DS; 40

101 12 0
                                        

LavenderWriters Project III Present

Different Star © Group 2

Part 40 — Created by Imah224

▪︎▪︎▪


19.00 WIB

"Arghhh ... Laporan apa ini? Apa saja yang sudah kalian kerjakan?" Laki-laki itu memarahi seorang karyawan yang duduk didepannya.

"Saya juga tidak tau, Pak. Beberapa relasi kita membatalkan kerja sama. Mereka lebih memilih kerja sama dengan Harun, Pak," jelas karyawan itu.

"Bagaimana mungkin? Selama ini pencapaian perusahaan kita melebihi Harun. Mengapa sekarang dia berani melangkahi kita?" ucap laki-laki itu dengan nada tinggi.

"Saya juga kurang tau, Pak Daniel."

Brak!

Gebrakan meja membuat karyawan itu ketakutan dengan bosnya.

"Menurut orang suruhan kita yang mencari informasi disana, sekarang anak laki-laki Abi yang meneruskan sisa-sisa perusahaan milik Abi dulu, Pak," jelasnya.

"Anak laki-laki Abi?" tanya Daniel memastikan.

"Betul, Pak. Abi mempunyai seorang anak laki-laki. Sewaktu Abi meninggal anak itu masih berusia sepuluh tahun."

"Berati sekarang anak itu sudah berusia tujuh belas tahun. Orang pintar seperti kamu bisa kalah dengan anak berusia tujuh belas tahun yang tidak tau apa-apa mengenai dunia bisnis. Untuk apa kamu jadi orang kepercayaan saya jika masalah seperti ini saja tidak bisa kamu selesaikan, Ivan," bentak Daniel.

"Saya benar-benar minta maaf, Pak. Ini diluar dugaan saya," ucap karyawan bernama Ivan itu sambil menunduk. Ia sama sekali tak berani menatap wajah bosnya yang sedang marah itu.

"Selesaikan ini secepatnya. Kalau kamu gagal saya akan pecat kamu. Cari tahu siapa anak itu."

"Baik, Pak. Saya akan laksanakan. Saya permisi, Pak."

Tanpa menunggu Daniel mengiyakan, Ivan keluar dari ruangan itu. Berlama-lama disana hanya akan membuat dirinya menjadi sasaran kemarahan Daniel.

***

20.00 WIB

"Assalamualaikum," ucap Bara saat ia sampai di rumah.

"Wa'alaikumussalam."

Bara mencium tangan mamanya.

"Darimana saja kamu? Mama telponin berkali-kali gak kamu angkat."

"Ponsel Bara kehabisan baterai, Ma," jawab Bara.

"Masuk sana. Starla udah nungguin kamu sejak pulang sekolah tadi. Dia gak mau pulang, katanya mau nunggu sampe kamu pulang. Samperin sana, kasian dia. Kamu lagi ada masalah sama dia?"

Bara menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali. Baru sampe rumah udah ada aja masalah. Tidak, Starla bukan masalah untuknya.

"Bara, jangan diem aja. Masuk," perintah Hani.

"Iya, Ma."

Dengan wajah yang menampakkan kekecewaan Bara menemui kekasihnya itu. Ia disambut dengan muka masam Starla. Gadis itu kelihatannya cukup kesal dengan Bara.

"Mama mau ke kamar dulu ya, kalian selesaikan urusan kalian. Kalau ada masalah, cari solusi. Selesaikan baik-baik. Jangan kayak anak kecil main ngambekan segala," nasehat Hani.

02;Different star✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang