Jatuh cinta dengan seorang Badboy bukanlah impiannya. Tapi apa boleh buat jika takdir berkata lain. Berawal dari tabrakan tak sengaja di koridor sekolah hingga menjadi asisten seorang Badboy.
Benci jadi cinta adalah hal yang lumrah bagi manusia. Te...
Ali terus menyalahkan dirinya atas apa yang sudah terjadi. Belum cukup sampai di situ, Ali juga tidak masuk sekolah dan tidak ikut berkumpul dengan teman-teman nya.
Dia menghabiskan waktunya hanya untuk berdiam diri di kamar dan terus berteriak frustasi. Sesekali dia meremas rambutnya dan menampar dinding dengan keras tanpa perduli rasa sakit dan darah yang keluar dari tangannya.
Habis dari sekolah Prilly pulang ke apartemen hanya untuk mengambil beberapa keperluannya.
Prilly masuk ke apartemen dalam keadaan bingung, kenapa semua jendela bahkan pintu balkon pun tertutup, seperti tidak dibiarkan sedikit cahaya pun masuk.
"Kaya nggak ada kehidupan aja." Gumam Prilly seraya membuka tirai dan pintu balkon, berniat mengizinkan udara untuk masuk ke dalam ruangan ini.
Klek.
Hal pertama yang Prilly lihat adalah gelap. Kamar tempat dia dan Ali tidur gelap gulita, bahkan keadaannya hampir sama dengan apa yang terjadi di luar. Jendela di dekat meja belajar tak terbuka.
Prilly menyalakan lampu lalu menatap sekitar. Dengan wajah datar dia melihat Ali yang sedang tertidur dengan tangan yang sedang memeluk figura.
"Gini yang pantes di sebut suami? Nggak berguna banget!" Cibir Prilly lalu berlalu menuju lemari.
Lampu yang menyala membuat Ali merasa silau. Dia membuka mata perlahan-lahan lalu menyesuaikannya. Ali melihat Prilly yang nampak seperti sedang mengemasi baju-baju ke dalam tas.
"Kamu mau kemana?" Kata Ali dengan suara serak.
"Minggat!"
"Jangan kaya gini lah Prill, aku tau kamu benci aku tapi jangan sampai lari dari masalah kaya gini."
Prilly tak menjawab.
"Jangan bikin semua orang tau dengan masalah kita."
Prilly menghempaskan secara kasar tasnya lalu menatap tajam Ali. "Aku nggak sudi tidur satu ranjang sama kamu." Ucap Prilly dengan penuh penekanan.
Ali memejamkan matanya sehentar, menahan rasa sakit yang dia terima dengan lapang dada.
"Kalau itu mau kamu, aku bakal tidur di sofa dan kamu di kamar. Asal kamu jangan berniat pergi dari sini atau minggat ke tempat lain."
Prilly tersenyum sinis. "Bahkan sekarang aku nggak tau sudi atau nggak buat serumah sama kamu."
Ali mengusap wajahnya kasar. "Biar aku yang pergi dari sini. Kamu tetap di sini!"
Prilly terdiam.
"Aku akan datang setiap pagi sampai sore buat ngecek keadaan kamu dan anak kita."
"Nggak perlu! Aku bisa jaga diri sendiri."
"Aku tau! Aku percaya kamu bisa ngurus diri sendiri, tapi aku yang khawatir."
"Terserah!" Putus Prilly lalu merapikan kembali baju-bajunya ke dalam lemari. Setelah itu tas yang tadi di berikannya kepada Ali.
"Aku bisa mandi di sini jadi nggak perlu hawa baju." Ucap Ali.
"Buat jaga-jaga kalau sewaktu-waktu kamar aku kunci!" Setelah mengatakan itu Prilly berlalu pergi.
Ali menghela nafas kasar sambil menatap punggung mungil Prilly dengan tatapan sendu. Dia pikir penderitaan nya akan berakhir sekarang, namun bukannya berakhir malah bertambah parah. Dia harus pisah ranjang bahkan hampir pisah rumah dari istrinya sendiri. Sungguh hal yang paling menyakitkan baginya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.