[Masih berantakan karena proses Revisi]
Satriya hanya melihat Raya sebagai gadis yang menyukai Galang. Gadis itu sangat menjaga privasinya sampai tak ada yang tahu permasalahan sekecil apa pun yang menimpanya. Lambat laun Satriya semakin menemukan h...
"Meminimalisir ekspetasi lebih baik untuk mengurangi resiko patah hati."
~ 🍂
Hembusan angin malam menerbangkan setiap helai rambut Raya yang tergerai. Di sinilah gadis itu berdiri dengan Satriya menikmati keindahan gemerlap kota metropolitan dari atas rooftop.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Anggap saja mereka.
Di tengah temaram Satriya masih bisa melihat wajah Raya dengan sangat jelas. Jarang sekali gadis itu tersenyum selebar ini. "Cantik," ucapnya tanpa sadar bahkan matanya tak berkedip ketika mengatakan.
"Ha?" Raya melongo karena samar-samar mendengar Suara Sartiya. Siapa yang dimaksud Satriya, Raya benar-benar tidak peka.
"Lo," jawab Satriya dengan entengnya.
Raya terkekeh garing. "Makasih, tapi sayangnya gue gak bawa recehan."
"Uang kertas juga mau kok, Ra. Itu... yang gambar presiden," cengir Satriya.
"Idih, matre lo!"
"Ya gak apa-apa dong."
"Katanya sultan, kok malak?" sindir Raya.
"Asalkan sama lo gue rela jadi rakyat jelata, Ra."
"Gue gak mau lah jadi rakyat jelata, wlee... " Raya menjulurkan lidahnya meledek Satriya.
Satriya gemas sekali dengan gadis di depannya ini usahanya untuk menjadi raja gombal gagal. "Lo baper dikit kek kalau gue gombalin!"
Beberapa detik kemudian Raya memasang wajah datar. "Aduh, Sat... gue blushing, jantung gue deg-degan. Terbang gue, Sat." Gadis itu berpura-pura memegang pipi dan dadanya setelah itu tertawa lebar menggoda Satriya.
Satriya tahu itu cuma pura-pura. Lantas laki-laki itu memutar matanya malas. "Mana ada blushing bilang-bilang? Gak ikhlas lo."
Raya tergelak senang bisa membuat Satriya kesal. "Lagian lo ngapain sih gombalin gue?"
"Ya karena gue suka sama lo."
"Ya kalau gak suka gak mungkin lo mau jadi temen gue, kali...."
"Maksudnya suka sebagai laki-laki ke perempuan, Ra. Gue mau sebuah status yang bisa membuat gue berhak jagain dan lindungin lo. Gue suka beneran sama lo, Ra... Ini serius. Gue mau jadi penopang di kehidupanlo."
Raya mencoba mencari celah kebohongan di mata Satriya. Tapi dia tidak menemukan. Apa iya Satriya tulus? Tapi Raya tak punya perasaan lebih pada Satriya. Atau lebih tepatnya Raya tidak bisa membaca perasaannya sendiri.
"Tapi gue bukan benalu, Sat... Gue gak mau jadiin siapapun penopang gue. Gue masih punya akar sendiri yang bisa menguatkan gue."
Tangan Satriya yang tak bisa diam tiba-tiba menumpukannya diatas tangan Raya yang sedang memegang pembatas merasakan dingin yang mulai menjalar. "Lo bukan benalu, Ra... Lo itu bunga matahari yang tetap bersinar meskipun dibawah terik mentari. Lo istimewa buat gue."