14. Demam

14.4K 1.1K 74
                                    

"Pa, aku bukan jalang," lirihnya.

Jambakan dari rambut Vega tak kunjung dilepaskan membuat kepala gadis itu berdenyut nyeri. Riska mendorongnya dengan kasar hingga membuat kepalanya membentur tembok dengan keras, Vega merasakan sesuatu keluar dari dahinya. Darah, Riska mendorongnya hingga membuatnya terluka.

Susah payah Vega meminta maaf dengan cara bersujud di depan Riska sambil memegang kaki perempuan itu.

"Maafin, Vega Bun. Aku berani sumpah kalau aku beneran kerja," ucap Vega diiringi isak tangis yang memilukan.

Reno melepas gespernya, ia mengambil alih Vega dari Riska. Dirinya sangat kesetanan, ia menyeret paksa Vega menuju kamar mandi. Bahkan ia tidak mempedulikan Vega yang terus meronta.

"KAMU BERANI JAWAB YA?!"

CTAK

"ARGH, SAKIT PA, hentikan Pa, ini sakit." Vega terisak dan terus memohon saat Reno dengan teganya memukul kedua kakinya menggunakan gesper, padahal kakinya masih sakit tapi Reno tak mempedulikan hal itu. Vega hanya bisa pasrah saat Reno masih memukuli dirinya, sekarang beralih di punggung. Ini sangat menyakitkan dan melelahkan bagi Vega, di saat seperti ini ia ingin pingsan.

Badannya benar-benar sakit saat Reno tak kunjung menghentikan aktifitasnya. Ini sudah lima belas menit, selama itu pula Vega hanya bisa berteriak kesakitan dan meminta Reno untuk berhenti.

Sayup-sayup matanya terbuka, ia melihat Reno yang memunggunginya, Vega berusaha berdiri walau kakinya sangat sakit, darah merembet dari seragamnya. Vega hanya tersenyum simpul, setidaknya Reno sudah selesai memukulnya itu saja sudah membuat Vega sedikit lega.

Plakk

Reno berbalik dan menampar pipi Vega hingga membuat sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah.

"APAPUN ITU SAYA TIDAK PEDULI. JANGAN SEBUT SAYA PAPA KARENA SAYA TIDAK MAU MEMPUNYAI ANAK SEPERTIMU, KAMU ITU PEMBAWA SIAL! ANAK GAK GUNA! GAK TAU DIUNTUNG! SAYA BENCI KAMU, SEKALIPUN KAMU MATI SAYA GAK AKAN PERNAH PEDULI PADAMU!!"

Sangat sakit, Vega menangis dengan terisak. Hati dan fisiknya sakit, Vega tidak tahu harus berbuat apa. Apa memang sudah saatnya ia mati? Ia memerosotkan tubuhnya, meringkuk di dalam kamar mandi dengan terisak. Ia mengambil serpihan kaca dan mulai menggoreskan lengannya, badannya sakit semua hatinya apalagi. Mengapa ia tidak pernah merasa bahagia? Vega sangat benci hidupnya, sejak kecil ia tidak tahu apa yang membuat mereka semua membencinya.

"Gue harap tamparan papa tadi adalah tamparan kasih sayang," ujar Vega bermonolog.

Hari ini adalah hari di mana Vega sangat terpuruk. Kakinya sulit untuk digerakkan, punggungnya juga. Bahkan ia tidur dengan cara membalikkan badannya.

Vega merebahkan dirinya di atas kasur. Kedua kakaknya belum pulang, apa sebentar lagi mereka akan memperlakukan mereka sama seperti dengannya? Vega menggeleng, tidak mungkin orang tuanya mau memukul kedua kakaknya.

Ia melihat pantulan wajahnya di cermin.

"Seperti monster," gumamnya.

Mata sembap, pipi bengkak karena tamparan kedua orang tuanya, bercak darah yang ada di sudut bibirnya membuat Vega menatap dirinya iba. Sampai kapan ia harus bertahan dengan rasa sakit yang sama?

Vega berjalan menuju dapur karena dirinya haus. Ini sudah jam dua belas, ia melihat kedua kakaknya yang baru saja memasuki rumah. Vega melihat reaksi kedua orang tuanya, mereka menyambut kedua kakak nya dengan baik. Hal itu membuat dada Vega merasa sesak, apa ini yang dinamakan keluarga?

"Kenapa baru pulang, hm?" tanya Reno sambil memeluk puterinya dengan penuh kasih sayang.

Vega menatap mereka iri, mengapa hanya sebatas pelukan kepadanya Reno selalu tidak mau?

I'M LONELY (REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang