"Saya terima nikah dan kawinnya Graciana Prillyana James binti Adam Cornelius James dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Gimana para saksi, sah?"
"SAH."
"Alhamdulillah, silahkan mempelai wanita mencium tangan suaminya."
Dengan perasaan gugup Prilly meraih lembut punggung tangan Ali, kemudian di tempelkan pada bibirnya. Ali tersenyum tipis tak lupa memberikan kecupan singkat di kening perempuan yang sudah menjadi istrinya.
Dua hari setelah pulang dari rumah sakit, baik keluarga Ali maupun keluarga Prilly mereka sepakat untuk mengadakan pesta pernikahan kecil-kecilan, hanya ada para keluarga dan beberapa saksi yang hadir di sana. Jangan di lupakan juga para sahabat Ali, mereka juga ikut hadir di acara itu.
Masalah sekolah Prilly, untuk sementara dia masih masuk sekolah selama perutnya belum terlalu terlihat. Jika sudah terlihat, terpaksa dia berhenti sekolah.
"Aku nggak nyangka kamu duluan nikah, jadi pengen nyusul juga." Ucap Arkan sambil terkekeh renyah.
"Jangan nyusul dulu, sekolah yang bener. Kejar impian kamu jangan mainin cewek aja." Kata Prilly.
Dengan gemas Arkan mencubit pipi Prilly. " Siyap Princess. Tapi kalau ada yang cocok sekarang kenapa enggak."
Melihat kedekatan Arkan dan Prilly membuat api cemburu Ali menyala. Cowok itu berdehem cukup keras.
"EKHEM."
"Aku kesana dulu ya, suami kamu udah keluar tanduknya tuh."
Prilly tersenyum geli.
"Jagain sepupu gue, awas aja kalau sampai lo sakitin lagi." Peringat Arkan pada Ali.
"Tenang aja! Gue bakal jagain dia sebaik mungkin." Ucap Ali seraya merengkuh pinggang mungil Prilly.
"Wess pak bos kita diam-diam udah bikin anak aja." Oceh Aksa.
"Kalah cepat kita." Sahut Leon.
"Padahal yang sering praktek kan gue tapi yang jadi malah Ali sama Prilly." Timpal Rian dengan wajah polosnya.
Revan menggeplak kepala Rian gemas. "Banyak orang dewasa kambing, ngomongnya di filter dikit kek." Gerutu Revan kesal.
"Lah emang kita nggak dewasa gitu, lagian kita juga udah delapan belas tahun. Bebas dong mau ngapain aja dan nonton apa aja." Sahut Rian.
"Serah lo serah! Mau bikin anak seratus juga gue nggak peduli." Kata Revan seraya berjalan menjauh dari Rian.
"Oh iya ini pak bos gue punya kado khusus buat kalian." Ucap Leon seraya menyerahkan kado yang ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Ali menerima kado itu. "Apaan nih? Iphone terbaru atau kunci motor?"
Leon tersenyum geli. "Hehe, bukan pak bos. Itu peralatan buat nanti malam, jangan lupa di pakai ya." Setelah itu Leon beranjak pergi menuju makanan yang sudah di siapkan.
"Jangan kasar-kasar nanti Li, kasian anak sama bini." Ucap Aksa.
"Nih kado dari gue, semoga berguna." Kata Nio sambil menyerahkan kado itu kepada Ali.
"Prill, kalo ada apa-apa jangan sungkan buat minta tolong sama kita. Mulai sekarang lo juga bagian dari Vagos." Sambung Nio.
Prilly tersenyum tipis. "Makasih ya kak." Setelah itu Nio mengangguk lalu ikut menyusul Leon.
Rian menepuk pundak Ali. "Jangan lupa pakai banyak gaya nanti malam, gue siap kok dua puluh empat jam kalau lo mau nanya-nanya gaya apa aja." Kata Rian seraya menaik-turunkan alisnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Seorang Badboy
Teen FictionJatuh cinta dengan seorang Badboy bukanlah impiannya. Tapi apa boleh buat jika takdir berkata lain. Berawal dari tabrakan tak sengaja di koridor sekolah hingga menjadi asisten seorang Badboy. Benci jadi cinta adalah hal yang lumrah bagi manusia. Te...
