Kaki kecil itu pada akhirnya sampai di atap gedung rumah sakit atau sering disebut dengan rooftop, kendati kakinya sudah bergetar karena lelah. Napasnya tersenggal-senggal, tubuhnya pun penuh dengan keringat sampai kaos yang ia kenakan basah karenanya. Dengan menumpu tangan pada kedua lutut Gian membungkuk, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak.
“Akhirnya yang ditunggu-tunggu sampek juga.”
Satu suara langsung menyambangi gendang telinganya. Sangat tidak asing dan semakin menguatkan dugaan Gian tentang orang dibalik jaket juga topi hitam itu.
“Rencana gue, 5 menit lo gak dateng mungkin gue udah ikhlasin orang ini,” sambung Galang sembari mengeratkan cekalannya dileher Athalla.
“Lo mau apa lagi? Lepasin Bang Thalla, Lang,” kata Gian dengan napas yang masih belum teratur.
“Gian. Jangan.”
Gian yang hendak mendekat tiba-tiba urung melanjutkan. Langkahnya terhenti kala suara lainnya menyuruhnya untuk tetap berada di tempatnya.
“T-tapi, Bang ....”
“Menyingkir dari sana. Itu berbahaya!”
Satu suara lagi muncul tiba-tiba dari arah belakang. Dengan napas terengah juga wajah penuh kekhawatiran. Beruntung Samuel tiba sebelum semuanya terlambat.
“Jangan nekad, Lang. Kak Sam mohon. Kita bisa bicarain ini semua baik-baik,” sambungnya.
Dengan tangan yang masih melingkar di leher Athalla, Galang tersenyum getir kearah orang-orang yang tengah menatapnya dengan raut ketakutan. Tidak, Galang pun tidak mau mati konyol dengan menjatuhkan diri dari gedung berlantai 11 ini.
“Cukup dengan satu syarat sebenarnya.” Tak mau membuang lebih banyak waktu lagi, Galang memutuskan maksud dari tujuannya melakukan hal tersebut.
“Apa itu? Bicaralah.”
“Dia tahu apa itu.” Menunjuk Gian dengan jari telunjuk kirinya. Semua mata otomatis menatapnya dan seolah menyudutkan. Membuat tubuh kecil itu bergetar ketakutan.
Tentu Samuel lebih paham tentang suasana mencekam ini. Galang membujuk Gian untuk kembali dengan sebuah ancaman.
“Enggak akan pernah. Tempat Gian di sini. Kalian udah enggak berhak lagi ngambil Gian lagi!” teriak Athalla dalam kungkungan tubuh Galang. Mencoba berontak walau hasilnya sia-sia.
Untuk disebut mengancam sebenarnya Galang lebih tepat seperti seseorang yang sedang memohon. Karna pada dasarnya raut wajah juga iris mata yang Samuel lihat dari Galang itu palsu. Beberapa kali bahkan netranya tampak ketakutan saat harus memastikan pijakan kaki yang miris tepat dipinggiran rooftop.
“Galang, Kak Sam mohon jangan.”
“Kalau begitu cepat setujui persyaratannya. Dan semua akan selesai.”
“Kamu gila! Enggak akan pernah!” teriak nyalang Athalla.
Galang menunduk, sebenarnya ada dua sisi dalam dirinya antara malaikat dan juga setan. Namun kesepakatan dengan Hendra tentu beresiko lebih besar dibanding resiko harus dibenci oleh orang-orang ini. “Bukan mauku, Bang. Ini perintah dari Bapak. Dan mau enggak mau aku harus tetap menjalankan perintah itu.”
“Kalau memang lo masih mau abang lo ini baik-baik aja, turuti apa permintaan gue, Ta. Cukup dengan itu,” sambungnya.
“Namanya Gian, bukan Ananta lagi! Dan dia bukan budak kalian lagi!” seru Athalla tidak terima.
Karna muak dengan Athalla yang terus berteriak Galang membekap mulut Athalla menggunakan sebelah tangan. Membuat Athalla bungkam dan terus berusaha memberontak percuma dalam kungkungannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Parashit!
Fiksi RemajaUp ulang - SELESAI 😍😍 "Kapan aku bahagia?" "Setelah kamu mati. Kebahagiaanmu menanti diujung sana." ®Sugarcofeee
