57. Dia Telah Berubah

674 79 9
                                        

"Jangan sampai kata maaf kehilangan maknanya karena terlalu sering diucapkan."
🍂

Raya duduk bersandar di kasurnya tak berhenti memegangi kalung berbandul berlian yang diberikan Satriya. Akhir-akhir ini dia seperti memenangkan lotre. Pasalnya semua laki-laki yang dia sayang memberinya hadiah tak terduga. Bahkan harganya tak main-main. Meskipun gelang yang diberikan Dimas sederhana itu pun juga temasuk mahal bagi Raya karena terbuat dari emas putih.

Kehidupan Raya akhirnya membaik seperti di sinetron-sinetron yang setelah melalui hal pedih berakhir bahagia. Sakit kepalanya pun tak sering kambuh seperti sebelum-sebelumnya yang kambuh hampir setiap malam. Memang benar yang dikatakan orang-orang jika sakit itu tergantung dari pikiran dan perasaan.

Gadis itu tersenyum mengingat kebersamaannya bersama Satriya. Dia tak pernah menyangka akan memiliki kisah cinta yang manis dengan seorang pria. Itu sangat jauh dari ekspetasinya. Semua itu juga bukan mimpi.

Raya juga tak sabar besok akan bertemu dengan teman masa kecilnya dan rasa penasarannya pada teman kecilnya itu akan terbayar.

🍂

Meskipun sudah dikatakan lulus murid kelas XII SMA Cendana tetap masuk di hari-hari tertentu untuk mengurus berkas-berkas mereka sebagai persyaratan melamar pekerjaan atau melanjutkan kuliah. Dan seperti biasa ketika ingin menemui Galang Raya harus berangkat pagi-pagi sekali. Dia tidak ingin Satriya mengetahuinya.

Perjuangan untuk bertemu dengan Galang sangat keras bagi Raya. Dia juga harus membujuk Juan untuk mau mengantarkannya. Juan yang memang bawel pada Raya tak berhenti bertanya kenapa tidak berangkat dengan Satriya. Dan Raya harus mati-matian memutar otak untuk itu.

Raya tengah berlari menyusuri koridor-koridor sekolah seraya tangannya sesekali merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angin karena Juan mengendarai motornya kebut-kebutan. Sampai akhirnya langkah Raya berhenti di anak tangga teratas menuju rooftop.

Raya melihat Galang sudah berdiri memunggunginya. Dia tak sabar dengan berita baik yang dibawa Galang. "Galang?" sapa Raya untuk pertama kalinya. Dia masih saja gugup ketika bertemu Galang. Tapi, Raya yakin itu hanya gugup biasa bukan perasaan cinta karena saat ini hati dan pikirannya hanya terisi oleh nama Satriya.

Galang pun membalikkan badannya dan menarik senyuman lurus sangat manis dengan mata menyipit. Senyuman itu yang dulu membuat Raya jatuh cinta pada Galang. Dia laki-laki yang penuh karisma. Raya perlahan melangkahkan kakinya mendekati laki-laki iti. "Sekarang lo kasih tahu siapa pemilik gelang itu dan apa hubungannya sama lo?"

Galang pun mengeluarkan gelang yang dimaksud Raya dari dalam saku kemeja sekolahnya. Dia menunjukkan pada Raya jika gelang itu sudah kembali ke tangannya. "Gue Aga. Maafin gue yang nggak bisa jaga gelang persahabatan kita. Gue biarin Arka ngerebutnya dari gue. Dan sekarang gelang ini udah kembali ke gue."

Galang tersenyum ketika memberikan penjelasan pada Raya. Tapi, sebaliknya Raya jutru dibuat terkejut oleh cerita Galang. Jadi, selama ini Raya menyukai sahabat kecilnya. Raya tak pernah menyangka sampai ketika dia melihat Galang berebut gelang dengan Arka. "Kenapa lo nggak bilang dari awal kalau lo kenal gue dan kenapa Arka ngrebut gelang itu dari lo?"

Pertanyaan itu sudah dipikirkan Galang. Dia sudah menyiapkan semua jawabannya. "Gue awalnya mau negur lo ketika mos. Tapi, gue lihat lo kayaknya nggak kenal gue. Dan gue kira lo udah lupain persahabatan kita dulu."

Raya sejenak mengingat masa-masa mosnya di mana dia pertama kali terpesona dengan Galang karena mereka saling melihat dari kejauhan. Sejak saat itu perasaan cintanya pada Galang tumbuh, tapi dia belum menyadarinya. Hanya sebatas kagum dengan karismanya.

SAGARA (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang