Langit laksana jatuh, bumi seperti runtuh, entah perumpamaan apa lagi yang harus disebutkan untuk menggambarkan suasana hati Devi saat ini. Ujian hidup silih berganti dalam waktu yang berjarak sehari.
Wanita ini terus berjalan pergi meninggalkan suaminya yang dia rasa berubah seakan-akan menjadi monster yang siap melahapnya tanpa ampun. Devi butuh ketenangan dan ingin menjernihkan pikiran.
Apalagi air matanya tidak mampu menjadi pelampiasan kesedihan. Devi seakan-akan tegar karena tidak menangis padahal kenyataannya tidak seperti itu.
"Mi, iku aku yuk!" ajak Devi yang memang sengaja datang ke meja kerja sahabatnya itu.
"Kemana Dev?" tanya Ami dengan wajah kusut karena pekerjaan yang menumpuk.
"Kita jalan-jalan, aku ingin mencari udara segar dan curhat padamu."
"Aduh bagaimana ya, aku sih mau-mau saja tapi aku kan sedang kerja," keluh Ami sambil menunjuk tumpukan berkas dengan telunjuknya.
"Biar aku yang tanggung jawab, serahkan semuanya padaku. Ayo cepat!"
"Tidak bisa Dev, kecuali kalau kamu izin dulu pada kepala divisi."
Devi menghela napas kasar sambil menengadahkan wajahnya ke langit-langit gedung, sifat tanggung jawab sahabatnya ini tidak selamanya memiliki dampak yang positif. Tanpa banyak cakap Devi langsung pergi ke arah ruangan Mas Candra yang notabene kepala divisi administrasi.
Cukup sulit memang untuk meminta izin pada Mas Candra agar Ami bisa ikut dengan Devi. Namun, atas bujuk rayu berupa voucher makan malam di sebuah restoran mewah untuk Mas Candra dan istri serta anaknya maka tanpa ragu pria bertubuh gempal itu menyetujuinya. Makanan adalah sumber kelemahan kepala divisi administrasi tersebut.
"Kita memangnya mau kemana sih Dev?" tanya Ami ketika mereka sudah keluar dari area gedung Wijaya Group.
"Entahlah Mi, sebetulnya aku juga tidak tahu. Eumm... apa reaksimu tentang kasus di kantor sedang merebak hari ini dan terlebih lagi aku yang dituduh sebagai pelakunya?"
"Jika kamu tanya hal itu, jujur saja aku marah sebab yang tersebar adalah data pribadi karyawan lho Dev, dan kamu pun tahu aku jadi salah satu korbannya. Untungnya pihak perusahaan cepat tanggap dalam mengatasinya."
Ucapan Ami tadi semakin membuat Devi semakin merasa bersalah, benar saja bahwa orang-orang terdekatnya pun mengalami kerugian. Walaupun Devi tidak ikut serta menjadi korban tapi dia pun mendapat amukan dari suaminya dan para karyawan yang berdemo. Tapi bila dipikir-pikir semuanya sama-sama mendapatkan musibah, karyawan dan perusahaan kehilangan materi sedangkan Devi mendapatkan fitnah.
"Maafkan aku Mi karena tidak bisa menjaga data pribadi milikmu," ucap Devi tulus.
"Makanya jangan gegabah Dev, segala sesuatu itu harus dipikirkan."
"Jadi, kamu juga tidak percaya padaku? Aku serius Mi, bukan aku pelakunya."
"Aku percaya kok. Tenang saja, yang tadi hanya bercanda." Ami tersenyum sambil menjawil pipi tembam sobatnya.
"Kalau begitu kamu harus menerima permintaan maafku dong. Mau memaafkanku atau tidak?"
"Semuanya sudah terlanjur jadi ya harus bagaimana lagi? Jadi, aku akan memaafkanmu," jawab Ami sambil mengendikan bahu.
"Kamu masih marah padaku?"
"Marah? Tentu saja marah."
"Lalu sekarang kamu membenciku? Mi, aku mohon jangan membenciku, kamu adalah sahabat sejati yang kumiliki." Devi mulai menggenggam jari sahabatnya, dia tulus meminta maaf.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream Zone: Wake Up (2)
Romance(COMPLETED) [Romance Comedy] Dream Zone: Sleeping Pills season 2 Kisah lika-liku kehidupan sebuah pasangan suami istri yang baru menikah. Zakky yang dulu menderita insomnia bisa sembuh berkat wanita yang kini menjadi istrinya. Masalah yang teratasi...
