DS; 39

68 11 0
                                        

LavenderWriters Project III Present

Different Star © Group 2

Part 39 — Created by Imah224

▪︎▪︎▪


Gedung yang kokoh dan besar itu berdiri dengan megahnya. Sudah sebesar ini pencapaian papa Bara dan Harun.

Bara memasuki gedung itu. Tak ada resepsionis yang kemaren bertemu dengannya saat pertama kali kesini. Tempat ini lebih sepi dari sebelumnya, mungkin karena ini sudah sore. Jadi para karyawan sudah pulang.

Tanpa memperdulikan beberapa orang yang ada disekitarnya, Bara memasuki lift dan langsung menuju lantai tujuh.

Diketuknya pintu ruangan Harun. Ia tunggu sampai Harun mengizinkannya masuk.

"Masuk," ucap suara dari dalam.

Begitu melihat Bara, Harun tersenyum. Ia sudah menunggu kedatangan Bara.

"Akhirnya kamu datang juga. Silahkan duduk."

"Terima kasih, Om. Maaf, tadi Bara masih ada urusan di sekolah."

"Iya, Bara. Om mengerti keadaanmu. Lagipula kamu udah mau ujian kan?"

"Sekitar satu bulan lagi, Om. Oh ya, Om ada apa nyuruh Bara kesini lagi?" tanya Bara.

"Om ada kabar gembira buat kamu," jawab Harun tersenyum bahagia.

"Kabar gembira apa, Om?" Bara tampak penasaran.

"Proposal kerja sama yang kamu buat diterima beberapa perusahaan yang dulunya pernah bekerja sama dengan Almarhum Papa kamu dan Om dulu. Om sangat yakin proyek kali ini akan berhasil," jelas Harun begitu antusiasnya.

"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu." Bara sangat senang. Hidupnya akan segera berubah. Mama dan adiknya akan merasakan kehidupan yang dulu mereka rasakan, meski itu tanpa kehadiran Papanya.

"Kalau proyek ini berhasil, keuntungan yang didapat sangat besar, Bar. Kamu bisa beli rumah buat mama dan adikmu," jelas Harun lagi.

"Semoga usaha Bara ini berhasil, Om," ucap Bara penuh harap.

"Aamiinn...."

"Tapi ingat, kamu harus pandai membagi waktu. Antara belajar dan bekerja. Jangan sampai sekolahmu berantakan karena ini."

"Tentu, Om. Bara sudah memikirkan sejak awal."

"Kamu memang hebat, Bar. Om bangga sama kamu."

Bara tak bisa menanggapi. Harun begitu sering memujinya. Bahkan menurut Bara pujian itu terkesan berlebihan. Ia belum bisa apa-apa. Ia tertinggal jauh dari Papanya yang sudah memiliki banyak pencapaian semasa hidupnya.

"Om."

"Kenapa, Bar?"

"Om masih ingat supir Almarhum Papa?"

Harun mengernyitkan alisnya. Mengapa Bara tiba-tiba bertanya tentang supir itu. Apa yang ingin Bara ketahui sekarang.

"Om, Om masih ingat kan?" Bara bertanya lagi karena Harun tak menjawab pertanyaannya.

"Kenapa kamu menanyakan supir itu? Ada apa, Bar?" Harun malah balik bertanya.

"Supir itu satu-satunya saksi kematian Papa, Om. Bara harus bertemu dengan orang itu. Bara tidak ingat dengan wajahnya, Om. Bara jarang bertemu dengannya, dia hanya mengantar jemput Papa disaat Papa sedang ada perjalanan keluar kota. Jadi, Bara minta tolong. Kalau Om ingat, tolong kasih tau Bara," mohon Bara.

02;Different star✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang