Bahagia dia, bahagiaku juga.
Masih dengan mata terpejam, sudah tiga hari lamanya Vega koma. Tidak ada tanda-tanda gadis itu akan membuka mata, selama itu pula Reno terus berada di samping Vega. Menanti puterinya yang tak kunjung membuka mata. Rasa penyesalan berhari-hari, dengan brengseknya ia membuat Vega menderita. Semua kilatan itu terus terngiang, isakan pilu Vega saat Reno memukulinya habis-habisan di gudang. Reno tidak pantas mendapat kata maaf, ia benar-benar ayah yang buruk.
Menangis pun terasa percuma, Reno hanya bisa menyesali perbuatannya.
Kini dirinya hanya menunggu mukjizat yang diberikan Tuhan. Detak jantung Vega sangat lemah membuat Reno semakin tak tega untuk melihatnya.
Seseorang memasuki ruang rawat Vega membuat Reno menoleh. Pria itu tersenyum saat melihat beberapa teman Vega termasuk Archer di sana. Reno mempersilahkan mereka masuk.
Alesta, Mauren, Gavina, Archer, Abim, Gean, dan Vauzan berjalan beriringan. Mereka tidak menyangka hal ini akan terjadi pada Vega, mereka turut prihatin atas semuanya.
"Om permisi dulu," pamit Reno kepada mereka semua.
"Iya, Om," jawab mereka.
Alesta menatap prihatin sahabatnya yang kini tengah terbaring lemah di atas brangkar. Alesta tidak sanggup melihat keadaan Vega yang seperti ini, bagaimanapun juga ia sudah menganggap Vega sebagai saudaranya sendiri.
"Bangun Ve," ucap Alesta pelan.
Gavina dan Mauren menyuruh Alesta untuk tenang, jujur mereka semua sangat merindukan Vega. Mereka merindukan Vega karena gadis itu yang pandai mencairkan suasana.
Tanpa sadar jemari lentik Vega mulai bergerak, hal itu membuat atensi Archer beralih memperhatikan Vega. Lelaki itu lantas berjalan menghampiri Vega yang masih memejamkan matanya.
Dengan perlahan Vega membuka matanya, gadis itu menatap sekelilingnya dan tersenyum saat mendapati Archer yang juga ada di sana. Tapi senyumnya memudar kala Archer tetap memasang wajah datarnya tanpa membalas senyuman Vega. Bahkan setelah Vega membuka matanya dengan sempurna Archer memilih untuk keluar dari ruangan.
"Vega udah sadar!" pekik Vauzan dengan suara melengkingnya, hal itu membuat Gean langsung memukul belakang kepala Vauzan agar diam.
"JAN!" tegur mereka semua, sementara Vauzan langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum kikuk.
"Iya-iya maap, gue panggilin dokter ya?" tanya Vauzan.
"Em, gak usah," jawab Vega lirih.
Alesta langsung menyodorkan sebuah gelas yang berisikan air minum dan membantu Vega untuk minum. Sementara Gavina dan Mauren membantu Vega untuk menyandarkan kepala gadis itu ke kepala brangkar.
Vega tersenyum saat melihat Abim yang melingkarkan tangannya pada pinggang Alesta dengan posesif. Tanpa ditanya ia sudah tahu jawabannya, sudah pasti mereka berdua jadian.
Sadar akan sesuatu ia menghela nafas kecewa. Vega sudah tidak sanggup lagi melihat tatapan Archer yang seperti itu, mengapa semua sulit? Padahal Vega hanya ingin melupakan lelaki itu tapi tetap tidak bisa.
"Bisa tolongin panggilin Archer dan tinggalin kita berdua?" pinta Vega, matanya berkaca-kaca.
"Yaudah, lo sembuh kita harus quality time! Gue gak mau tahu!" ucap Alesta dengan songongnya.
"Alesta mah gitu, Vega biar sembuh dulu atuh," ucap Gavina sedikit protes.
"Ya gue tahu dodol!" ucap Alesta ngegas.

KAMU SEDANG MEMBACA
I'M LONELY (REVISI)
Ficção AdolescenteIni adalah kisah Vega Aurora. Namanya indah namun tak seindah kehidupannya. Vega tidak pernah dianggap, ia selalu terbuang. Vega ingin bahagia, tapi mereka tidak pernah peduli. Salahkah ia berharap keluarganya berubah? Mungkin itu hanya semu, nyatan...