Chp #44

1.5K 190 27
                                        

Dengan keadaan sudah tidak berdaya lagi, Athalla di giring Galang pulang ke rumah. Sedangkan mobil Athalla, Galang tinggal di tempat kejadian. Niatnya ia akan membiarkan Athalla tergeletak di teras rumahnya lalu menelpon Ananta menggunakan ponsel Athalla. Namun, sial! Tepat sesaat setelah dirinya sampai di depan rumah tersebut sasarannya keluar dari balik pintu besar tersebut dan langsung mengenali dirinya.



“Ga—lang.”

Keduanya mengunci pandang. Seolah berbicara lewat iris legam milik masing-masing.

Brukk!

Galang melempar tubuh tak berdaya Athalla di teras rumah besar tersebut lalu mengangkat sudut bibirnya.

“Apa yang lo lakuin sama Bang Thalla?”

Gian atau yang masih ia kenal sebagai Ananta itu berhambur meraih tubuh Athalla yang mengenaskan di atas lantai teras. Meneliti wajah penuh lebam itu dengan bibir dalam menggigit.

“Apa yang lo lakuin, Lang?” tanya Gian sekali lagi dengan intonasi lebih tinggi dari sebelumnya.

Wajah bertopi hitam itu menyeringai layaknya iblis. Meraih sesuatu lalu menjatuhkannya tepat di hadapan dua orang di bawahnya.

Klang!

Sebuah pisau dengan sedikit darah jatuh tidak jauh dari tempat Ananta meluruh. Membuat kedua bola mata bocah itu membola sempurna.

“Apa maksud lo?”

“Pulang dan kembali sama kita. Atau ... gue bakal bertindak lebih jauh dari ini,” ucapnya datar nan dingin. Tatapannya pun penuh dengan ancaman.

Setelahnya Galang berlalu. Keluar dari rumah besar yang pernah beberapa bulan yang lalu ia tempati. Rasanya begitu menyakitkan memang harus kembali menginjakkan kaki ke sana. Jika bukan karna satu tujuannya mana mau Galang kembali ke sana.

Di lain sisi, Gian merunduk dalam. Menatap sebilah pisau yang tercecer sedikit darah. Beralih pandang ke wajah penuh lebam milik sang kakak. Beberapa detik kemudian ia memejam sampai bulir bening keluar dari sudut matanya. Hadirnya menciptakan mara bahaya untuk sang kakak.

Hujan mulai mengabsen tanah malam itu. Menyadarkan Gian untuk segera membawa tubuh sang kakak masuk ke dalam rumah lalu mengobatinya. Sedikit kesulitan karna tubuh yang berbanding terbalik. Apa lagi kondisi Athalla benar-benar tidak sadarkan diri, jadi anak itu harus sedikit menyeret sang kakak. 

Galang pulang dengan kondisi basah kuyup. Di sambut dengan tatap tak acuh dari Hendra makin membuat tubuhnya gemetaran.

“Bagaimana? Berhasil?”

Sembari melepas topi hitamnya Galang mengangguk.

“Lalu dia bilang apa?”

“Aku pergi lebih dulu sebelum dia menjawab,” jawabnya sembari merunduk.

“Kenapa?”

“Aku enggak tega, Pak. Dia kelihatan bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.”

Kalimat macam apa yang baru saja Hendra dengar. Munafik sekali. Padahal beberapa waktu yang lalu bocah tengil di depannya itu sudah secara terang-terangan mengatakan benci kepada Ananta. Dan sekarang dia bilang tidak tega? Apa rasa bencinya luntur sebab air hujan? Itu konyol sekali.

Parashit!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang