Satria
Menikah bukan hanya tentang hubungan dua manusia, bukan hanya sekedar membahas mau bulan madu kemana, mau punya anak berapa atau mau tinggal di mana. Tapi ada hal yang jauh lebih penting dan utama dari itu semua, bukankah menikah itu untuk menyempurnakan separuh agama?
Hal yang lebih utama dari pernikahan adalah bagaimana membawa hubungan dua manusia ini menjadi lebih baik di hadapan Allah, bagaimana membuat dua manusia ini menjadi pribadi yang lebih taat pada Sang Pencipta.
Aku sangat sadar, aku masih jauh sekali dari yang namanya taat. Semua hal yang terjadi belakangan ini membuat aku sadar, bahwa aku harus bisa menjadi pribadi yang lebih baik karena tanggungjawabku saat ini bukan hanya untuk diriku sendiri tapi juga untuk istriku.
Ada sebuah istilah dalam bahasa Jawa untuk seorang istri pada suaminya 'suargo nunut, neroko katut.' Surga atau nerakanya istri itu tergantung suaminya. Dari situ aku seperti mendapat tamparan keras, aku mencintai Mutia dan tidak mungkin ingin dia terjerumus karena ketidak taatanku, aku berharap Mutia tidak menyesal karena memilihku sebagai suaminya.
"Kak, ayo! Aku udah siap."
Acara siraman rohani untuk diriku sendiri berakhir karena panggilan Mutia, aku yang sedang menikmati pemandangan kota Semarang lewat balkon apartemen langsung bergegas masuk menghampiri Mutia.
Langkahku terhenti melihat pemandangan yang tak kalah indah di depanku. Aku gak tau harus bereaksi seperti apa melihat Mutia berdiri di depan pintu kamar dengan anggunnya. Senyum manisnya terus tercetak di wajahnya, menambah sempurna cantiknya.
Bukan hanya yang membuatku takjub sampai tidak bisa berkata-kata, tapi Mutia yang sudah rapi dengan baju biru dan jilbab senada. Rasanya aku gak akan pernah bosan bilang dia cantik.
"Gak pantes ya Kak?" Tanya Mutia sambil menilai penampilannya sendiri.
"Cantik."
Mutia malah tertawa sambil menutup wajahnya, aku melangkah mendekatinya.
"Kok aku jadi gak pengen keluar, gak ikhlas ada pria lain yang gratis liatin kamu cantik gini."
"Jangan mulai deh! Orang lain juga gak mungkin khilaf mau sama aku seperti kamu!"
"Kok khilaf? Aku sadar kali Ya milih kamu, sepenuh hati segenap jiwa."
"hemmt.. Memang ya, buaya itu diam-diam menghanyutkan."
"Kok buaya sih? Ini ungkapan cinta dari hati yang paling dalam lho.."
"Iyaaaa!! Jadi berangkat gak ini?"
"Jadi dong!!"
Aku buru-buru memakai sepatuku dan segera menyodorkan lenganku untuk istri tercinta. Aku dan Mutia berjalan dengan canda tawa yang terus menghiasi langkah kita. Alhamdulillah
Sore ini aku mengajak Mutia untuk menjenguk kakeknya Dito. Sejak kemarin aku chattingan dengan Dito, katanya sang kakek opname dan baru hari ini pulang.
"Kita gak bawain apa gitu Kak?"
"Pantesnya bawa ya? Beli buah aja gimana?"
"Boleh. Sekalian aku mau beli alpukat, Kak. "
"Kami kok suka banget sama alpukat? Kalau aku kok enggak!"
"Ya emangnya ada buah yang kakak suka? Gak ada perasaan!"
"Haha.. Ada lah! Buah hati!"
Mutia tiba-tiba memasang wajah bersalah, aku buru-buru mencubit pipinya.
"Bercanda, Sayang!"
"Eh bukan bercanda tapi beneran, tapi nanti setelah kamu wisuda!"
"Haha, banyak amat 'tapinya'!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Come Back!
RomancePuncak kangen paling dahsyat adalah ketika dua orang tak saling menelepon tak saling sms bbm-an dan lain-lain tak saling namun diam-diam keduanya saling mendoakan. _Sujiwo Tedjo_
