Gimana, Sam? Adik gue enggak apa-apa, 'kan?
Suara penuh rasa khawatir itu langsung menyerbu Samuel yang baru saja keluar dari ruang Unit Gawat Darurat.
“Dia baik-baik aja, lo tenang aja. Cuma dia masih belum sadar. Nanti kalau udah sadar dan infusnya habis lo bisa bawa dia pulang.”
Helaan napas lega terdengar dari pemuda itu. Mengusap wajahnya singkat guna meredam rasa khawatirnya.
“Sebenarnya ada apa? Kenapa Gian bisa tiba-tiba pingsan?”
“Tadi Om Hendra nemuin Gian.”
Alis Samuel saling bertautan. “Bukannya Om Hendra ada di penjara lagi?”
Bukan hanya Samuel yang merasa keheranan, sebenarnya Athalla juga sama. Hendra sudah seperti ular, pandai meloloskan diri dari jerat yang mengikatnya. Bahkan jeruji besi saja mampu ia lewati meski nantinya akan berujung tertangkap lagi.
“Gue juga enggak tahu soal itu. Yang pasti tadi waktu Gian gue tinggal di taman rumah sakit, Om Hendra ada di sana dan ngasih ini ke Gian.” Athalla mengulurkan benda yang ada di tangannya. Kotak hitam dengan boneka di dalamnya.
“Apa ini maksudnya?”
“Om Hendra mau bawa Gian lagi. Yang artinya, dia mau rebut Gian lagi dari gue.”
Belum genap satu bulan hidup berdua lagi dengan sang adik, rasanya rintangan terus menguji keduanya. Apa mungkin ini memang karma? Dulu dia pernah menelantarkan adik kandungnya itu secara terang-terangan. Dibodohi dengan mudah oleh seorang anak kecil bernama Galang. Menganggap Ananta sebagai seorang pengganggu.
Dari matanya Samuel bisa merasakan kesedihan sang sahabat. Entah pada siapa Samuel harus menyalahkan. Semua orang disekitar bocah malang dalam UGD itu terasa begitu rumit. Semuanya, bukan hanya Athalla.
“Lebih baik lo sekarang temenin Gian dulu gih sana,” perintah Samuel.
Sahabatnya itu mengangguk singkat lalu tanpa menjawab Athalla buru-buru masuk ke dalam ruang UGD. Meninggalkan Samuel seorang diri.
Kini sedikit ada rasa syukur di dalam hati Samuel. Setidaknya kehidupan Ananta yang dulu tragis perlahan membaik dengan datangnya Athalla yang sudah mau menerima bocah itu. Mengakuinya sebagai sosok adik kandungnya. Lepas dari kebodohannya.
Namun, Samuel juga paham bahwa ini semua bukan akhir dari segalanya. Kisah bocah itu semakin rumit dan pelik. Bagai surga dan neraka, dua dunia yang mengharapkan bocah itu untuk di tinggali. Dua-duanya sebenarnya bukan tempat tinggal yang nyaman. Bocah itu hanya memaksa dirinya untuk menetap. Mengharap seuntai kasih sayang yang ingin ia rajut bersama-sama.
“Kak Sam juga gak akan biarin mereka rebut kamu dari Athalla, Nan. Bagaimanapun caranya, kamu harus tetap bertahan di sini.” Batin Samuel.
--
Hendra merobohkan tubuhnya di atas sofa dalam rumahnya. Lelah berjalan dari dari rumah sakit sampai rumah. Disusul dengan datangnya sosok Galang dari luar rumah.
“Bapak dari mana?”
“Kamu yang dari mana?” balasnya menghardik. Menatap Galang sekilas lewat sudut matanya. Tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Parashit!
أدب المراهقينUp ulang - SELESAI 😍😍 "Kapan aku bahagia?" "Setelah kamu mati. Kebahagiaanmu menanti diujung sana." ®Sugarcofeee
