Dua bulan setelah dinyatakan kritis oleh dokter setelah kejadian hari itu, akhirnya malam ini kelopak mata itu tersingkap juga. Menampakkan iris hitam legam dengan sorot sayu yang baru saja menemukan kesadarannya.
Pandangan pertamanya tertuju pada langit-langit rumah sakit. Suara alat yang seirama dengan suara denyut jantungnya. Dan sesuatu yang terasa membungkus mulut serta hidungnya.
Tubuhnya terasa sangat kaku. Apa dia baru saja mati suri? Jadi kejadian itu benar-benar hanya sebuah mimpi? Tapi rasanya itu seperti nyata. Terlebih lagi saat lengan tangan Athalla menariknya mundur, itu terasa sangat nyata.
Setelah butuh perjuangan ekstra, akhirnya Ananta mampu menggerakkan tangannya. Melepas masker oksigen yang menghalangi mulut dan hidungnya. Bangkit pelan-pelan hingga akhirnya terduduk dengan lesu di atas brangkar.
ICU. Terlihat jelas bahwa dirinya kini tengah berada di rumah sakit. Sejak kapan? Ananta lupa. Pemuda itu mengerang pelan. Memegangi dahinya kala denyut tak nyaman menyambut kedatangannya kembali ke bumi.
“Waktumu hanya sebentar.”
Suara itu mendengung cukup keras. Membuat Ananta segera mencabut infus dari punggung tangannya. Menciptakan bercak darah di atas brangkar.
Dengan tertatih Ananta melangkah pergi. Ia tahu ini tidak akan mungkin. Tapi setidaknya jikalau waktunya sudah habis saat belum sampai di tempat tujuannya, setidaknya orang itu bisa melihatnya untuk terakhir kali meski sudah tak bernyawa lagi. Lalu berselang beberapa menit setelah kepergiannya, dua orang tampak tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangannya.
“Kemana dia?” pekik Samuel panik.
“Aku gak tau, Kak. Tadi dia masih di sini dan masih kejang-kejang.” Ya, Galang yang menunggui Ananta sejak pagi tadi dibuat kelabakan saat monitor yang tersambung dengan alat vital Ananta berbunyi nyaring dan tidak beraturan juga badan yang mengejang kuat di tempat.
“Jangan-jangan dia kabur?”
“Tapi ... Kak ... Apa mungkin Ananta udah sadar dan kuat jalan sendiri?”
Ananta berjalan menyusuri jalanan aspal. Nyatanya di dunia nyata bulan ini bukan musim panas seperti yang dimimpinya. Di sini langit tampak menangis, dibeberapa sudut aspal tergenang air yang turun kecil-kecil. Menciptakan dingin yang sejujurnya menyiksa Ananta. Sial! Seharusnya ia menggunakan jaket sebelum keluar.
Satu jam berlalu dengan cepat. Ananta sudah tiba di tempat tujuannya. Dengan kaki telanjang ia melewati pagar besi tersebut. Menyisir halaman depan rumah sampai terhenti di depan daun pintu yang tinggi di rumah tersebut.
Dengan sedikit berjinjit, Ananta menekan bel rumah tersebut. Menyibak rambutnya sesekali guna menghilangkan butiran air hujan yang jatuh dari ujung rambutnya. Sampai bunyi keempat pintu tersebut baru terbuka. Menampakkan seorang pemuda dewasa dengan baju piyama juga wajah kusutnya. Khas orang bangun tidur, atau tidak tidur? Wajahnya terlalu kusut menurut Ananta.
“Gian. Kamu kenapa di sini?”
Beberapa kali diusir Hendra, Galang, dan juga Samuel membuat Athalla sulit untuk menemui sang adik. Padahal dia kakaknya, keluarga kandung dari sang adik satu-satunya.
Athalla meraih bahu kecil Ananta. Tubuh itu menggigil, basah dan tampak berantakan. Athalla memperhatikan dari atas kepala sampai ujung kaki. Kaki kecil tanpa alas, berhias lecet di.
“Kamu kabur dari rumah sakit? Sejak kapan kamu sadar? Abang rindu.” Athalla memeluk Ananta. Menghiraukan basah dari baju yang Ananta kenakan.
Ananta membalas pelukan itu. Merasakan Athalla yang menangis di belakangnya. Ananta menepuk punggung besar Athalla. Menyalurkan nyaman, meski sesak mendera dadanya. “Jangan takut, Bang. Aku di sini sekarang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Parashit!
Fiksi RemajaUp ulang - SELESAI 😍😍 "Kapan aku bahagia?" "Setelah kamu mati. Kebahagiaanmu menanti diujung sana." ®Sugarcofeee
