Bab 41 (Telepon)

107 12 7
                                        

Mungkin memang benar apa kata pepatah bahwa ucapan adalah doa. Contohnya apa yang dialami oleh Zakky dan istrinya. Pria itu sering sekali memberikan label anak kecil kepada Devi, dan sekarang Zakky merasakan bahwa istrinya memang bersifat seperti anak kecil. Awalnya memang menggemaskan namun akhir-akhir ini malah menyebalkan karena wanita itu bersikap kekanak-kanakan.

"Permisi Pak Zakky saya meminta tanda tangan Bapak untuk berkas keuangan ini," ucap salah satu staf.

"Coba saya periksa dahulu."

Usai memeriksa dan sudah dirasa tidak ada yang ganjal maka dengan cepat Zakky menorehkan tanda tangan di berkas tersebut. Banyak sekali manusia di luar sana yang meremehkan tugas seorang CEO, mereka sangka tugas pemimpin perusahaan hanyalah dalam urusan tanda tangan dan rapat saja. Tapi dalam kenyataannya lebih daripada itu, nyawa perusahaan serta kehidupan ratusan bahkan hingga ribuan karyawan berada di satu kepala yaitu CEO.

Lain halnya dengan status sebagai karyawan yang hanya memikirkan pekerjaan sesuai dengan perintah atasan saja, CEO justru harus memastikan setiap seluk beluk tugas terlaksana dengan sempurna. Tugas ini tidak bisa dikerjakan oleh sembarang orang, apalagi oleh orang yang bisanya hanya berkomentar.

Hari ini Devi bolos bekerja yang tentu saja berpengaruh pada kinerja Zakky, tidak ada yang membantu pria ini untuk menyiapkan kebutuhannya. Sekarang dia menginginkan segelas kopi untuk meredakan stress yang melanda kepala, tapi tidak ada yang bisa dimintai tolong. Bisa saja dirinya menyuruh office boy, tapi sayangnya selera kopi dirinya hanya dipahami oleh segelintir orang yaitu dirinya sendiri serta Devi. Tidak ada pilihan lain Zakky harus membuat kopi sendiri.

Sekarang baru pukul sepuluh pagi, padahal baru saja dia memulai hari tapi sudah membuat dirinya dilanda emosi. Suasana pantry memang tidak ramai seperti saat istirahat dan suasana inilah yang di harapkan oleh CEO yang satu ini.

Pria ini duduk termenung di meja yang terletak di sudut pantry sambil menyesap kopi buatan sendiri. Dia berharap setiap masalah yang sedang menimpanya bisa larut bersama kopi hitamnya. Pahit yang terasa di lidah biarlah menjadi sensasi yang terasa sementara kemudian rasa pahit itu berubah menjadi manis ketika masalah tersebut hilang bersama lenyapnya kopi yang tertelan oleh tenggorokan.

"Ingin coklat?" tanya seorang perempuan yang kini duduk di hadapan Zakky.

"Tidak usah, terima kasih Emma."

"Tidak perlu sungkan, ambil saja. Coklat memiliki zat yang bisa membuat mood menjadi lebih baik."

"Bagaimana kamu tahu jika moodku sedang buruk?"

"Bukankah aku ini adalah direktur personalia? Sudah ratusan karyawan yang aku hadapi sehingga membuatku paham bagaimana sifat maupun mood mereka hanya dari tingkah laku, bahkan aku bisa tahu mood mereka dari kopi yang sedang dinikmati." Emma tersenyum sambil mengunyah coklatnya.

"Oh ya? Apakah kamu bisa menebak bagaimana perasaanku dari kopi ini?"

"Hmm, terlihat dari warna kopi yang begitu pekat sepertinya kamu sedang mengalami masalah yang begitu berat. Kamu ingin melampiaskan masalahmu pada secangkir kopi," jelas Emma telak.

"Luar biasa, analisamu persis dengan apa yang aku rasakan."

Zakky mengambil satu buah coklat yang berukuran satu suapan itu dari kotak yang dibawa Emma. Dia ingin moodnya kembali membaik agar bisa bekerja dengan fokus, semoga saja coklat ini bisa membantu.

"Maaf bila ucapanku nanti bisa menyinggung perasaanmu, tapi jujur saja aku sudah tidak tahan dengan ini semua," ucap Emma.

"Memangnya kamu ingin bicara apa? Apakah ini masalah yang menyangkut karyawan? Silakan ucapkan saja jangan ada yang di tutup-tutupi."

Dream Zone: Wake Up (2)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang