Kini sepasang kakak beradik itu tengah duduk berdua di sofa. Bukan berdampingan melainkan ...
Athalla duduk dengan Gian dipangkuannya. Awalnya bocah itu memberontak. Dia bilang, dia bukan anak kecil. Duduk dengan posisi seperti itu menjadikannya turun derajat menjadi bocah. Padahal dia kan memang masih bocah?
Akan tetapi bukan Athalla jika bisa dibantah. Tentu saja, pada akhirnya sang adiklah yang mengalah. Diam dipeluk Athalla dari belakang dengan album foto dipangkuannya.
“Ini siapa?” tanya Gian. Menunjuk salah satu objek yang masih belum Athalla kenalkan padanya.
“Namanya, Maura. Dia seusia kamu. Sekarang dia di Jerman. Orangtuanya kerja di sana.”
“Temanku?”
“Iya. Lalu ini ...” menunjuk foto dua orang dewasa yang sudah tampak menua. “Ini Kakek dan Nenek. Mereka meninggal setahun sebelum Mama Papa kecelakaan.”
“Aku pingen ke sana.”ujarnya tiba-tiba.
Sejenak Athalla menyerngit bingung. “Kemana?”
“Tempat Mama, Papa, Kakek sama Nenek. Aku pingen lihat mereka.” menengok kebelakang, menatap Athalla dengan binar memohon.
“Oke. Besok kita kesana,” putus Athalla cepat.
“Besok? Besok, 'kan Abang harus ke kantor?”
“Buat besok Abang enggak ke kantor. Bibi enggak ada di rumah dan Abang enggak mau biarin kamu sendirian di rumah.”
“Kan ada pak satpam?”
“Pak Gino jaga di gerbang depan. Kamu bakalan bosen di dalam rumah kalau sendirian.”
“Aku bisa main di luar atau nyamperin Pak Gino di depan.”
Alis tebal Athalla menukik. Menandakan marah meski samar dan tipis. “Enggak. Kamu belum boleh keluar rumah. Kamu belum hafal jalanan komplek lagipula Kak Sam masih nyuruh kamu buat istirahat di rumah. Bukan kelayapan.”
“Cuma di area komplek kok.”
“Gian, enggak ada bantahan," tegas dan penuh penekanan. Mana bisa bocah itu mengelak lagi kalau sudah begini.
Athalla menghela napas panjangnya. Mengusap wajahnya, merasa stress dengan ekspresi sang adik yang mendadak berubah. Kepalanya menunduk dan murung.
“Maafin, Abang. Bukan maksud Abang keras.” Athalla mengecup rambut belakang sang adik. “Besok pagi kita ke makam mereka. Sekarang lebih baik kamu tidur. Udah malem.”
Menurut, sang adik langsung bangkit. Tapi tidak berucap lagi. Hati bocah itu masih terlalu sensitif. Dan Athalla merutuki dirinya. Dia dan Gian baru saja berbaikan. Tentu saja sang adik masih takut kepadanya, terlebih lagi karna trauma yang ia alami sebelumnya.
Setelah meredam emosinya Athalla langsung bangkit. Melangkah menghampiri sang adik yang sudah mendahuluinya. Tanpa mengetuk pintu, Athalla langsung masuk ke dalam kamar sang adik. Tampak bocah itu sudah menggulung diri dengan selimut dan memunggungi pintu sampai menutup kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Parashit!
Fiksi RemajaUp ulang - SELESAI 😍😍 "Kapan aku bahagia?" "Setelah kamu mati. Kebahagiaanmu menanti diujung sana." ®Sugarcofeee
