"Baiklah, biar Papa yang akan menjelaskan semuanya. Jadi, sebelumnya kami sudah mempercayakan sebuah file rahasia untuk kamu jaga. Apakah tidak ada masalah dengan file itu?"
"File itu baik-baik saja," jawab Devi yakin.
"DEV SUDAH SAYA KATAKAN UNTUK BERBICARA JUJUR AGAR SEMUANYA TERUNGKAP DENGAN MUDAH." Wajah Zakky terlihat merah padam.
Devi menutup kedua kupingnya, suaminya itu memang sering marah namun kemarahannya kali ini jauh lebih menakutkan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Devi, dia mulai kebingungan kenapa suaminya bisa semarah itu.
"Data file tersebut bocor, data pribadi milik karyawan telah disalahgunakan. Juga data rekening pribadi mereka terungkap sehingga ATM mereka berhasil dibobol. Kerugian mencapai milyaran rupiah," ungkap Pak Wijaya masih dengan nada seperti biasa.
Devi langsung menutup mulutnya sebab sangat kaget dengan hal tersebut. Bukankah file itu di jaga dengan berbagai password yang rumit sehingga sulit dibuka apalagi sampai bocor ke hadapan publik.
"Kami berdua tidak menyebarkan data tersebut. Otomatis tuduhan mengarah padamu. Cepat jujur saja!" desak Zakky yang masih enggan menatap istrinya.
"Saya sama sekali tidak tahu menahu tentang masalah ini."
"Dev jangan biarkan emosi saya semakin naik."
"Tapi saya memang benar-benar tidak tahu."
"JUJUR SAJA DEVI!" teriak Zakky.
"Bukan saya pelakunya."
"KAU BENAR-BENAR MEMBUAT SAYA MARAH. KAMU TIDAK BISA MENGELAK HAL INI, KEBOCORAN FILE ITU BERASAL DARI KOMPUTERMU, IP KOMPUTER MILIKMU."
"Tidak mungkin." Devi memandang suaminya dengan tatapan nanar.
Devi bangkit dari duduknya, dia tidak melakukan hal ini. Apalagi seharian ini dia sama sekali tidak menyentuh komputer di ruangannya. Dia tidak mungkin melakukan hal ini, apalagi menyebabkan ratusan karyawan mengalami kerugian seperti apa yang Pak Wijaya tadi katakan.
"Ikut ke ruangan saya!" bentak Zakky.
Devi masih terdiam memikirkan masalah baru yang kini melandanya. Sampai-sampai apa yang diucapkan suaminya tadi sama sekali tidak terdengat di telinganya.
"CEPAT IKUT KE RUANGAN SAYA!" tanpa aba-aba Zakky menarik paksa tangan Devi, cengkramannya sangat kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di pergelangan tangan istrinya.
Kini mereka telah sampai di ruangan Zakky yang hanya berjarak tiga puluh meter dari ruangan Pak Wijaya.
"Apa yang harus saya lakukan agar kau mau mengaku?" desak Zakky.
Devi mengusap pergelangan tangan kanannya yang terasa sakit akibat cengkraman suaminya tadi.
"CEPAT JAWAB! Kau punya mulut dan telinga bukan?" Zakky tidak pandang bulu apakah didepannya adalah istrinya atau bukan yang jelas Devi adalah karyawannya juga dia harus diperlakukan sama rata dengan karyawan lainnya jika memiliki kesalahan.
Devi menghela napasnya, kemudian menatap mata suaminya. "SAYA TIDAK TAHU MENGENAI MASALAH INI," jawab Devi yang kini tidak bisa menahan emosinya.
"Kemarin kau menaruh racun di minuman Emma dan tidak mau mengaku. Sekarang pun kau menimbulkan masalah baru. Saya tahu kau melakukan ini karena kesal pada saya. Kau pasti ingin mempermalukan saya di hadapan papa sebagai perwujudan pembalasanmu pada saya atas masalah kemarin, kan? Mengaku saja Dev kau selalu membalas apa yang saya lakukan padamu sama seperti dulu. Masalah kemarin kamu memang masih bisa mengelak tapi kali ini tidak sama sekali, buktinya sudah jelas."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Zone: Wake Up (2)
Romance(COMPLETED) [Romance Comedy] Dream Zone: Sleeping Pills season 2 Kisah lika-liku kehidupan sebuah pasangan suami istri yang baru menikah. Zakky yang dulu menderita insomnia bisa sembuh berkat wanita yang kini menjadi istrinya. Masalah yang teratasi...
