Motor melaju membelah jalanan yang sudah lumayan sepi, senja menjemput di penghujung matahari. Dan alvin juga sudah mengambil pesanan kue mamanya. Sampai d rumah langsung di sambung dengan bau masakan yang khas khususnya.
"Alvin pulang" teriaknya sambil melepaskan sepatu.
"Sayang, udah pulang. Gimana sekolahnya?" ujar mama alvin sambil mencium pipi anak laki lakinya tersebut.
"Lumayan menyenangkan namun di tutup dengan kejadian tak mengenakkan" jujur alvin sambil mulai berjalan ke kamarnya.
Mama alvin hanya tersenyum dan melanjutkan acara masaknya untuk makan malam.
Alvin membersihkan diri dan bersiap untuk turun berjalan dengan pakaian santainya. Sampai di meja makan di sambut dengan keadaan makan malam yang rame. Kenapa rame? Karena abang sepupunya datang dan tentu membuat keributan jika sudah beradu argumen dengan papa.
"Malam semua" alvin duduk di kursinya.
"Malam sayang, ayo makan" ajak mama alvin. Tanpa memperdulikan alvin, Rizal dengan papanya masih saja beradu argumen.
"Tapi ya om kita harus berjuang un-" ucapan rizal di potong cepat oleh alvin
"Udah jangan berntm mulu, ayo makan aku udah laper" potongny.
"Ya elah lu vin, kaya ngga biasa aja denger gua berntm sama om" ejek rizal.
"Ayo ayo makanannya udah siap, ayo makan" lerai mama alvin.
Mereka semua makan dalam diam karena itu sudah jadi peraturan di keluarga alvin. Alvin makan dengan lahap dan selesai duluan.
"Aku selesai" ujar alvin.
"Vin, nnti rizal tidur di kamar kamu ya, soalnya kamar tamu belum mama beresin" -mama alvin sambil membereskan piring piring kotor.
"Iya ma, ayo aku bantu cuci piringnya" jawab alvin, mama alvin tersenyum dan berjalan membawa piring kotornya alvin mengikuti dari belakang.
Selesai semuanya alvin naik ke kamarnya lagi dan mendapati rizal rebahan di kasurnya.
"Ck bang, geseran sana" ujar alvin
"Apaan sih, lu ko sensi banget hari ini tumbenan" balas rizal kesal.
"Gapapa, oh iy lupa" alvin mengingat sesuatu yang belum dia selesaikan. Berjalan menuju meja belajar dan melanjutkan menyalin catatannya untuk ina.
"Ina? siapa itu? " tanya rizal yang sudah berdiri di samping alvin mengintip. Alvin langsung menutup bukunya dan berbalik dengan muka marah.
"Abang! Jangan ikut campur, sana tidur aja" marah alvin.
"Waw, gua cuma pen tau vin. Ga bakalan gua ambil juga dianya" balas rizal santai.
"Diem!" teriak alvin.
"Alvin, kenapa sayang?" tanya mama alvin yang tadi mau mengantarkan susu untuk mereka berdua.
"Ini ma, alvin kayanya lagi ngerjain tugas pacarnya deh" celetuk rizal santai.
"Apaan sih bang, jangan macem macem dong" gerutu alvin membuat mamanya terkekeh geli.
"Oh iya, yang kamu bilang mau bawa ke rumah kemarin kenapa ga jadi jadi sayang" ujar mama alvin meletakkan susu di nakas.
"Eemm itu apa,, eemmm" gugup alvin.
"Alvin punya pacar ma? Anjir siapa yang berhasil membuat alvin yang polos ini mengenal kata pacaran?" tanya rizal mengejek.
"Husss kok gitu sama adenya sendiri" tegur mama alvin.
"Bercanda ma" balas rizal, emang dia sudah biasa memanggi mama alvin dengan sebutan mama. Tapi untuk papa alvin dia ga bisa katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BECAUSE IT'S YOU [END]
Teen Fictionkenapa rasa sayang bisa terbagi? bagaimana mencegah rasa sayang tersebut agar tak ada yang tersakiti? kenapa seseorang harus di berikan pilihan yang sangat sulit... ayo baca^^
![BECAUSE IT'S YOU [END]](https://img.wattpad.com/cover/216091208-64-k830830.jpg)