DON'T COPY MY STORY
"Kok lo udah kayak orang cemburu aja. Jangan-jangan lo ada rasa sama gue? Kalau iya, langsung belok kanan aja!" kata Mike sedikit keras.
Dahi Via mengernyit bingung, "Belok kanan? Kemana?"
"Ke KUA dong. Kalau belok kiri lurus wae...
Melihatmu seperti ini membuatku ingin merubahnya. Perlahan tapi pasti
-MIVI-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mike menuruni tangga dan berjalan menuju meja makan. Niatnya untuk menghindari bertemu dengan papinya gagal sudah. Dia bahkan rela mendapat risiko telat ke kampus tapi usahanya malah sia-sia.
"Papi denger kamu udah ada pacar."
Belum sempat Mike duduk perkataan Wawan membuatnya mengurungkan niat. Dia kembali berdiri tegak dan menatap Wawan yang masih sibuk dengan kegiatan sarapannya.
"Emangnya kenapa?"
"Putuskan dia."
Mike mendengus mendengar perintah papinya. Lagi-lagi dirinya dikekang dan disetir. Apa papinya pikir dia itu seperti mobil?
"Mi, Mike berangkat ke kampus."
Ratna berusaha mencegah Mike untuk pergi mengingat putranya itu belum sarapan. Tapi perkataannya tidak didengar oleh Mike. Dia tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Harusnya kamu jangan kayak gitu, Mas! Mike itu udah besar, biarin dia mau pilih jalan hidupnya sendiri. Biarin dia cari pasangannya sendiri."
Wawan menatap Ratna tajam, "Tahu apa kamu soal pasangan dan jalan hidup?! Diam saja dan bujuk Mike untuk mau memutus pacarnya. Itu tugasmu!"
Laki-laki itu bangkit dan menggebrak meja kasar. Dia meninggalkan Ratna yang kaget akan perkataannya barusan.
Mike masuk ke mobil dan menancapkan gas melewati Mika yang sengaja menunggunya di depan pintu gerbang rumah. Perempuan itu hanya bisa menatap kepergian mobil Mike dengan bingung.
"Itu anak kenapa? Pasti berantem sama Om Wawan lagi, deh."
Kalau begini dia terpaksa harus berangkat sendiri. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Dia merogoh tasnya dan mengambil benda pipih itu.
Via Sayang is calling ...
Segera Mika mengangkat panggilan itu. Tumben sekali pagi-pagi sudah menelepon. Paling mau numpang berangkat ke kampus.
"Kenapa?"
"Berangkat belum?"
"Belum."
"Tunggu gue, lagi otw ini."
Panggilan diputus sepihak oleh Via. Mika menatap ponselnya yang mati dengan dahi berkerut. Itu artinya Via akan menjemputnya. Tumben anak itu tidak malas mengendarai mobilnya sendiri.
Jam menunjukan pukul setengah sepuh tapi Via belum juga datang. Mereka ada kelas jam 10 nanti. Kalau seperti ini bisa-bisa mereka akan terlambat dan tidak bisa ikut kelas.
Lima menit kemudian terdengar suara motor metik yang mendekat. Mika menatap pengendara motor itu heran. Setelah motor berhenti tepat di depannya, pengendara motor itu melepas helm dan tersenyum lebar.