"Ikhlas, layaknya langit yang menjatuhkan hujan pada bumi."
🍂
Satriya menggeleng kecewa pada Raya. Gadis itu enggan mengucap sepatah katapun yang mampu melegakannya. Yang dia lakukan hanya menangis tanpa suara.
Bukannya luluh, Satriya justru jenuh melihat Raya yang mendadak menjadi gadis lemah. Tak seperti Raya yang dia kenal sebelumnya. Berusaha terlihat baik-baik saja meskipun di dalamnya menyimpan luka.
"Gue keluar dulu. Lo butuh istirahat," ucap Satriya dengan dingin. Dia tidak mau sampai kelepasan berkata kasar pada Raya. Meskipun sedang kecewa, dia tidak ingin menyakiti siapapun. Terlebih pada gadis yang sangat dia cintai.
Raya melepas genggamannya perlahan membiarkan Satriya pergi. Tangisnya semakin pecah setelah Satriya benar-benar menghilang dari hadapannya. Bahunya bergetar hebat seraya menahan isakannya agar tak terdengar.
Kedua tangannya memegangi kepalanya yang semakin berdenyut ketika memaksakan diri untuk berpikir keras. Dia tidak mau siapapun ikut campur dalam masalah pribadinya, termasuk Satriya. Tapi, melihat Satriya yang kecewa karena merasa tak dianggap, Raya semakin dilema.
Masalah terbesar Raya bukan dari siapapun. Melainkan dari dirinya sendiri yang tidak bisa tegas setiap mengambil keputusan. Masalah yang terjadi padanya dan Satriya membuatnya yakin kalau Satriya lebih baik bersatu dengan Aurel.
Dan benar yang diakatan Syakila, dia bukan apa-apa bagi Satriya. Tak kuat menahan beban di kepalanya, Raya perlahan membaringkan tubuhnya kembali dengan ringisan kesakitan.
"Sudah merasa lebih baik?" Kedatangan seorang dokter pria paruh baya menghentikan pikirannya. Untung saja dia sempat menghapus air matanya sebelum dokter itu masuk.
"Sudah, Dok. Saya boleh pulang?"
Dokter itu menggeleng. "Belum. Kamu harus istirahat total."
"Tapi, saya sudah tidak apa-apa, Dok."
"Saya periksa dulu kondisimu. Apa yang kamu rasakan?" tanya dokter itu seraya memasang menset pada lengan Raya guna memeriksa tekanan darahnya.
Raya menggeleng. "Tidak ada, Dok. Saya tidak merasakan apa-apa. Cuma kecapekan saja."
"Jangam bohong sama dokter. Kalau kamu tidak jujur, bagaimana saya memberikan solusi?"
Raya menggigit bibir bawahnya takut-takut. "Tapi, dokter jangan beri tahu siapa-siapa ya?"
"Kamu tenang saja, dokter sangat menjaga privasi pasiennya."
Raya mengehela napasnya lega. Saya sering merasa lambung saya perih, rasanya sering mual gitu, Dok. Terus sering ngerasa deg-degan sama gemeteran."
Dokter itu mengangguk paham seraya melepas menset dari lengan Raya.
"Tekanan darahmu 140/90 cukup tinggi. Kamu suka mengonsumsi obat-obatan pereda nyeri?"
Raya mengangguk. Dokter itu seperti cenayang yang tahu apa yang dia lakukan.
"Kamu meminumnya untuk apa?"
"Saya terpasa, Dok. Saya nggak kuat setiap kepala saya kambuh. Rasanya seperti ditarik sampai dalam."
"Kamu masih sekolah?"
Raya mengangguk guna mengiyakan pertanyaan dokter itu.
"Kasih tahu orang tua kamu kalau kamu perlu melakukan tindakan Endoskopi dan CT-scan untuk memastikan penyakit di pencernaanmu dan kelenjar tiroid."
KAMU SEDANG MEMBACA
SAGARA (End)
Fiksi Remaja[Masih berantakan karena proses Revisi] Satriya hanya melihat Raya sebagai gadis yang menyukai Galang. Gadis itu sangat menjaga privasinya sampai tak ada yang tahu permasalahan sekecil apa pun yang menimpanya. Lambat laun Satriya semakin menemukan h...
