Kalian tahu musim apa yang Ananta sukai? Bukan musim panas atau musim hujan melainkan musim durian. Ah, tidak-tidak. Itu hanya gurauan garing dari sang penulis.
Dari dua musim yang ada di bumi beriklim tropis seperti Indonesia ini, Ananta sangat menyukai musim panas. Terlebih lagi musim panas di bulan Juni. Karna menurutnya matahari terasa lebih hangat dari musim panas di bulan-bulan lainnya.
Danau, hamparan rumput hijau, matahari senja di sore hari juga suara riak air saat diterpa angin. Tidak ada yang menenangkan bagi Ananta selain itu semua. Dengan mata masih setia memejam Ananta menikmati angin lembut menerpa wajahnya. Luruh di atas rumput tepat di tepian danau yang akan menjadi tempat favoridnya.
"Gian." Seseorang memanggilnya.
Mata itu terkesiap seketika, melebar, bangkit dari tempatnya lalu memutar pandang ke arah belakang. Bukankah ia seorang diri di sini?
Ananta mengerjap berulang kali. Berusaha menyesuaikan pandangnya yang masih mengabur.
Ada banyak orang di sana. Salah satunya melambaikan tangan ke arahnya, seolah-olah menyuruhnya untuk mendekat. Ikut bergabung. Semua orang tampak asing untuknya. Hanya dua orang yang masih jernih dalam ingatannya, Hendra dan Athalla. Dua orang yang selalu kemusuhan, di bawah pohon rindang itu tampak akur dan sangat dekat. Terlihat dari Athalla yang tengah menggeliat karna Hendra menggelitiki perutnya.
"Ayo sini. Minum susunya dulu," seru seorang perempuan berbaju dress dengan motif bunga-bunga.
Senyum itu, teduh. Mirip dengan milik sang kakak, Athalla. Mata itu juga. Semuanya tampak menghangat hingga ingatannya tertarik paksa dengan cepat.
"Bunda," gumam Ananta lirih.
Wanita itu mengangguk. Seolah mendengar gumaman lirih yang bahkan Ananta sendiri tidak dengar. "Ayo sini, Sayang," titah wanita itu lagi. Melambaikan tangan untuknya.
Apa ini keluarganya? Dimana Ananta sekarang berada? Mengapa dia terbangun di sini? Tempat yang layaknya seperti surga baginya.
“Ayo sini, Sayang. Susunya keburu dingin. Nanti Bunda gak mau buatin lagi kalau gak buruan diminum,” titah wanita berbaju bunga-bunga itu untuk kesekian kalinya.
Benar, itu bundanya. Orang yang melahirkannya. Tunggu, apa ini mimpi? Tapi ini nampak sangat nyata. Semua orang tersenyum ke arahnya. Menatap dirinya dengan binar yang tak bisa Ananta jabarkan dengan kata-kata.
Langkahnya perlahan maju. Merentas jarak yang membentang cukup jauh. Kedua tangan seseorang yang memanggilnya sedari tadi mulai merentang. Seolah menunggui dirinya untuk berhambur kepelukannya. Lama, bahkan Ananta lupa kapan terakhir kalinya ia merasakan hangat kasih sayang seorang ibu.
Langkahnya melaju semakin cepat. Membuat binar dimatanya berubah mengembun kala jaraknya semakin terpangkas habis. Ia ingin segera merengkuh tubuh itu. Melampiaskan rindu yang tak pernah menemui ujungnya. Ananta rindu keluarganya. Termasuk Athalla.
Brug!!!
Ananta tersungkur. Seseorang menabraknya dari belakang saat jaraknya tinggal 1 meter saja dengan sang ibu.
“Bunda!”
Ananta menoleh. Suara lebih kecil dari lainnya mengambil alih pandangnya. Pemuda kecil sudah menggantung dipelukan sang ibunda. Dengan wajah yang mirip sekali dengannya. Apa itu dirinya saat masih kecil?
“Gian. Anak pinter, minum susunya sampai habis. Setelah itu main sama Abang, ya?” Wanita itu mengusap puncak kepala si kecil.
Pemuda mungil itu mengangguk patuh. Mendengarkan dengan seksama dan menjalankan apa yang dikatakan ibunya tanpa bantahan sedikitpun. Untuk beberapa menit yang berlalu, Ananta masih bersimpuh di tempatnya. Menyaksikan tiap lembar kenangannya yang hadir seperti nyata. Menariknya kembali ke masa dimana masih banyak cinta dan kasih sayang yang bertebaran.
“Papa kapan adik kecilnya keluar dari perut, Mama?” tanya si paling kecil dengan masih memegang dot susunya kemudian tangan satunya mengusap perut istri Hendra yang sedang mengandung.
Mama dan papa adalah nama panggilan Gian kecil kepada Hendra dan juga sang istri. Dekat dengannya membuat Hendra menganggap bocah itu bukan hanya sebatas anak dari kakaknya, melainkan anaknya juga.
“Sebentar lagi. Gian udah gak sabar lagi ya ngajak adiknya main-main?” ucap Hendra. Ananta mengangguk. Bukan Ananta kecil. Melainkan Gian. Si pemilik nama asli. Benar, ini memang kenangannya.
“Sudah sana. Main sama, Abang,” titah pria paruh baya lainnya. Sang ayah.
Athalla bangkit. Menarik si kecil, berlarian di padang rumput pinggir danau tersebut. Berkejaran saling mengerjai. Hingga keduanya merebah di atas rumput kering. Menikmati musim panas diawal bulan Juni.
“Gian! Ananta!” Bukan hanya si kecil, yang besar tak kasat matapun menoleh. Satu orang dengan dua nama yang tidak akan ia lupakan siapa sang pemberi nama.
Hendra tampak mengulurkan tangannya. Tersenyum simpul dengan Galang di sampingnya. Entah sejak kapan suasana damai di belakangnya tadi berubah dalam sekejap. Tidak ada lagi pohon rindang. Tidak ada lagi keluarganya.
Kini si kecil berdiri tepat di sampingnya. Menarik ujung baju Ananta dengan kepala mendongak menatapnya. Bukankah dirinya tadi tak terlihat? Kenapa sekarang jadi seperti ini?
“Gian. Sini, Nak,” ucap sang ibu dari sisi kirinya.
“Ananta. Ayo sini!” ucap Hendra dari sisi kanannya.
Ananta menatap dua sisi tersebut bergantian. Kini semua orang tampak berwajah ceria. Mengharap kehadirannya. Wajah Hendra terlihat teduh. Ekspresi yang Ananta harapkan sejak dulu. Merentangkan tangan hendak menyambutnya dengan pelukan.
Satu langkahnya mengarah ke Hendra namun satu tangan menahan pergerakannya. Si kecil yang masih menarik ujung bajunya yang ternyata tak melepas pandang dari sisi kirinya, yakni sisi dimana keluarganya menunggu.
“Sayang, ayo sini. Jangan ragu,” ujar ibu.
Ananta menggeleng keras. Benar. Arahnya harus ke kanan. Bukankah ia mengharap pelukan ibu dan ayahnya? Lalu Ananta melangkah maju, namun, anak kecil itu kembali menarik ujung bajunya. Menahan Ananta lagi.
“Jangan ke sana. Belum waktunya. Kau masih harus berpamitan terlebih dulu,” kata si kecil.
“Maksudmu?” Sebelah alisnya terangkat.
“Ada satu orang yang mengharapmu pulang meski sebentar.” Si kecil berlalu dengan cepat. Berjalan lurus tanpa memilih sisi kanan atau kirinya. Padahal Ananta pikir ia yang kecil itu akan memilih ke sisi kiri, karna pandangannya tak lepas dari sana. Namun, ternyata tidak.
Grepp!!!
Ananta tersentak saat seseorang memeluknya dari belakang. Isak tangis menjadi hal pertama yang ia dengar dari sosok di belakangnya itu.
“Jangan pergi. Setidaknya maafkan, Abang. Tolong kasih Abang kesempatan kedua.”
Athalla, menariknya menjauh dari tempat dengan dua sisi tersebut. Memaksanya tenggelam ke dalam lubang hitam. Sedikit membuatnya sesak hingga jantungnya berdebar tidak beraturan. Gelappun mulai mendominasi diselingi isak tangis Athalla yang terasa masih merengkuhnya dari belakang.
“Waktumu hanya semalam, anak baik. Temui orang yang paling kau sayangi dalam hidupmu. Sebelum kebahagiaan menjemputmu.”
Entah suara siapa itu. Ananta tidak tahu karna di sini semuanya gelap dan Ananta tak bisa menggerakkan tubuhnya juga.
“Kapan aku bahagia?” tanya Ananta pada suara itu.
“Setelah kamu mati. Kebahagiaan menunggumu di ujung sana anak baik.”
“Apa aku akan mati?”
“Tentu. Semua yang hidup akan mati saat takdirnya memang harus mati.”
“Maksudku setelah ini.”
“Bukankah kamu merindukan orang tuamu sejak dulu? Mereka menunggumu. Mereka sudah menyiapkan semuanya untukmu. Mereka berjanji padamu, akan menjagamu dengan baik setelahnya.”
“Lalu ... Bagaimana dengan orang-orang di sekitarku?”
Tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Parashit!
Genç KurguUp ulang - SELESAI 😍😍 "Kapan aku bahagia?" "Setelah kamu mati. Kebahagiaanmu menanti diujung sana." ®Sugarcofeee
