Bab 38 (Tomi)

108 13 10
                                        

Dinginnya suhu air kolam mengalihkan pikiran Zakky dari segala masalah yang melandanya. Mulai dari urusan kantor yang kini merembet ke masalah rumah tangga hingga berbagai masalah lainnya.

Sering sekali dia berpikir bahwa lebih baik memiliki masalah di kantor daripada masalah di rumah sebab masalah kantor hanya akan menguras pikiran saja sedangkan masalah rumah tangga tidak hanya menguras pikiran tapi juga melibatkan hati.

Tubuhnya sudah merasakan lelah sebab berenang bolak-balik di kolam yang berukuran 5×5 meter itu. Sudah puluhan kali dia bergerak dari ujung ke ujung kolam. Dia mengecek jam tangannya, tak terasa sudah satu jam dia melakukan olahraga air ini.

Zakky mengusap rambutnya ke belakang untuk merapikan rambutnya yang sudah panjang sampai menutupi area mata. Masalah yang merundungnya sampai membuat dirinya lupa mengurus diri sendiri.

Pria ini mulai naik ke atas permukaan dan meraih piyama mandinya. Jangan sampai tubuhnya yang hanya memakai celana renang ini menjadi sorotan bagi seluruh penghuni rumah, tubuhnya yang bersih serta atletis memang menjadi tontonan menarik. Biarlah tubuhnya ini menjadi tontonan istrinya saja.

Dia mulai masuk ke rumah melalui pintu belakang. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan keberadaan istrinya. Sejak mengakhiri permainan truth or dare tadi Zakky tidak lagi memerhatikan kegiatan Devi dan di taman belakang, dia hanya fokus berenang lebih tepatnya fokus mengalihkan perhatian.

Pintu belakang langsung terhubung dengan meja makan. Tentu saja ruangan ini sedang sepi sebab acara makan terhitung masih lama. Dia tidak bisa terlalu lama berada di luar sebab akan menyebabkan lantai menjadi basah akibat dirinya yang memang habis berenang. Istrinya itu biar dicari nanti saja sesudah dirinya mandi.

.

.

.

"Habis darimana saja kalian?" tanya Zakky pada Devi serta Tomi.

Sejak dari pagi Zakky mencari keduanya dan baru ditemukan saat sore hari.

"Kami habis menonton konser," jawab Devi santai.

"Kalian mulai keterlaluan ya, pergi sejak pagi dan baru pulang sekarang, terlebih lagi tidak meminta izin pada saya. Kamu harus ingat Dev, saya adalah suami kamu."

"Saya sudah meminta izin pada Mas Zakky tadi pagi."

Zakky mulai mengingat kapan istrinya itu meminta izin. Dia sama sekali tidak menyadarinya sampai muncul suatu ingatan.

"Mas Zakky, bolehkah saya meminta izin untuk menonton konser? Saya sudah membeli tiketnya," teriak Devi pada suaminya yang sedang beristirahat di pinggir kolam renang.

"Lakukan saja apa yang kamu mau. Saya tidak peduli," jawab Zakky kemudian langsung melanjutkan kegiatan olahraga renangnya.

Ingatan itu muncul ketika Zakky sudah berprasangka buruk dan memarahi istrinya, dia merasa begitu bodoh. Namun, citranya di depan semua orang terutama istrinya tidak boleh luntur sama sekali.

"Setidaknya kamu mengatakan kapan untuk pulang. Malah lupa waktu seperti ini," lanjut Zakky.

"Bukankah Mas Zakky mengatakan tidak peduli? Lalu kenapa saya harus mengatakan ini itu pada orang yang jelas-jelas tidak akan mendengarnya?"

Baru saja wanita ini merasa bahagia sebab menonton penampilan salah satu penyanyi lokal kesukaannya, kini malah dimarahi tanpa sebab yang pantas. Tapi, ya sudahlah sifat Zakky memang seperti itu. Sebaiknya Devi ke kamar sekarang juga untuk membersihkan badannya.

.

.

.

Rata-rata wanita yang sedang ngambek tidak akan berbicara sepatah kata pun pada pelakunya. Termasuk Devi, bukan hanya tidak mengucapkan apapun wanita ini juga memilih untuk melewatkan makan malam. Suaminya pun hanya membiarkan Devi bersikap demikian, hal ini memang sudah biasa baginya. Nanti malam pun istrinya akan meminta dipeluk ketika sedang tidur.

Dream Zone: Wake Up (2)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang