Bab 11 (Penghematan)

130 12 7
                                        

Surya perlahan semakin naik ke permukaan, suasana rumah mewah di tengah kompleks perumahan elit mulai terlihat sibuk. Tukang kebun mulai menyiram tanaman kesukaan pemilik rumah, para asisten rumah tangga pun mulai membersihkan area dalam rumah maupun di bagian luarnya, tak lupa Bi Anni dan koki baru bernama Riska sedang menyiapkan sarapan. Pasangan suami istri itu sudah duduk manis di meja makan, sembari menunggu hidangan siap keduanya memilih untuk bermain puzzle.

Tak lama kemudian Riska membawa dua mangkuk bubur kacang hijau dan dua gelas air putih. Bubur kacang hijau memang makanan kesukaan Devi, makanan itu adalah sajian terbaik yang di masak oleh ibunya. Namun, Devi tidak yakin apakah bubur buatan Riska akan sama enaknya dengan buatan sang Ibu.

Devi dan Zakky mulai mencicipi masakan tersebut, Riska masih berdiri di dekat meja untuk mendengar tinjauan masakan dari kedua majikannya itu.

"Rasanya lumayan," puji Devi jujur, sebab masakannya tidak lebih lezat daripada masakan Bu Effendy.

"Menurut saya, masakan kamu kali ini enak. Tapi ada satu yang kurang." Kali ini Zakky yang bersuara.

"Apa itu Pak Zakky?" tanya Riska penasaran.

"Kurang banyak, hehehe."

"Wah Pak Zakky ini bisa saja."

Devi langsung menatap tajam ke arah indra penglihatan suaminya. Mata Zakky seperti tertusuk duri, tatapan istrinya itu sungguh menyeramkan baginya. Dia langsung menunduk ke arah mangkuk bubur miliknya daripada membuat istrinya mengamuk.

"Baiklah kamu boleh kembali ke dapur," ucap Zakky tiba-tiba berubah menjadi tegas.

"Nah, seperti itu dong tegas. Kenapa sih kamu berubah jadi senang bercanda seperti itu? Apakah karena Riska seumuran dengan saya? Mas Zakky kan lebih suka yang muda-muda."

"Apa kamu bilang? Saya juga masih muda ya. Tapi kamu ada benarnya, saya memang suka yang muda-muda misalnya kelapa muda."

"Masih muda? Kapan Mas sadar diri? Eh maksud saya kapan Mas Zakky bertingkah lebih dewasa?"

"Baiklah saya memang tua. Puas?"

"Dulu Mas Zakky itu galak dan menyebalkan. Saya sampai malas bila harus bertemu di kantor."

"Justru saya sekarang berubah karena kamu."

"Oh ya?"

"Dulu saya tidak tahu bagaimana cara memperlakukan orang dengan baik dan ramah. Tapi saya belajar banyak dari kamu, namun sepertinya keramahan saya ini memang harus di kurangi. Nanti bisa saja penggemar saya akan semakin bertambah jumlahnya." Zakky mengambil sisir kecil dari saku celananya kemudian merapikan rambutnya.

"Hentikan. Jangan memuji diri sendiri lagi!" Devi langsung merebut sisir kecil itu dan melemparkannya ke sembarang arah.

"Kenapa sih? Saya itu kan memang pantas dipuji. Kamu lempar kemana sisir itu? Ah, itu sisir yang saya beli dari Amerika, harganya mahal sekali. Kamu harus mencarinya sampai ketemu!"

"Mas Zakky tolong jangan berlebihan, banyak sekali yang menjual sisir seperti itu. Di pasar juga ada."

"Di pasar? Ya ampun Devi, pria tampan dan kaya seperti saya harus membeli sisir di pasar?" tanya Zakky dengan nada tidak terima.

"Sudahlah, jangan berlebihan, jangan narsis, dan jangan ramah pada orang lain terutama pada kaum hawa."

"Memangnya kenapa? Justru kalau saya berubah menjadi lebih ramah akan berdampak positif."

"Saya hanya mengingatkan lho. Berubahlah menjadi lebih baik tanpa mengubah sesuatu yang seharusnya ada dalam diri Mas Zakky."

"Baiklah saya akan mencoba berubah dan saya akan berusaha memperbaiki diri selama itu untuk kebaikan."

"Wah bijak sekali suamiku ini, Zakky Teguh." Devi tersenyum bangga.

"Tapi bohong." Zakky langsung tertawa terbahak-bahak, namun nahas sebuah kotak tisu telah mendarat di kepalanya, Devi memang meluncurkan benda tersebut saking sebalnya pada pria ini.

"Baiklah saya diam."

"Nah begitu dong, good boy!" puji Devi seraya menepuk pelan kepala suaminya.

"Kamu pikir saya ini hewan peliharaan?"

Pertanyaan itu malah tidak dijawab oleh Devi, wanita itu sontak langsung tertawa, melihat suaminya langsung bertingkah layaknya seekor hewan peliharaan. Dalam rumah tangga memang selalu di selingi oleh masalah. Namun, tentu saja kebahagiaan pun selalu ada bagi mereka yang bisa menerimanya dengan cara bersyukur.

***

Tak terasa inilah hari pertama bagi staf baru Wijaya Group untuk memulai bekerja. Hampir semua karyawan baru tidak ada yang terlambat sampai ke kantor, bahkan sudah tiba satu jam sebelum jam kerja dimulai. Ya memang seperti inilah ciri-ciri karyawan baru, di awal tampak semangat namun lambat laun akan menunjukkan sifat aslinya, malas.

"Pagi Wid," sapa Mas Candra seorang kadiv administrasi pada sahabat karibnya yaitu Mbak Widia yang menjabat sebagai kadiv komunikasi.

"Pagi juga Ndra," jawab Mbak Widia.

"Tumben bawa bekal ke kantor."

"Ini namanya penghematan Ndra, maklum Ibu-Ibu. Gue harus bayar kontrakan, kirim uang ke anak gue, belum lagi kebutuhan yang lain. Maklumlah sejak gue kerja disini berarti gue pisah sama anak dan suami. Meskipun suami gue juga kerja, tapi penghematan itu penting. Lo juga Ndra, harus hemat, inget anak istri lo nungguin di rumah."

"Sudahlah Wid, jangan bicara lagi. Itu membuat gue semakin tersindir," jawab Mas Candra yang hobi membeli makanan itu.

"Halo, Mbak Widia dan Mas Candra," sapa Aisha dan Hani, dua sahabat yang selalu bersama dan satu kost-an sejak awal bekerja di WijayaTech.

"Kalian bawa bekal juga?" tanya Mas Candra, kedua bola matanya langsung menangkap kotak makanan yang ditenteng oleh dua staf komunikasi yang tadi menyapanya.

"Iya," jawab Aisha dan Hani kompak.

Mas Candra langsung tersenyum, tampaknya muncul sebuah ide cemerlang di kepalanya.

"Kalau begitu gue mau penghematan juga deh Wid."

"Penghematan apaan, lo kan nggak bisa masak Ndra!" seloroh Mbak Widia meremehkan.

"Tenang saja, jadi begini. Kalian bertiga kan bawa bekal setiap hari, maka dari itu masing-masing dari kalian harus memberikan setengah porsi bekalnya pada gue. Gimana? Adil kan? Gila sih ide gue cemerlang banget."

"Enak saja," sahut tiga wanita itu tidak terima.

"Lo nggak modal apa-apa juga. Adil darimananya?"

"Iya, nih Mas Candra ingin enaknya saja. Kita ini masak sejak subuh tahu."

"Guys, kalau kalian bagi makanannya ke gue bakal menambah pahala buat kalian bertiga tahu."

"Mending gue ngasih makanan ini ke pengemis, daripada ke setan gembul macam lo. Gue ke meja kerja dulu ya, kepala gue pusing dengarin ocehan lo Ndra."

"Kami juga pamit dulu ya Mas Candra. Permisi."

Mas Candra jadi kesal sendiri sebab usulnya tidak disetujui. Akhirnya penghematan tersebut urung dia lakukan.

"Memang apa salahnya usulan gue tadi? Berbagi itu kan indah, eh malah di tinggal kayak begini," pungkas Mas Candra masih belum sadar diri.

***

Publish pada: 25 Juli 2020

.

.

.

Jangan lupa vote dan komennya ya 💛

Dream Zone: Wake Up (2)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang