Bab 14 (Cerewet)

97 11 9
                                        

Devi membawa Emma ke salah satu restoran sederhana yang lumayan jauh dari posisi kantor. Dia mengajak teman barunya kesini bukan karena penghematan, melainkan restoran ini menyajikan makanan yang sungguh lezat. Tampilan restoran yang sederhana bukan berarti memiliki makanan yang tidak enak bukan? Justru sesuatu yang indah terkadang tersembunyi dibalik sesuatu yang sederhana.

Devi sebetulnya khawatir jika teman barunya tidak cocok dengan makanan disini. Emma sama sekali tidak keberatan dibawa ke tempat makan manapun, baginya yang terbiasa makan di tempat mewah ini sebetulnya ingin juga merasakan suasana yang baru. Devi mengangkat tangan kanannya pada seorang pelayan. Dengan cepat pelayan tersebut langsung menghampirinya.

"Silakan mau pesan apa?"

"Saya pesan tongseng dan jus mangga. Mbak Emma ingin makan apa?" tanya Devi.

Emma masih menyelidik setiap hidangan yang tertera di menu. Baginya nama makanan ini memang tidak asing di telinga, namun jujur saja dia belum pernah mencoba satu pun makanan tersebut.

"Saya pesan menu yang sama dengan kamu saja dan minumannya air putih. Tunggu dulu sepertinya makanan ini menarik perhatian, saya pesan yang ini juga." Emma menunjuk menu kari ayam di buku menu.

"Baiklah, pesanan akan tersedia sebentar lagi," ucap pelayan sambil berlalu.

"Apakah Mbak Emma tidak suka tempat ini? Bila benar demikian, kita bisa pindah ke tempat lain saja," tawar Devi.

Hampir saja Emma menyetujui tawaran Devi tadi, tapi ada harum yang menyeruak kedalam indra penciumannya. Harumnya begitu nikmat, pasti berasal dari arah dapur restoran. Emma akhirnya memutuskan untuk makan di sini saja.

"Tidak apa-apa. Kita makan disini."

Sekitar lima belas menit kemudian, pelayan tadi kembali datang untuk mengantarkan makanan. Aroma hidangan begitu sedap dihirup, ada dua piring nasi hangat, dua mangkuk tongseng, semangkuk kari ayam, jus mangga, dan air putih.

Sontak Emma langsung menelan salivanya, tampilan makanan ini begitu menggiurkan. Terlebih lagi perutnya memang sedang kelaparan. Tanpa berlama-lama dia langsung menyendok tongseng tersebut dan menyuapkannya kedalam mulut. Dagingnya begitu empuk, bumbunya pun meresap ke dalam daging, adapula potongan kol dan nanas yang membuat variasi tekstur dan rasa. Makanan ini langsung jadi menu favoritnya.

"Ini daging sapi, kan? Tapi kenapa rasanya berbeda?" tanya Emma penasaran sambil menyuap nasi.

"Itu daging kambing Mbak."

"Oh, saya baru pertama kali mencobanya. Ternyata enak juga, terima kasih telah membawa saya ke restoran ini."

Devi tersenyum senang, kekhawatirannya selama ini akhirnya tidak perlu dihiraukan lagi, teman makannya menyukai tempat yang dia rekomendasikan.

"Darimana kamu tahu tempat ini? Bukankah baru pindah dari luar kota?"

"Saya tahu restoran ini dari mertua saya."

"Oh, baiklah. Eumm saya ingin minta maaf atas kejadian di kantor tadi, saya juga ingin mewakili permintaan maaf Papa saya. Sepertinya candaan Papa terlalu berlebihan."

Sejenak Devi menghentikan acara makannya. Memang benar candaan Pak Surya terbilang berlebihan, namun toh itu hanya candaan yang seharusnya tidak boleh terlalu dipikirkan.

"Tidak apa-apa kok Mbak. Santai saja."

"Syukurlah kalau begitu. Sepertinya saya ingin memesan tongseng lagi untuk dibawa ke rumah."

"Oh, tentu saja boleh."

***

Zakky sebenarnya tidak ingin makan sendirian apalagi di tempat umum seperti restoran, maka dari itu dia mengajak Mas Candra. Tidak apa-apa jika harus rugi mentraktir makan karyawannya toh tidak akan menguras habis kantongnya juga.

Dream Zone: Wake Up (2)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang