benar-benar terlihat kacau.

"Berhenti!" teriak seseorang.

Ketiga laki-laki besar itu menghentikan aksi mereka. Dengan wajah merah padam pemuda berjaket hitam juga bertopi itu memandang ketiganya.

"Kalian mau membunuhnya?" sentak pemuda itu.

Dengan napas tersenggal-senggal tiga orang besar itu menunduk takut. "Maaf kita terbawa emosi karna dia memukul saya."

Pemuda berjaket hitam itu mengeram pelan, melirik sekilas Athalla yang sudah tergelepar di atas aspal.

"Pergi!"

Pemuda itu melempar amplop coklat sama persis seperti sebelumnya lalu ketiganya memungut dengan tidak hormat kemudian pergi dari tempat itu. Tinggal dia dan Athalla yang sudah tidak sadarkan diri.

Di lain tempat, sang adik tampak gelisah. Rasa tidak nyaman menghantuinya terus menerus. Kenapa sang kakak lama sekali? Apa terjadi sesuatu? Telephonnya juga tidak diangkat bahkan tidak aktif. Apa yang terjadi? Kenapa pikirannya makin kalut?

Setelah beberapa lama berkecamuk dengan pikirannya yang kalut akhirnya Gian memutuskan diri untuk mencari atau menunggui sang kakak di gerbang bersama Pak Gino.

Tepat setelah keluar dari dalam rumah, matanya membola sempurna kala netranya langsung bersitemu dengan iris legam juga penampakan seseorang yang bergelayut di pundak orang serba hitam tersebut.

"Galang?"

Tbc

Parashit!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang